Sabtu, 28/05/2022 | 05:16 WIB
Gresik Satu

Bukit Harapan Buat Gresik

Masyarakat Gresik selalu merayakan Hari Jadi Gresik setiap tanggal 9 Maret. Jika merujuk buku “Kota Gresik Sebuah Perspektif Sejarah dan Harijadi” (1991), kita membaca salah satu faktor penetapan tanggal 9 Maret tersebut, yaitu: “saat ‘penobatan’ Sunan Giri sebagai penguasa (Prabu Satmata) yakni tanggal 12 Rabi’ul-Awal 894 Hijriyah bersamaan dengan tanggal 9 Maret 1487 Masehi.” Kita menghitung sejak tanggal 9 Maret 1487 hingga 9 Maret 2022, ternyata Gresik berusia 535 tahun.

Kita merenungi pencapaian Gresik yang berusia lima abad lebih. Kita membayangkan Gresik telah lama memberi ruang kehidupan bagi keragaman masyarakatnya. Meski begitu, kita mencatat beberapa periode pemerintahan yang ada di Gresik. Di buku “Sunan Giri” (1979), Umar Hasyim mengutip pendapat Banun Mansur BA yang menulis “Sejarah Masuknya Islam di Gresik” tentang beberapa periode dari sejarah Pemerintahan Gresik, yakni: Zaman Pemerintahan Giri; Zaman Pemerintahan Tandes; dan Zaman Pemerintahan Gresik.

Lewat beberapa periode dari sejarah Pemerintahan Gresik, kita mengetahui awal pemerintahan yang bermula di Giri setelah Prabu Satmata (Sunan Giri) memperkenalkan dirinya kepada dunia. Lalu Amangkurat yang mengangkat Kyai Nodoliko sebagai penguasa baru setelah Giri. Kedudukan Kyai Nodolikoberada di Tandes. Dalam perkembangannya, Tandes menjadi kekuasaan VOC sehingga di bawah Residen Belanda. Pada zaman Daendels, Tandes menjadi Kadipaten dengan penguasa bergelar Adipati.

Pada akhir abad ke-18, Gresik menjadi bagian Kabupaten Tandes. Status ini berakhir pada tahun 1934, ketika Gresik menjadi bagian dari Kabupaten Surabaya. Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Gresik merupakan kawedanan di bawah Kabupaten Surabaya. Kemudian, pada zaman Orba (1974), Kabupaten Surabaya berubah menjadi Kabupaten Gresik. Selain Hari Jadi Gresik, kita juga merayakan Hari Ulang Tahun Kabupaten Gresik yang kini (2022) berusia 48 tahun. Usia Kabupaten Gresik yang sebentar lagi mencapai setengah abad.

Jalan Sunan Prapen arah ke Makam Giri, Gresik
Sumber Foto: Aji (2020)

Warisan

Apa kado yang kita berikan pada Hari Jadi Gresik yang berusia 535 tahun dan Hari Ulang Tahun ke-48 Kabupaten Gresik? Puisi “Bukit Harapan” karya almarhum Suwandhi Indrakusuma atau Tjia Swan Djioe (salah satu penyair Gresik) bisa menjadi jawabannya. Puisi Bukit Harapantermaktub di buku puisi “Permata” (1991) yang diterbitkan Dian Melayu Surabaya sebagai peringatan ulang tahun ke-80 bagi diri Suwandhi Indrakusuma. Penyair yang semasa hidup bertempat tinggal di Kampung Pecinan. Atau lebih dikenal sebagai Gang Kelenteng. Kampung yang berada di sebelah timur alun-alun Gresik.

Kampung Pecinan atau Gang Kelenteng
Sumber Foto: Aji (2018)

Dalam buku puisi “Permata”, ada salam penghargaan (semacam puisi) yang bersahaja dari Samsi dan Swananda (yang merupakan kenalan Suwandi). Samsi menulis: “//…Semoga berkat kemurahan hati Tuhan Yang Mahaesa/ kau akan dapat berkarya terus secara luar biasa…//”. Sedangkan Swananda menulis: “//Ku perhatikan pertumbuhan benih/ dari tahun ke tahun/ tahap demi tahap/ akhirnya aku duduk di hadapan/ pohon besar dengan bunga yang indah…//”.

Lalu apa hubungannya Suwandhi Indrakusuma dengan Gresik? Kita bisa menghubungkan pada suasana bagi mereka yang sedang berulang tahun. Sebelum api lilin ulang tahun ditiup, mereka berdoa. Barangkali doa Suwandhi Indrakusuma termanifestasi pada puisiBukit Harapan”. Sedangkan makna puisiBukit Harapan boleh menjadi doa Gresik untuk masyarakatnya.

Pada bait pembuka, kita membaca: “//Salah satu peringatan/ yang sering diucap orang/’jangan tamak uang/ anda bisa sial’//”. Dari bait pembuka, kita memperoleh nasehat menghindarkan diri dari sifat tamak. Tertulis: “jangan tamak uang, anda bisa sial”, sebuah nasihat yang memberi kita pencerahan untukmenguatkan etos kerja agar menghasikan kualitas. Nasihat ini juga mengarahkan kita agar terhindar pada sifat korup.

Pada bait kedua, kita membaca: “//Kita harus tahu diri/ dan benar-benar menyadari/ apa yang bisa dikerjakan/ atau yang tak bisa dilakukan//”. Kita memperoleh makna pada bait kedua bahwa seseorang harus mengetahui kelebihan dan kekurangan diri. Jangan memaksa sesuatu. Istilah tupoksi (tugas pokok dan fungsi) lebih tepat menggambarkan bait kedua.

Kita hubungkan bait kedua dengan bait ketiga, yaitu: “//Jangan dibiasakan/ pamer kemampuan/ bisa dipastikan/ mengundang permusuhan//. Suwandhi Indrakusuma menggambarkan secara jelas tentang sebab dan akibat bila seseorang bekerja dengan cara “pamer kemampuan”. Barangkali kita lebih baik “melayani” daripada “pamer kemampuan”.

Lanskap Gresik dilihat dari Makam Putri Cempo, Giri, Gresik
Sumber Foto: Aji (2019)

Soal “melayani”, kita dapat membaca buku “The Swordless Samurai: Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI” (2011). Kita menemukan cara Toyotomi Hideyoshi memahami penghargaan, kerja keras, tindakan tegas, dan pengabdian pada seseorang yang melayani. Saya kutipkan utuh pemahaman Toyotomi Hideyoshi:

“Beberapa mungkin berpikir bahwa konsep ini hanya berlaku untuk pengikut, bukan pemimpin. ‘Tapi mereka yang punya aspirasi untuk memimpin mula-mula harus belajar melayani.’ Dan mereka yang ingin menjadi atasan bagi orang lain mula-mula harus menjadi majikan bagi mereka sendiri. Dengan demikian, prinsip-prinsip kepemimpinan berlaku sama untuk atasan maupun bawahan.”

Pada koda puisi “Bukit Harapan”, kita membaca: “//Hidup bukan sekedar pameran/ kita perlu banyak belajar/ bersahaja dan wajar/ agar tak jauh menyasar//”. Meski bekerja secara tupoksi, toh kita butuh kemungkinan baru demi mengembangkan diri.Kelemahan bisa jadi keunggulan kita kalau tahu potensinya, seperti yang dinarasikan Toyotomi Hideyoshi: “Pemimpin dan pengikut harus menyadari kelemahan-kelemahan mereka dan mengubahnya menjadi keunggulan. Keberhasilanmu bisa saja bergantung pada hal itu…”

Begitulah kita menafsir puisi “Bukit Harapan”. Barangkali juga di antara kita ada yang berbeda cara pandang dalan penafsiran. Yang jelas, puisi “Bukit Harapan” mengandung nasihat untuk kita. Dan kita bisa memegang nasihat tersebut demi keberlangsungan Gresik tercinta.

Selamat buat Gresik yang sedang berhari jadi sekaligus berulang tahun.

 

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

 

Daftar Bacaan

Kitami Masao (2011), “The Swordless Samurai: Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI”, Jakarta: Zahir Books

Suwandhi Indrakusuma (1991), “Permata”, Surabaya: Dian Melayu Surabaya

Tim Penyusun Buku Sejarah Harijadi Kota Gresik (1991), Kota Gresik Sebuah Perspektif Sejarah dan Harijadi, Gresik: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Gresik

Umar Hasyim (1979), “Sunan Giri”, Kudus: Menara Kudus