Sabtu, 28/05/2022 | 04:46 WIB
Gresik Satu

Empon-empon, Etnomedisin, dan Kesehatan

Sekitar pukul 15.00 WIB, saya sampai di Kantor PCNU Gresik yang berada di Jalan DR. Wahidin Sudiro Husodo, Kebomas, Gresik. Meski hujan mengguyur Gresik sejak pukul 14.00 WIB, niat saya untuk hadir mendengarkan diskusi belum luntur. Ya, di sana, akan berlangsung Pameran dan Diskusi Publik: Rempah-Rempah dan Etnomedisin dalam Sistem Kesehatan MasyarakatIndonesia” yang diselenggarakan oleh Lesbumi Gresik pada 19 April 2022.

Beruntung, ternyata diskusi belum mulai, saya pun dapat melihatsajian sembilan macam empon-empon yang dipamerkan Lesbumi Gresik, antara lain: kencur, kunyit kering, temulawak, kunyit, jahe gajah, lengkuas, jahe emprit, jahe merah, dan kluwak. Semua empon-empon tersebut merupakan hasil pertanian dari Kedamean, Gresik. Saya membaca setiap kartu trivia tentang manfaat empon-empon, ternyata menerangkankesamaan informasi, yaitu: “Kandungan sejumlah senyawa kimia dalam tumbuhan empon-empon telah diteliti mampu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga terhindari dari penyakit.”

Tapi kesamaan informasi setiap kartu trivia tentang manfaat empon-empon bukan sebuah masalah. Toh, saya jadi memahami frasa “meningkatkan daya tahan tubuh” sebagai makna lain dari kesamaan manfaat empon-empon yang dipamerkan. Makna lain itu adalah kita jadi mengingat kembali bagaimana animo masyarakat mengonsumsi empon-empon di masa pandemiCovid-19; atau poster dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia perihal pengobatan tradisional menggunakan empon-empon.

Salah satu layanan masyarakat tentang pemanfaatan tanaman untuk cegah Covid-19
Sumber: https://twitter.com/farmalkesRI/status/1242353454015590400

Sekitar pukul 16.00 WIB, Lesbumi Gresik memulai diskusi publik. Sebelum itu, ada penjelasan penting yang disampaikan Ahmad Zayati (Wakil Direktur Utama RSI Nyi Ageng Pinatih Gresik) sebagai “keynote speaker”, yaitu: Etnomedisin merupakan cabang antropologi medis yang membahas asal mula penyakit, sebab-sebab, dan cara pengobatan menurut kelompok masyarakat tertentu (etnis). Ahmad Zayati mencontohkan sanggring kolak ayam sebagai etnomedisin di Gresik. Penjelasan tersebut seolah arah dasar keberlangsungan diskusi publik.

sanggring kolak ayam
Sumber: https://disparbud.gresikkab.go.id/2020/06/17/sanggring/

Karena itu, dalam diskusi publik, narasumber memiliki materi yang berbeda untuk disampaikan kepada hadirin, antara lain:Maya Septriana (Kaprodi D4 Pengobatan Tradisional Unair) dengan materi “Masa Depan Pengobatan Tradisional dan Tanaman Obat di Indonesia; Anom Astika (Staf Ahli Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Peneliti Jalur Rempah) dengan materi “Jalur Rempah Indonesia Dulu dan Masa Kini”; dan Khoirul Umam (Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama) dengan materi “Strategi dan Upaya NU dalam Melestarikan Pengobatan Tradisional”.

Tanaman Obat

Gara-gara menunggu hujan reda, akhirnya saya sampai di rumah pukul 21.00 WIB. Saya pun mengingat apa saja yang disampaikan tiga pembicara diskusi publik. Entah kenapa, saya justru mengingat kartu trivia tentang manfaat empon-empon. Saya baru menyadari bahwa empon-empon termasuk tanaman obat. Akhirnya, saya membuka buku “Tanaman Obat Keluarga”(1998). Barangkali pikiran saya diakibatkan rasa penasaran mengenai apa manfaat empon-empon selain meningkatkan daya tahan tubuh.

Maya Septriana menyampaikan materi kepada hadirin
Foto: Aji (2022)

Pertama, saya membaca deskripsi kencur (Kaemferia galanga L.): “Tanaman kecil ini ukuran daunnya bisa 8 x 25 cm. Karena batangnya pendek sekali, daunnya sampai menutup tanah. Warna bunganya ungu putih. Dijadikan tanaman hias penutup tanah pun cocok. Bahkan Anda bisa memelihara tanaman ini di pot yang diberi tanah gembur…” Kencur bermanfaat menghangatkan; menyingsetkan; menghilangkan rasa sakit; memudahkan pengeluaran air dan angin dari tubuh; serta mengencerkan dahak.

Kedua, saya membaca deskripsi temulawak (Curcuma xanthorizza Roxb.): “Tanaman yang tingginya bisa mencapai 2.5 m ini banyak ditemukan di hutan-hutan tropis. Daunnya bewarna hijau tua, bergaris coklat. Bunganya bewarna kuning dan bergerombol. Rimpang temulawak yang beraroma khas sudah lama dipakai sebagai obat. Sepintas temulawak mirip kunyit namun lebih besar.” Temulawak bermanfaat menurunkan kadar kolestrol; menghilangkan nyeri; antiradang; hingga menurunkan panas.

Ketiga, saya membaca deskripsi lengkuas (Alpinia galanga Stuntz.): “Lengkuas atau laos ada yang berimpang putih, ada pula yang berimpang merah. Yang merah ukurannya lebih besar dan khasiatnya untuk obat lebih banyak. Tanaman ini memiliki batang semu seperti Jahe, tapi tingginya bisa sampai 2 m. Daunnya pun lebih melebar. Lengkuas yang subur panjang daunnya bisa setengah meter dan lebarnya 15 cm.” Lengkuas bermanfaat antijamur; antibakteri; menghangatkan; membersihkan darah; menambah nafsu makan; hingga mengencerkan dahak.

Kebun dapat dimanfaatkan untuk tanaman obat
Foto: Aji (2021)

Keempat dan seterusnya tidak perlu saya tulis di sini. Yang jelas, tiga empon-empon (tanaman obat) di atas atau yang lainnya(belum tersebut) begitu mudah untuk tumbuh di lingkungan kitaApalagi cara budidaya tanaman obat bisa dilakukan di sekitar pekarangan rumah, kebun, dan pot. Karena itu, kita mengenal istilah Toga (Tanaman Obat Keluarga), yang berfungsi sebagai cara meningkatkan kesehatan keluarga, serta kesadaran dalam memanfaatkan lingkungan.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

Daftar Bacaan

Cisca Setiawan Dkk (1998), Tanaman Obat Keluarga, Jakarta: Intisari