Senin, 03/10/2022 | 14:40 WIB
Gresik Satu
Opini

Belajar dari Peristiwa Rengasdengklok

gresiksatu.com

Oleh: Priyandono ** 

“Bung, kami diutus oleh pemuda dan rakyat untuk meminta Bung Karno menentukan sikap sekarang juga. Bung tahu, Jepang sudah kalah”

Kalimat itu meluncur dari dari mulut Wikana salah satu tokoh pemuda yang ditugaskan menemui Bung Karno dan Hatta. Wikana tidak sendirian. Ia bersama Darwis. Kedua perwakilan melaksanakan hasil kesepakatan rapat pemuda yang dipimpin Chaerul Saleh di laboratorium mikrobiologi pada 16 Agustus 1945.

“Saya punya kawan, jadi untuk hal ini saya tidak berani mengambil keputusan sendiri,” sahut Bung Karno yang malam itu sebenarnya sedang bersama dengan kawan lamanya, Sayuti Melik.

“Jika Bung tidak melakukan mengumumkan kemerdekaan malam ini juga, dikhawatirkan akan terjadinya pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari,” Wikana memperingatkan

“Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana dan sudahilah nyawaku malam ini juga. Jangan menunggu sampai besok,” timpal Bung Karno

Pertemuan di kediaman Soekarno malam itu tidak membuahkan hasil. Para pemuda kembali menggelar rapat di jalan Cikini 71 Jakarta. Pada rapat tersebut ada yang mengusulkan agar para pemuda sendiri yang memproklamasikan kemerdekaan. Ada pula yang meminta supaya Bung Karno dan Bung Hatta dijemput paksa dihadirkan di tengah-tengah masyarakat agar menentukan sikap. Ada juga yang mengusulkan Soekarno-Hatta dibawa ke luar Jakarta agar tidak terpengaruh Jepang.

Usulan terakhir itu disampaikan oleh Soekarni dan disepakati oleh semua pemuda yang hadir.

Menjelang Subuh Soekarni menemui Bung Hatta. Dini hari itu Bung Hatta hendak makan sahur.

“Aku mencoba meyakinkan Soekarni bahwa yang direncanakan pemuda itu adalah fantasi belaka. Sekalipun Jepang sudah menyerah, tentaranya di Jawa masih utuh,” kata Hatta kepada Soekarni

“Ini sudah menjadi keputusan kami semua dan tidak bisa dipersoalkan lagi. Bung ikut saja bersama Bung Karno pergi ke Rengasdengklok,” tukas Soekarni

Akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengasdengklok ditempatkan di rumah Djiau Kie Siong, keturunan Tionghoa yang sudah lama tinggal di sana. Mereka tidak lama di Rengasdengklok. Tidak lama berselang Ahmad Subarjo menyusul dan membawanya kembali ke Jakarta setelah menjaminkan nyawanya.

“Kami datang ke sini untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta serta membawa mereka kembali ke Jakarta untuk mempercepat Proklamasi Kemerdekaan,” kata Subardjo.

Para pemuda tidak percaya begitu saja. Mayor Subeno menanyakan apakah Ahmad Subarjo bisa mendesak Soekarno-Hatta mempoklamasikan kemerdekaan dilaksanakan esok harinya.

“Mayor, jika segala sesuatunya gagal, sayalah yang memikul tanggungjawabnya, dan Mayor boleh tembak mati saya,” jawab Ahmad Subarjo.

Golongan pemuda yakin dengan jawaban Ahmad Subarjo. Bung Karno dan Bung Hatta serta rombongan lainnya pun kembali ke Jakarta.

Menjelang Prokolamasi

13 jam menjelang Proklamasi Kemerdekaan, peristiwa Rengasdengklok memberikan pelajaran kepada kita. Perbedaan pendapat itu niscaya. Kalau kita dapat mengelolanya dengan baik, perbedaan itu tidak akan memisahkan tetapi menyatukan.

Oleh sebab itu, sikap merasa paling benar serta memaksakan pendapat saatnya dikubur dalam dalam. Kesadaran bahwa masing-masing kita itu dilingkupi kekurangan harus dikedepankan.

Peristiwa Rengasdengklok juga mengilhami kita. Negeri ini didirikan dengan darah dan air mata. Tindakan kepahlawanan dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh golongan tua dan golongan muda menginspirasi setiap putra putri Indonesia untuk bekerja keras, berjuang dan melakukan sesuatu sesuai peran kita masing-masing demi kejayaan tanah air dan bangsa.

Peristiwa Rengasdengklok juga mengajari kita, bahwa tugas menjaga dan mempertahankan kemerdekaan adalah tugas kita semua. Jangan bertanya apa yang diberikan negara kepada kita, tapi bertanyalah pada diri kita sendiri: apa yang kita akan dan sudah kita persembahan kepada negara.

Dirgahayu ke-77 Republik Indonesia 2022. Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat. Merdeka! (Dari berbagai sumber)

** Penulis adalah Mantan Guru Sejarah di SMAN 1 Gresik