Sabtu, 20/08/2022 | 12:49 WIB
Gresik Satu
Berita Gres

Berantas Wartawan Abal-abal, Begini yang Dilakukan AKD dan PWI Gresik

Gresiksatu.com
Poster Lokakarya Jurnalistik PWI dan AKD Gresik. (Dokumen)
 Advertisement

GresikSatu | Di era kebebasan informasi tentu banyak sekali berita informasi mengalir kepada masyarakat. Hal tersebut tak lepas peran dan kerja wartawan dalam membuat karya berita. Namun semakin bebas informasi, juga semakin marak wartawan abal-abal alias belum tetsertifikasi Dewan Pers. Biasanya wartawan ini kerap membuat ulah hingga pemerasan di lingkungan pejabat desa, sekolah, dan instansi pemerintahan.

Dalam menanggapi hal tersebut, Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kabupaten Gresik menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Gresik, untuk memerangi wartawan abal-abal yang meresahkan masyarakat. Dalam hal ini, PWI Gresik Bersama Dewan Pers akan memberikan sosialiasasi kode etik jurnalistik kepada Asosiasi Kepala Desa (AKD) di Kabupaten Gresik.

Tujuannya, agar seluruh kepala desa di Gresik terhindar dari wartawan abal-abal yang merugikan. Rencananya sosialisasi itu berbentuk kegiatan Lokakarya Jurnalistik di Hotel Aston Inn Gresik, Senin depan (8/8/2022). Dengan dihadiri langsung  Dewan Pers, AKD, Polres Gresik dan Kejari Gresik.

Kegiatan tersebut tak lepas dari aduan dan keluhan masyarakat. Masih banyak media dan wartawan abal-abal yang meresahkan. Perilakunya tidak sesuai norma dan kode etik jurnalistik. Misalnya, hanya menggunakan kartu identitas sesuai kebutuhan, namun tidak tersertifikasi dewan pers.

Mirisnya, wartawan tersebut tidak memiliki kemampuan jurnalistik. Biasanya datang rombongan. Mereka kebanyakan berasal dari luar kota. Lalu datang ke desa-desa mengancam narasumber. Meminta uang dalam jumlah tertentu jika tidak keperluannya tidak dipenuhi. Mereka kerap kali melakukan ancaman, hingga pemerasan terhadap narasumber. Hal ini yang membuat narasumber ‘takut’. Sehingga termakan ancaman.

Ketua PWI Gresik Ashadi Ik mengatakan, ancaman itu berupa laporan ke kantor polisi, hingga tekanan lainnya. Paling banyak, menyasar para kepala desa, kepala sekolah, kalangan pengusaha dan pejabat di lingkungan Pemkab Gresik.

“Ini mengundang keprihatinan kami di PWI Gresik. Sebagai organisasi konstituen dewan pers, PWI Gresik menggandeng dewan pers memberikan edukasi kepada kepala desa yang tergabung dalam AKD untuk menghadapi fenomena wartawan dan media abal-abal yang selalu  meresahkan,” ucapnya, Jumat (5/8/2022).

CEO Gresiksatu.com ini juga menyebut, ulah wartawan dan media abal-abal tidak hanya meresahkan kepala desa saja.  Namun juga bagi  jurnalis yang sudah terverifikasi, kemudian berasal dari media yang sudah terverifikasi dan terdaftar di Dewan Pers  juga banyak  kena ‘getah’nya. Termasuk PWI Gresik dan profesi wartawan itu sendiri di  mata masyarakat.

“Ini yang tidak boleh dibiarkan. Kepala desa harus berani melawan tidak usah lagi takut ancaman dari wartawan abal-abal. Kami dari PWI Gresik siap membantu,” tegasnya.

Ketua Panitia Lokakarya Jurnalistik PWI Gresik Amin Alamsyah menambahkan, sebagai narasumber dalam dalam kegiatan tersebut  menghadirkan Kejaksaan Negeri Gresik dan Polres Gresik. Keduanya akan menjelaskan terkait pemahaman antara delik umum dan delik pers.

“Agar kepala desa lebih berani lagi. Karena jelas berbeda UU Pers, dengan tindak pidana umum,” ucap Wakil Ketua Kerjasama PWI Gresik. 

Pria yang kerap disapa Aam ini berujar, dalam  acara tersebut juga dilakukan pembacaan nota kesepahaman PWI Gresik, AKD Gresik, Pemkab Gresik, Dewan Pers, Polres Gresik dan Kejari Gresik.

Diketahui, saat ini  ini banyak orang berbondong-bondong mendirikan perusahaan pers. Menurut data Dewan Pers, pada tahun 2020 saja. Ada 47 ribu media. Terdiri dari 43.300 media online dan 3.000 media cetak. Adapun yang tercatat media profesional yang lolos terverifikasi hanya 1.461 perusahaan pers. (faiz/aam)