Sabtu, 20/08/2022 | 12:21 WIB
Gresik Satu
Berita Gres Lifestyle

Cerita Joki Atraksi Tong Edan Menantang Maut Demi Hidupi Keluarga

Gresiksatu.com
Joki Tong Edan saat menjalankan gaya aksinya untuk menghibur penonton di Kawasan Tri Dharma Gresik (Foto : Faiz /Gresiksatu.com)
 Advertisement

GresikSatu | Atraksi menantang maut Tong Edan selalu menjadi daya tarik masyarakat. Suara bising sepeda motor yang keluar dari drum besar raksasa mulai terdengar. Joki sepeda motor dalam atraksi pun sudah bersiap menghibur masyarakat. Salah satunya joki Fajar Rohman. Sebelum melakukan atrkasinya, matanya langsung melihat motor Yamaha RX-Special. Dari sepeda motor itulah pria asal Pare, Kabupaten Kediri ini selalu menghibur penonton. 

Dirinya bersama rekannya Jastro merupakan joki motor handal beraksi dan memacu adrenalin para penggemar aktraksi tong edan. Mereka berputar dan merambat di dinding, melawan hukum gravitasi hingga bergaya freestyle di sepeda motor bertenaga 115 Cc itu. Suara bising dari knalpot brong menjadi sorotan, keramaian pasar malam di kawasan jalan Tri Dharma Kecamatan Gresik Kota itu. 

“Sebelum atraksi, kondisi ban harus sering di periksa agar tidak selip,” ucap Fajar, Selasa (19/7/2022) malam, saat ditemui di Pasar Malam Petrokimia Gresik. 

Keduanya pun langsung tancap gas berputar-putar di area drum yang terbuat dari plat besi. Drum berbentuk tabung lingkaran, berdiameter 8 meter dengan tinggi mencapai enam meter. “Kerja muter-muter golek duit, (putar-putar cari uang,” kelakarnya.

Menurutnya, profesi sebagai joki motor tong edan memerlukan persiapan khusus. Paling penting faktor keamanan, keselamatan, dan keseimbangan saat joki. “Harus tenang dan fokus melihat arah depan. Seperti naik motor biasa,” ujarnya. 

Dari atraksi tersebut, pria kepala satu ini menyebut, rata-rata keuntungan yang ia dapatkan Rp 300 ribu per malam. Namun juga bisa dua kali lipat jika Antusiasme penonton tinggi dan banyak antre melihat atrkasi ini. 

“Alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya. 

Untuk meraup keuntungan lebih, jelas Fajar, terkadang dirinya harus bermain freestyle dalam atraksi tong edan itu. Mulai lepas tangan, duduk menyamping dan aksi lainnya. Hal itu untuk memuaskan penonton. “Paling sulit gaya Scorpio, berdiri dengan satu kaki. Saya belum menguasai betul gaya tersebut,” jelasnya. 

Untuk menikmati hiburan malam ini, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 15 ribu setiap atraksi. Dengan durasi atrkasi sekitar 15 menit. Dimulai sejak pukul 19.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. 

“Pengujung juga banyak yang nyawer, bahkan mengajak foto bareng setelah selesai tampil,” ucapnya sambil istirahat sejenak setelah atraksi. 

Kendati demikian, profesi yang yang ia geluti sejak 2018 tidak berjalan lancar. Apalagi selama diterpa pandemi Covid-19. Fajar langsung banting setir menjadi toko bangunan untuk bertahan hidup. Selain itu jika hujan turun Fajar pun harus berpikir ulang untuk melakukan aktraksinya. Karena khawatir licin, serta penonton pasti sepi.

“Belum lagi, jika harus berhadapan dengan penonton nakal. Bahkan, bisa tergolong membahayakan dan menghambat aksinya. Ngeprank mau nyawer, setelah didekati ternyata ngak jadi,” keluhnya.

“Apalagi, jarak roda dengan dinding pembatas tinggal sejengkal. Khawatir ke bablasan. Lebih baik jangan ngeprank biar semua selamat,” harapnya.

Hingga akhir tahun nanti, jadwal aktraksinya cukup padat sampai akhir tahun. Seminggu lagi berpindah ke Ngawi. Kondisi itu pun sangat merindukan keluarganya di rumah. “Namun saya kejar setoran untuk keluarga di rumah. Nelpon atau video call sesekali menahan kerinduan. Sebelum sebelum tampil minta doa dari istri dan anak agar diberi kelancaran,” jelas pria yang menjadi joki tong edan. (faiz/aam)