Senin, 03/10/2022 | 17:25 WIB
Gresik Satu
Opini

Coaching dengan Pola Pikir Tutwuri Handayani

Oleh : Priyandono 

Lengkapnya ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani. Sebagai pemimpin pembelajaran guru harus memberikan teladan yang baik, membangkitkan dan menggelorakan motivasi, serta memberikan dorongan moral dan semangat kepada murid-muridnya. Bukan sebaliknya, ing ngarsa ngumbar angkara, ing madya numpuk harta, tutwuri melu ngadahi.

Sebagai pamong, guru dapat melakukan coaching dengan mendengarkan semua permasalahan dan mengenali situasi yang dihadapi murid, memberikan pertanyaan efektif yang kodrat sang anak tumbuhkembang. Dalam melaksanakan ini, disarankan menggunakan mindset atau pola pikir tutwuri handayani. Apa itu? Selama proses coaching, murid sebagai mitra belajar, emansipatif, kasih dan persahabatan, serta ruang perjumpaan pribadi.

Dalam melakukan coaching, guru harus memosisikan diri sebagai kawan belajar murid. Guru dan murid seyogianya memiliki pandangan dan pola pikir yang sama tentang belajar. Misalnya, kala guru mendengarkan semua permasalahan murid, guru belajar mengenali muridnya secara lebih mendalam. Pun juga bimbingan dan tuntunan guru, harus bisa menjadi ruang bagi tumbuhkembang kekuatan kodratnya. Mereka bersama-sama terus bergerak dan belajar, sebab hidup ini tidak pernah berhenti mengajarkan.

Oleh sebab itu, sebelumnya dilakukan coaching sebaiknya ada kesepakatan perihal tujuan. Sebaiknya permasalahan datang dari murid, jadi idealnya tujuan pun juga dari murid. Guru sebatas hanya memberikan pertanyaan atau feedback yang dapat membuka kran bagi murid untuk menyampaikan tujuannya secara terang benderang.

Pilar utama coaching adalah kepercayaan. Oleh sebab itu diperlukan sebuah kesepakatan yang mengikat. Dengan begitu selama coaching berlangsung, ruang untuk merefleksikan kebebasan dalam menyampaikan dan atau memberikan umpan balik selalu terbuka. Kondisi yang baik dan menguntungkan ini akan menciptakan peluang bagi murid untuk menemukan kodratnya, melejitkan potensinya dan menemukan kekuatan lain yang ada dalam dirinya.

Jadi pola pikir yang kita bangun adalah memaksimalkan potensi dan kodrat anak. Oleh sebab itu, selama coaching berjalan, hindari melakukan penilaian terhadap murid, hentikan membuat asumsi yang belum jelas kebenarannya, dan stop membuat asosiasi. Sebaliknya, lakukan coaching pada murid, bukan pada masalahnya. Tidak hanya itu, selama coaching berlangsung guru harus menjadi pendengar yang baik. Bertanya dan memberikan respon yang menggiring murid menyampaikannya permasalahannya secara detail. Menuntun murid membuat kesimpulan dan menyusun rencana aksi.

Di samping itu, selama membersamai dan mendampingimi murid mengikuti coaching, semangat tutwuri handayani harus terus digelorakan. Harapannya, murid dapat menemukan kodratnya dan mengembangkan potensinya berdasarkan rasa cinta kasih tanpa embel-embel apapun. Semua dilandasi rasa cinta. Ini penting, sebab dalam cinta ada sebuah kekuatan besar.

Selama proses coaching, guru sebagai coach harus netral dan obyektif. Sejauh mungkin menghindari konfrontasi dan mengubur dalam dalam keinginan untuk mengoreksi coachee (murid). Guru harus lebih banyak membangkitkan kesadaran diri dan membidani lahirnya motivasi intrinsik daripada mengajari muridnya.

Kegiatan coaching juga merupakan ruang perjumpaan khusus antara guru dan murid. Mereka membangun komunikasi dua arah. Guru bertanya untuk menggali lebih dalam permasalahan dan memetakan kondisi anak, serta menggali ide-ide yang segar. Di ruang itu pula mereka membangun rasa saling percaya dan saling menghormati serta saling mengingatkan dan menguatkan. Mereka mengungkapkan segala permasalahannya dengan kebebasannya masing-masing. Kebebasan ini merupakan buah dari pertanyaan-pertanyaan reflektif dan terukur untuk menguatkan kodrat anak.

Jalan untuk menjadi guru sekaligus coach itu tidak bertabur mawar yang indah, tetapi penuh onak dan duri. Tetap semangat dan terus bergerak. Sejarah belum pernah mencatat perjalanan manusia, sekali berusaha langsung berhasil dan sukses, tanpa merasakan pahit dan getirnya sebuah proses dan tanpa merasakan cibiran dari orang-orang sekitar. (**/)

Catatan : Penulis adalah Pengawas Sekolah dan Fasilitator Program Guru Penggerak.