Jumat, 27/05/2022 | 23:00 WIB
Gresik Satu

Era Disrupsi: Sebuah Tantangan bagi Lulusan SMK

Oleh: Dr. Elvi Wahyudi, MM.

Dunia telah berubah. Taksi konvensional mulai ditinggalkan, ojek pangkalan mulai tersingkirkan, seiring munculnya sarana transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek dan Grab. Media cetak koran ditinggalkan beralih pada berita online. Dimungkinkan, dengan munculnya inovasi dalam melakukan berbagai layanan, kursus secara online mampu menggeser eksistensi lembaga pendidikan.

Rupanya perubahan dahsyat terjadi di hadapan kita. Ya. Inilah era disrupsi yang harus dihadapi. Disrupsi merupakan bentuk inovasi yang membuat sesuatu yang ada menjadi usang. Era disrupsi ini menyebabkan perubahan pola hidup masyarakat. Kehadirannya tidak dapat dihindari. Teknologi mendorong berbagai perubahan bagi kehidupan manusia, tidak hanya dalam teknologi itu sendiri tetapi juga dalam kehidupan manusia meliputi cara manusia berkomunikasi, cara manusia berorganisasi, dan sebagainya. Salah satu contohnya telepon seluler. Benda ini memudahkan komunikasi antarmanusia.

Inovasi disrupsi atau disruptive inovation merupakan inovasi yang berhasil mentransformasi suatu sistem atau pasar yang eksisting, dengan memperkenalkan kepraktisan,  kemudahan akses, kenyamanan, dan biaya yang ekonomis. Mengutip Clayton M. Christensen dan Joseph Bower “Disruptive Technologies: Catching the Wave”, Harvard Business Review. Inovasi Disrupsi ini biasanya mengambil segmen pasar tertentu yang kurang diminati atau dianggap kurang penting bagi penguasa pasar, namun inovasinya bersifat breakthrough dan mampu meredefinisi sistem atau pasar yang eksisting.

Dalam bahasa Indonesia yang disadur bebas disrupsi adalah inovasi yang mengacau atau inovasi yang “mengganggu”. Artinya, inovasi teknologi baru akan mengganggu keberadaan teknologi yang lama. Disrupsi dapat dikatakan sebagai inovasi yang mengganggu jika inovasi tersebut membawa teknologi baru yang lebih murah dan memudahkan dibanding teknologi yang telah ada. Efisiensi yang ditawarkan akhirnya mengganggu teknologi lama yang mahal dan tidak efisien.

Era disruption ditandai dengan perubahan menjadi amat cair dan bergerak mengikuti 3S (Speed, Surprises, dan Sudden Shift).  Speed, artinya perubahan pada era ini bergerak begitu cepat karena didukung oleh teknologi. Validitas suatu informasi juga dengan cepat diketahui kebenarannya. Semuanya serba cepat, tidak lagi bergerak linear, melainkan eksponensial. Perubahan yang terjadi juga menimbulkan banyak surprise atau kejutan. Semua terkejut. karena banyak hal baru yang tidak terduga dan menimbulkan dampak yang luar biasa.

Tidak ada yang menyangka harga batu bara dan migas begitu cepat berbalik arah. Tak ada yang menyangka sosok orang yang biasa-biasa saja justru dipilih rakyat sebagai pemimpin. Sudden Shift berarti banyak hal mengalami pergeseran tiba- tiba, tapi bukan menghilang. Pasar dan pelanggannya tetap di sana, tetapi kini diam-diam berpindah. Banyak orang merasa segala sesuatu mengalami kelesuan karena siklus ekonomi. Nyatanya, rezeki dapat mengalami perpindahan secara tiba-tiba.

Inovasi layanan pendidikan dituntut melakukan berbagai inovasi sehingga mampu tetap eksis dan berkembang bahkan menemukan inovasi baru dalam menghadapi tantangan global. Jika tidak, lembaga pendidikan tersebut akan menjadi tidak diminati. Insan pendidikan harus mulai melakukan inovasi-inovasi dengang memanfaatkan teknologi, mulai dari segi layanan, administrasi, akademik, kurikulum sampai pada pengembangan minat dan bakat siswa.

Inovasi dalam hal ini bisa dilakukan dari sisi layanan untuk mendapatkan rekap aktivitas siswa secara real time, legalisisasi atau validasi transkrip maupun ijazah dengan mudah, peniliaan yang lebih terbuka, ujian masuk maupun ujian dalam proses pembelajaran yang dapat dilakukan secara mandiri dan tidak terbatas pada ruang dan waktu, kartu pelajar berbasis digital yang dapat terkoneksi ke berbagai layanan di sekolah.

Era disrupsi erat dengan kondisi teknologi digital yang semakin canggih sehingga bagi siswa yang lahir di era serba digital ini memiliki budaya yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Siswa berada pada akses  informasi yang lebih mudah, jaringan yang lebih global, dengan komunikasi yang bersifat dua arah. Ini yang tidak bisa dikesampingkan dosen, guru  sebagai tenaga pendidik. Siswa era ini terbiasa berdialog dengan menggunakan platform media sosial serta tidak memandang seseorang lebih senior atau junior.

Siswa yang tengah belajar mengembangkan ilmu pengetahuan harus bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi. Mereka harus mulai memperhatikan pentingnya penguasaan teknologi serta bahasa asing. Kemampuan menguasai dua hal tersebut menjadi modal penting untuk bersaing di tengah arus globalisasi.

Siswa harus mengembangkan nalar kritis dan daya kreatifnya, semangat kolaborasi juga harus dipupuk dalam mengerjakan pekerjaan dan permasalahan rumit yang memang tidak dirancang untuk dikerjakan oleh robot dan mesin. Dunia pendidikan pun diharapkan mampu berperan aktif untuk mempersiapkan para siswa dalam memasuki Revolusi Industri 4.0.

Kurikulum yang dirancang seyoginya mengusung serta memuat pembelajaran dan pengetahuan terkait dunia industri. SMK atau lembaga pendidikan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja. Lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif. SMK Bisa! **

 

Penulis adalah, pengawas SMK Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik