GresikSatu | Pernahkah kamu bertanya-tanya apa arti sebenarnya dari kata “ketupat”? Ternyata, di balik hidangan lezat khas Lebaran ini tersembunyi filosofi dan makna mendalam.
Berikut ini kita akan mengupas secara lengkap tentang kepanjangan dan filosofi dari kata ketupat yang mungkin jarang diketahui banyak orang.
Apa Itu Ketupat?
Ketupat merupakan makanan tradisional Indonesia berbahan dasar beras yang dibungkus daun kelapa muda (janur).
Hidangan ini populer saat Hari Raya Idul Fitri dan menjadi simbol perayaan yang penuh makna.
Asal-usul Tradisi Ketupat di Indonesia
Tradisi makan ketupat diperkirakan sudah ada sejak masa Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah perpaduan antara makan tradisional Tepo dengan anyaman yang ditemukan di Wengker sekitar Gunung Lawu.
Kemudian Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai simbol perayaan setelah menjalani puasa enam hari setelah Idul Fitri.
Kepanjangan dan Makna Kata Ketupat
1. KUPAT: “Ngaku Lepat” (Mengakui Kesalahan)
Kata ketupat berasal dari singkatan dalam bahasa Jawa “Ngaku Lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Hal ini melambangkan sikap rendah hati untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.
2. LUPAT: “Laku Papat” (Empat Tindakan)
Selain Ngaku Lepat, kata ketupat juga berasal dari “Laku Papat” atau empat tindakan penting dalam budaya Jawa, yaitu Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.
Lebaran (Selesai)
Bermakna selesainya masa puasa Ramadhan.
Luberan (Melimpah)
Menandakan ajakan bersedekah kepada sesama dengan melimpahkan rezeki.
Leburan (Saling Memaafkan)
Melambangkan saling memaafkan dan menghapus dosa satu sama lain.
Laburan (Kesucian)
Merepresentasikan kembali ke fitrah dan hati yang suci setelah Lebaran.
Makna Filosofis Bentuk Ketupat
Bentuk ketupat yang khas memiliki filosofi tersendiri:
- Segi empat: Melambangkan empat arah mata angin, yang artinya saling menjaga harmoni dan keselarasan hidup.
- Anyaman janur: Menunjukkan kompleksitas hidup manusia yang saling terhubung satu sama lain.
Kaitan Ketupat dengan Islam
Tradisi ketupat berkaitan erat dengan ajaran Islam tentang kerendahan hati, saling memaafkan, dan bersedekah setelah menjalankan ibadah puasa.
Cara Membuat Ketupat Tradisional
Berikut langkah sederhana dalam membuat ketupat tradisional:
- Siapkan janur dan bentuk menjadi anyaman ketupat.
- Isi dengan beras hingga dua pertiga bagian.
- Rebus ketupat selama 4-5 jam hingga matang sempurna.
- Tiriskan dan gantung agar tahan lama.
Mengapa Ketupat Identik dengan Lebaran?
Ketupat menjadi hidangan khas Lebaran karena simbolismenya yang menggambarkan kesucian, kebersamaan, dan saling memaafkan setelah puasa Ramadhan.
Perbedaan Ketupat dan Lontong
Meski terlihat mirip, ketupat berbeda dari lontong karena bentuk, tekstur, serta makna filosofinya. Lontong biasanya berbentuk lonjong dan dibungkus daun pisang.
Variasi Sajian Ketupat di Berbagai Daerah
Ketupat sering disajikan dengan berbagai pendamping lezat, seperti:
- Opor ayam (Jawa)
- Rendang (Padang)
- Sayur labu (Sunda)
Mengapa Ketupat Menggunakan Janur?
Janur dipilih karena melambangkan kesucian dan keberuntungan dalam tradisi Jawa, menjadikannya simbol tepat untuk Lebaran.
Ketupat sebagai Simbol Rekonsiliasi Sosial
Secara sosial, ketupat melambangkan rekonsiliasi, saling memaafkan, dan mempererat hubungan antar masyarakat.
Dampak Tradisi Ketupat terhadap Ekonomi
Tradisi ketupat meningkatkan perekonomian masyarakat lokal, terutama pedagang janur, bahan makanan, dan UMKM makanan.
Bagaimana Tradisi Ketupat di Negara Lain?
Ketupat juga dikenal di negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei, dengan tradisi dan sajian yang sedikit berbeda namun tetap serupa dalam makna filosofis.
Cara Melestarikan Tradisi Ketupat di Era Modern
Agar tradisi ketupat tetap lestari, penting untuk terus mengenalkan makna filosofinya kepada generasi muda serta mengadopsi ketupat ke dalam kehidupan sehari-hari secara kreatif.
Ketupat bukan sekadar hidangan lezat, melainkan juga simbol mendalam yang penuh filosofi.
Mengetahui makna di balik ketupat dapat memperkaya nilai budaya dan spiritual dalam perayaan Idul Fitri.