Jumat, 27/05/2022 | 01:04 WIB
Gresik Satu

Dirawat 15 Hari, Warga Bawean dan BKSDA Lepas Dua Penyu Terancam Punah ke Laut

Para petugas RKW 11 Pulau Bawean bersama Konservasi Bawean serta masyarakat saat mengukur besar tubuh penyu sisik dan melepas keduaanya ke Pantai Dusun Pajinggahan, Desa Tanjungori, Pulau Bawean / Foto : Konservasi Bawean.

GresikSatu I Keberadaan penyu di Pulau Bawean patut diperhatikan. Warga Bawean bersama tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 11 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bawean serta aktivis perkumpulan peduli konservasi Bawean dan Masyarakat Adat Bawean (MAB) melepas dua penyu  Sisik di Pantai Dusun Pajinggahan, Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak Pulau Bawean, Senin (21/3/2022) lalu.

Mulanya, kedua penyu itu ditemukan warga sekitar bernama Sriyono dari hasil tangkapan jaring nelayan di desanya. Sriyono yang juga Pegiat Penyu Bawean itu pun mengambil dua ekor penyu jenis sisik yang berjenis kelamin jantan tersebut untuk dirawat sekitar 15 hari di kolam dekat rumahnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 11 BKSDA Pulau Bawean Nur Syamsi mengatakan, dua penyu sisik (Eretmochelys imbricata) lebih dulu dilakukan pengukuran pada penyu sebelum dilepasliarkan ke pantai.

Baca Juga: Finalis Lomba PWI Gresik Berkunjung ke Gedung Dewan, Diberi Wejangan Berorganisasi Itu Penting

“Dengan hasil pengukuran, berat 3,4 kg, ukuran kerapas (panjang 34 cm lebar 31), panjang dari kepala 45 cm, panjang kaki depan 17 cm, kaki belakang 10 cm. Satunya, berat 5,4 kg, ukuran kerapas (panjang 40 cm lebar 37), panjang dari kepala 53 cm, panjang kaki depan 21 cm, kaki belakang 13 cm,” ungkap Nur Syamsi, Rabu (23/3/2022).

Menurutnya, pelepas liaran penyu sisik sebanyak dua ekor di lakukan di pantai Dusun Pajinggahan koordinator -5.723833, 112.688913. Dengan disaksikan oleh Tim RKW 11, Ketua Pokdarwis Pantai Cellong, Konservasi Bawean, dan masyarakat sekitar.

Kedepan, akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang habitat penyu di Pulau Bawean. Khusunya di Perairan Desa Tanjungori.

“Kami bersama warga sudah melepas dua penyu ke habitatnya,” singkat Nur Syamsi.

Ditemukan Banyak Penyu Bertelur Sampai Masa Tukik

Kabid Penelitian, Pendidikan, Pengembangan SDM dan Inovasi Perkumpulan Peduli Konservasi Bawean Yusra menjelaskan, penyu laut merupakan satwa di muka bumi dengan masa hidup yang sangat panjang. Waktu yang dibutuhkannya untuk menjadi dewasa sangat lama.

“Kebanyakan jenis penyu mesti berpindah-pindah dari habitat satu ke yang lainnya selama periode tersebut. Migrasi yang sangat jauh, baik semasih menjadi tukik dan remaja, maupun setelah mereka dewasa adalah fenomena umum pada penyu laut,” jelasnya.

Perempuan lulusan Magister Ilmu Biologi itu menambahkan, Tukik dan penyu remaja bermigrasi panjang saat fase pelagis di lautan lepas. Oleh karena itu panjangnya masa bermigrasi penyu akhirnya hampir seluruh perairan di Indonesia ditemukannya penyu, salah satunya di Pulau Bawean.

“Status Pulau bawean ditengah-tengah antara Pulau Jawa dan pulau Kalimantan sehingga wajar saja pulau Bawean dikelilingi oleh lautan, dan merupakan salah satu tempat migrasi penyu. Dengan demikian seringnya ditemukan penyu dalam keadaan tukik, remaja, dewasa, bahkan pantai pulau Bawean sebagai habitat penyu laut bertelur,” papar Yusra.

Perwakilan dari Masyarakat Adat Bawean Ahen mengatakan, pihaknya akan terus berupaya mensosialisikan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan.

“Kami kami juga sudah memasang spanduk sosialisasi dan ajakan sadar lingkungan bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Diketahui, Penyu sisik adalah jenis penyu terancam punah yang tergolong dalam familia Cheloniidae. Penyu ini adalah satu-satunya spesies dalam genusnya. Spesies ini memiliki persebaran di seluruh dunia, dengan dua subspesies terdapat di Atlantik dan Pasifik.**(Faiz/Tov)