Minggu, 03/07/2022 | 19:23 WIB
Gresik Satu
Berita Gres Viral

Anak Yatim Piatu ini Mengaku Sempat Dijual Bapaknya Seharga Satu Juta, Kini Hidup Sebatangkara

Farhan saat dikunjungi Aipda Purnomo polisi youtuber / Foto : istimewa

GresikSatu | Farhan bocah berusia 12 tahun itu masih menahan rasa sakitnya. Tangannya patah usai bermain bola di halaman sekolah. Kini, selama proses penyembuhan, Farhan hanya bisa diam di rumahnya di Dusun Gadukan, Desa Glangang RT 5 RW 2 Kecamatan Duduksampeyan, Gresik,

Kisah hidup Farhan, ternyata memilki segundang cerita sedih. Anak yatim piatu itu pernah dijual bapaknya kepada orang lain, degan harga Rp 1 juta. Namun dilingkungan baru itu, Farhan tidak kerasan. Ia akhirnya mutuskan hidup bersama neneknya Kina (71).

Farhan dan neneknya, saat ini tinggal di rumah sepetak, di lahan milik desa, dengan lebar satu meter dengan panjang 5 meter. Rumah itu tidak punya dapur, dan kamar mandi.

Nenek Kina tidak punya penghasilan. Praktis keseharian mengharap belas kasihan para tetangga. Untungnya biaya sekolah Farhan gratis.

Baca Juga : Berkat Aktif Menulis, Atis Mahasiswa STAI Al-Azhar Menganti Bisa Ikuti Ajang Tingkat Nasional

Guru MI Almunawaroh, Ida Rusdiana mengatakan, sejak dilahirkan, Farhan kerap dirundung sedih. Saat lahir, ibunya meninggal. Saat usia 9 tahun, bapaknya yang sopir mengalami kecelakaan dan meninggal.

“Jadi yatim piatu sejak kecil,” ujarnya, Kamis (16/12/2021).

Diceritakan, bila saat Farhan kecil, sempat diajak bapaknya ke Surabaya. Saat itu, Farhan sempat dijual ke orang Mojokerto. Ironisnya, seharga Rp 1 juta. Namun, setelah empat bulan baru diambil nenek kandungnya, Kina.

“Empat bulan itu Farhan tidak kerasan,” ungkap Ida Rusdiana yang warga Tumapel itu.

Nasib pilu Farhan membuncah, saat bermain bola di halaman MI Almunawaroh. Saat itu, tangannya patah. Praktis yang mengurus semuanya adalah  gurunya, Ida Rusdianan.

“Untungnya semua proses lancar dan dimudahkan,” aku Ida.

Saat ini, lanjut Ida yang dipikirkan, Farhan kelak besar mendapatkan hidup layak. Memang secara akademis tergolong tengah-tengah. Namun, masih bisa dipoles.

“Saat ini menempati rumah sepetak dan dilahan desa. Saya hanya berharap dia tidak lagi kesehariannya mengharap belas iba tetangga,” harapanya. (sah)

Full Day School

Tinggalkan Komentar