Jumat, 27/05/2022 | 00:22 WIB
Gresik Satu

Dari Desa Wotan dengan Bunyi Puitik

Orang pertama mencatat ada penyair mengibarkan kepenyairannya di kancah nasional sejak 2007. Padahal namanya kala itu belum “diperhitungkan” di Jawa Timur. Orang kedua menulis bahwa penyair itu meramu dengan lincah dan renyah atas segala anasir alam, flora, fauna, dan mitologi. Pembacaan puisi karyanya jadi terasa akrab sekaligus asing. Orang ketiga mengamati penyair itu tanpa banyak cakap menyerobot satu halaman penuh salah satu media massa nasional. Walau penyair itu rendah produksi, puisinya jarang ditolak media.

Penyair yang dimaksud tiga orang itu adalah A. Muttaqin, salah satu penyair asal Desa Wotan, Gresik. Ya, A. Muttaqin lahir di Gresik, 11 Maret 1983. Sejak menjadi penyair, puisinya tersebar di pelbagai media cetak, antara lain: Horison, Kompas, Koran Tempo, hingga Bali Post. Puisinya juga masuk ke dalam antologi: “100 Puisi Indonesia Terbaik 2008”, “60 Puisi Indonesia Terbaik 2009”, “Traversing/Merandai” (2009), serta Forum Sastra Indonesia Hari Ini (2010). Tahun 2009, dia mengikuti “International Literary Biennale” dan “Ubud Writers and Readers Festival”.

Tiga buku puisinya antara lain: “Pembuangan Phoenix” (2010), “Tetralogi Kerucut” (2014), dan “Dari Tukang Kayu Sampai Tarekat Lembu” (2016). Tahun 2016, cerpen “Di Bawah Naungan Nur, dalam Selingkar Telur” memenangkan penulisan Hari Santri Nasional yang diadakan Kementerian Agama.

Tiga orang di awal tulisan ini yang membahas A. Muttaqin adalah Umar Fauzi Ballah, Arif B. Prasetyo, dan Ribut Wijoto. Kita jadi merumuskan apa yang dicatat, ditulis, dan diamati oleh tiga orang itu, kita jadi tahu bahwa A. Muttaqin mendapatkan tempat di kancah nasional tanpa banyak cakap dan bermodal kelincahan dan kerenyahan atas segala anasir alam, flora, fauna, dan mitologi. Selain itu, kita telisik lebih dalam lagi, ada keunikan lain yang dimiliki A. Muttaqin, yaitu penggunaan bunyi puitiknya.

Puisi “Horn” diambil dari buku puisi “Tetralogi Kerucut” karya A. Muttaqin
Gambar: Aji (2022)

Bunyi

Umar Fauzi Ballah menulis resensi untuk buku puisi “Tetralogi Kerucut”: “Sebagai penyair berbakat, puisinya tampak berbeda dengan puisi-puisi yang dibuat oleh kebanyakan penyair lain. Kebanyakan dalam berpuisi dapat ditelisik pada ‘spontanitas’ berpuisi. Setiap kali berhadapan dengan puisi A. Muttaqin, saya membayangkan bahwa puisi dengan seenaknya keluar dari dalam pikirannya. Hal ini terlihat dari bagaimana dia menuliskan bebunyian begitu rapat antarkata dalam satu frasa atau antarlarik dalam rima.”

Arif B. Prasetyo berpendapat: “Muttaqin tahu bahwa makna tak bisa diusir dari bahasa, sementara puisi tak mungkin hidup di luar bahasa. Karena itu, dalam puisi-puisinya, ia tidak berupaya menihilkan makna. Makna diterima, bahkan dipelihara, tapi dikendalikan secara ketat agar tak sampai meringkus puisi menjadi ide atau pesan. Kontrol makna dilakukan dengan menekankan aspek materil bahasa, terutama bunyi. Rima dan ritme terus-menerus menginterupsi makna, tak henti-henti mengembalikan makna kepada bunyi. Dalam puisi-puisi Muttaqin, bunyi menunda makna, penundaan ini berefek menyegarkan bahasa.”

Ribut Wijoto berpendapat: “Kelebihan puisi Muttaqin terletak pada ketekunannya dalam menjaga metafor. Dia meletakkan metafor secara dingin. Tidak ada ledakan pada puisinya. Justru sebaliknya, puisi terlihat rapi dan beku. Dia bisa telaten memasangkan bunyi-bunyian di akhir baris. Namun ketika rangkaian kata yang liris itu dimasuki, pembaca justru tidak menemukan makna tersurat. Pembaca hanya akan mendapatkan asosiasi, kesadaran metaforis, dan selebihnya kegelapan.”

Puisi “Nasihat Timur” diambil dari buku puisi “Dari Tukang Kayu Sampai Tarekat Lembu” karya A. Muttaqin
Gambar: Aji (2022)

Dari tiga pendapat itu, kita bisa mengaitkan satu sama lain, meski A. Muttaqin dibayangkan seenaknya menuliskan bebunyian yang keluar dari dalam pikirannya, ternyata dia tetap mengontrol makna dengan menekan  aspek materil bahasa, terutama bunyi, dan ketekunannya dalam menjaga metafor yang rapi dan dingin, justru pembaca mendapatkankan asosiasi atau terjebak pada kegelapan (bila belum menemukan kuncinya).

Suasana Desa Wotan
Sumber: IG @Satyatarunawotan

Lain itu, A. Muttaqin pernah menceritakan fenomena di kampungnya, Desa Wotan, Gresik. Di sana ada satu permainan dikenal “kolik”. Dalam permainan itu, pemain diharuskan “ndhadi” karena mengandalkan semacam kekuatan supranatural dari “pinter” (orang punya “linuwi”). A. Muttaqin mengingat bagaimana seorang temannya setelah “ndhadi” dapat melakukan hal-hal di luar nalar, misal mudah melompat ke pohon, membacok tubuhnya tanpa terluka, atau memakan semprong.

A. Muttaqin
Foto: Luki Giri

A. Muttaqin merasa fenomena di kampungnya bisa terjadi pada penyair yang serius menekuni puisi: “…Ia, sadar atau tidak, bisa berada di ambang-sadar: suatu situasi yang memungkinkan puisi keluar. Dan bila seseorang memasuki situasi ini, apa yang ia sebut (baca: tulis) mempunyai kekuatan tersendiri untuk menjelmakan diri ke dalam wujud-wadag yang bernama puisi. Jalan untuk memasuki situasi ini tentu beragam dan tidak instan. Situasi ini bersenyawa dengan kehidupan penulis sehari-hari. Maka, bila orang sudah memasuki situasi ini, puisi bisa mengalir lewat apa saja…”

Kita berpikir penyair bisa terkena “ndhadi” sehingga apa yang dilakukannya menjadi puisi. Ya, bunyi puitik yang keluar dari tangan A. Muttaqin menjadi gerakan ambang-sadar. Tapi kita harus ingat bahwa kata-kata yang membentuk rima tetaplah refleksi penyair dari hasil membaca: lingkungan, buku, mitos, atau dunia. “Ndhadi” bisa semacam muntahan kata-kata yang menumpuk penuh di pikiran dan perasaan penyair.**

 

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

 

Daftar Bacaan

Arif B. Prasetyo dalam, “Membaca Sastra Jawa Timur” (2014), Surabaya: Dewan Kesenian Jawa Timur

Bening Siti Aisyah  (2014), “Perohong I-XV”, Gresik: Buku Bianglala

Ribut Wijoto dalam, “Membaca Sastra Jawa Timur” (2014), Surabaya: Dewan Kesenian Jawa Timur

Umar Fauzi Balla, resensi “Puisi: Pengalaman dalam Olah Bunyi” untuk buku puisi “Tretalogi Kerucut” (Kompas, 28 Desember 2014)