Jumat, 27/05/2022 | 23:42 WIB
Gresik Satu

Aktor yang Berkeliling dan Berproses

Di teras rumahnya, Herman Adhek Nasution (saya biasa memangilnya Om Herman) memperlihatkan album foto dan kliping lama. “Ini foto dan berita tentang pementasan Jing Jong di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tahun 1979,” ucapnya. Waktu itu siang agak mendung menunjuk pukul 14.00 WIB. Sepasang matanya tersirat mengingat kembali masa lalu. Om Herman bercerita ketika dirinya bergabung dengan Teater Keliling tahun 1975.

Om Herman juga bercerita bagaimana dia berproses kesenian di Gresik setelah berpisah dengan Teater Keliling. Dalam proses keseniannya di Gresik, Om Herman berkenalan dengan seniman-seniman Gresik dan bergabung ke dalam beberapa organisasi kesenian. Cerita yang disampaikan Om Herman sepotong-potong, seolah mozaik yang harus saya gabungkan.

“Jing Jong” dipentaskan Teater Keliling di TIM Tahun 1979
Sumber Foto: Herman Adhek Nasution

Aktor Teater Keliling

Teater Keliling merupakan kelompok yang berdiri pada tanggal 13 Februari 1974. Majalah Tempo (No. 51 Tahun VIII 17 Februari 1979) menulis Teater Keliling sebagai kelompok yang menyelenggarakan pementasan ke daerah-daerah. Taktik manajemen Teater Keliling begitu lihai sehingga sejak berdiri telah menjelajahi 250 kota dengan 400 kali pementasan. Selain itu, Teater Keliling pernah berkeliling ke luar Indonesia, seperti Malaysia, Singapura, hingga Muangthai.

Om Herman bercerita, Teater Keliling mampu berimprovisasi untuk setiap pementasan dari tempat ke tempat. Om Herman juga pernah menjadi aktor ketika Teater Keliling memainkan naskah “Wayang” di TIM. Kompas (12 Februari 1979) mereportase pentas “Wayang” dalam adegan Om Herman bersama Lenny Shahreza Yanis sedang berulang-ulang mengucapkan kalimat. Om Herman berucap: “Dan sang beliau jadi malu”; sedangkan Lenny Shahreza Yanis berucap: “Ouh, aku malu!”

Herman Adhek Nasution Pentas Teater Keliling dalam naskah “Kwek Kwek” karya D. Djajakusuma di Bogor Tahun 1978
Sumber Foto: Herman Adhek Nasution

Tahun 1979 menjadi waktu terakhir bagi Om Herman bersama Teater Keliling. Hal ini dikarenakan Om Herman mendaftarkan diri ke salah satu perusahaan di Gresik ketika Teater Keliling di Surabaya. Setelah diterima di perusahaan tersebut, Om Herman berpisah dengan Teater Keliling (saat itu) yang melanjutkan pentasnya ke Australia. Meski berpisah, Om Herman masih berhubungan dengan Teater Keliling. Pada tahun 1995, ketika Rudolf Puspa (sutradara Teater Keliling) diundang sebagai pengisi acara teater Parade Seni W.R. Soepratman, Om Herman turut serta bermain untuk pertunjukan “Konser Raya”.

Dua reportase dari beberapa kliping lama tentang Teater Keliling
Sumber Foto: Herman Adhek Nasution

Tinggal di Gresik

Di Gresik, Om Herman menikahi seorang gadis Gresik yang bernama Lina Rosana (almarhumah). Keluarga ini dikaruniai tiga anak dan beberapa cucu. Mereka menetap di Perumahan Pongangan Indah Gresik. Selama menjadi pegawai dan tinggal di Gresik, ternyata Om Herman tidak berhenti dalam dunia seni. Om Herman tetap berproses dengan seniman-seniman Gresik dan bergabung dengan beberapa organisasi kesenian.

Ketika Lina Rosana semasa hidup dengan keluarga Sumber Foto: Herman Adhek Nasution

Beberapa organisasi kesenian yang pernah diikuti Om Herman, antara lain: Sanggar Seni Petrokimia Gresik, Lesbumi Gresik dan Dewan Kesenian Gresik Biro Teater periode 2011-2016. Dia juga mendirikan Puskesmas (Pusat Kesenian Masyarakat), sebuah kelompok seni yang mengkhususkan untuk pelbagai pertunjukan, seperti teater dan musik.

Di Lesbumi Gresik, Om Herman ikut acara Aksi Kalangan Pesisir di Kelurahan Lumpur Gresik (2001). Sebuah aksi kesenian yang melibatkan beberapa cabang kesenian, seperti musik, hadrah, pencak kembangan, pencak macan, pengecatan perahu, arak-arakan kemanten, dan seni instalasi. Selain itu, Aksi Kalangan Pesisir di Kelurahan Lumpur Gresik memberikan penghargaan kepada pembaca seni tradisi macapat.

Herman Adhek Nasution dalam acara Aksi Kalangan Pesisir tahun 2001
Sumber Foto: Aji

Om Herman pernah menggelar pementasan teater Abu Abu Klan dengan naskah “Manis di Mulut Pecah di Kepala” di Dewan Kesenian Surabaya (2002). Om Herman bertugas sebagai pemberi ide gagasan dan penata musik. Pementasan teater Abu Abu Klan disutradarai H.U. Mardi Luhung.

Dalam prosesnya yang lebih lanjut, Om Herman terlibat pada penjurian lomba sholawat dengan tajuk Festival Kreasi Santri di Pondok Pesantren Darut Taqwa tahun 2004. Om Herman kerap kali menjadi juri di Festival Seni Kreasi Hadrah dan Qasidah Rebana yang diadakan oleh PT Petrokimia Gresik.

Sertifikat Narasumber Herman Adhek Nasution dari Lesbumi Sumatra Utara tahun 2011
Sumber Foto: Herman Adhek Nasution

Tidak hanya penjurian, Om Herman memberikan ilmunya lewat workshop. Salah satunya adalah Workshop Teater, Sinetron, dan Film di Lesbumi Sumatra Utara (2011). Harian Global Metro (8 Maret 2011) mereportase workshop tersebut diperuntukan bagi remaja, pelajar, dan mahasiswa se-Sumatra Utara. Workshop tersebut menjadi bagian dari semarak Harlah ke-85 Nahdlatul Ulama.

 

Catatan:Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

 

Daftar Bacaan

Kompas, 12 Februari 1979

Majalah Tempo, No. 51 Tahun VIII 17 Februari 1979

Jawa Pos, 21 Juli 2002

Harian Global Metro, 8 Maret 2011

Waspada, 9 Maret 2011