Selasa, 09/08/2022 | 21:34 WIB
Gresik Satu
Sastra

Arakan Pengantin di Manyar, Gresik

8400ec73 fbf1 4c0b a8f9 b6024ad2a161

Tetangga saya yang bernama Pak Ayin, pada 16 Juli 2022, mengunggah video arakan pengantin dari kerabatnya di statusaplikasi WhatsApp. Arakan pengantin dalam video itumemperlihatkan pengantin laki-laki (Fizin, anak dari keluarga Bpk. Sholeh) menuju ke rumah pengantin perempuan (Iid, anak dari keluarga Alm. Bpk. Haji Mustajab). Dalam video itu terlihat kembang api yang memancar di langit malam; dan terdengarselawat yang mengkumandang di jalan perkampungan. Tempat video itu berada di Desa Manyar Sidorukun, Manyar, Gresik.

Gresiksatu.com
Pernikahan antara Fizin dan Iid
Koleksi: Fizin dan Iid, 2022

Saya tertarik dengan video itu. Karena, sepasang kekasih yang mengikat janji suci ini adalah orang Manyar (Fizin dari Desa Manyarejo; dan Iid dari Desa Manyar Sidorukun). Lain itu, saya baru mengetahui arakan pengantin di Manyar. Saya juga mengamati dalam video itu bahwa arakan pengantin memiliki formasi. Berikut penyebutan posisi pada formasi yang saya lihat dari depan ke belakang, antara lain: 1, Orang yang menyalakan kembang api; 2, orang yang membawa “sound system”; 4, orang yang berselawat (hadra); 5, sepasang orang yang membawa lampu sedang mengapit pengantin laki-laki; dan 6, keluarga pengantin laki-laki.

Sebenarnya, formasi arakan pengantin di Manyar hampir sama dengan formasi arakan pengantin di Kelurahan Lumpur, Gresik. Tapi, tetap ada perbedaan mencolok, sebab arakan pengantin di Manyar tidak menggunakan Pencak Macan (seni tradisi yang menjadi bagian dari formasi arakan pengantin di Kelurahan Lumpur); serta, arakan pengantin tidak berhenti di pertigaan atau perempatan jalan (tetap berjalan ke rumah pengantin perempuan). Apalagi, orang yang berselawat (hadra) di dalam formasi arakan pengantin di Manyar ternyata berjalan mundur sembari menghadap ke pengantin laki-laki.

Gresiksatu.com
Pencak Macan bagian dari arakan pengantin di Kelurahan Lumpur
Koleksi: DKG, 1998

Cerita dari Pak Ayin

Malam, hampir pukul 10.00 WIB, di pos kamling, Pak Ayin bercerita kepada saya perihal arakan pengantin dari kerabatnya. “Ji, biasanya arakan pengantin dimulai dari rumah pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan. Tapi, rumah pengantin laki-laki berada di Desa Manyarejo, sedang rumah pengantin perempuan di Desa Manyar Sidorukun terasa jauh, maka dua pihak keluarga sepakat memulai arakan pengantin dari Masjid Jamik Manyar, ucap Pak Ayin.

Setelah itu, saya mendengarkan cerita dari Pak Ayin, bahwa setelah pengantin laki-laki sampai di rumah pengantin perempuan, keluarga pengantin perempuan melakukan ramahtamah kepada keluarga pengantin laki-laki. Lalu, sepasang pengantin duduk di kuade pernikahan.

Gresiksatu.com
Keluarga Alm. Bpk. Haji Mustajab melakukan ramah-ramah dengan keluarga Bpk. Sholeh setelah arakan pengantin
Koleksi: Pak Ayin, 2022

Pak Ayin juga bercerita (selain arakan pengantin dari kerabatnya), bahwa di Manyar, ada juga pengantin laki-laki (ketika sedang diarak) melakukan udik-udikan (menebarkan) uang logam. Saya menangkap udik-udikan uang logam sebagai bentuk berbagi kebahagiaan kepada masyarakat yang melihat arakan pengantin.

Hal unik lain ketika saya mendengar cerita dari Pak Ayin ketika dirinya menikahi Bu Ayin. Waktu itu tahun 2003. Kebetulan,Pak Ayin dan Bu Ayin tinggal pada gang yang sama di Desa Manyarejo. Jadi, dalam arakan pengantin, Pak Ayin harus diarak dari rumahnya ke rumah Bu Ayin dengan memutar lewat gang sebelah.

Gresiksatu.com
Suasana arakan pengantin di Manyar dengan Fizin sebagai pengantin laki-laki
Koleksi: Pak Ayin, 2022

Dari cerita Pak Ayin, saya jadi berpikir, barangkali masih ada lagi variasi arakan pengantin yang lain pada beberapa daerah di Gresik. Variasi arakan pengantin yang memberitahu kepada kita bahwa kebudayaan telah melingkupi sekaligus mengantar diri ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Dan saya jadi berpikirlagi, setelah mengetahui arakan pengantin di Manyar (jugaLumpur), barangkali masih ada variasi arakan pengantin lain di Gresik. Variasi lain yang menandakan betapa unik budaya kita.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.