Selasa, 04/10/2022 | 14:39 WIB
Gresik Satu
Gresik Seru

Era Kejayaan Bupati Pusponegoro, Bangun Alun-alun Hingga Masjid Jami’ Gresik

Era Kejayaan Bupati Pusponegoro, Bangun Alun-alun Hingga Masjid Jami' Gresik
Makam KT Poesponegoro yang terbuat dari batu andesit serta ukiran tulisan lama aksara Jawa /foto : Faiz

GresikSatu | Menelusuri kejayaan Gresik tidak lepas dari sosok Bagus Lanang Peospodiwongso atau Kyai Tumenggung Pusponegoro. Bupati Gresik pertama itu tercatat telah banyak memberikan peninggalan bangunan sejarah yang bisa dinikmati hingga kini. Dua diantaranya, Alun-alun kota hingga Masjid Jami’ Gresik.

Diketahui, Pusponegoro sendiri memimpin Gresik sejak tahun 1688 hingga 1696. Secara kongkrit, setelah Kerajaan Giri Kedaton runtuh, yang kekuasaan diambil alih Kesultanan Mataram Islam. 

Alhasil, Pusponegoro menjadi Bupati dibawah kempimpinan kerajaan Mataram Islam. Tak heran banyak kebijakan yang diterpakan, disesuaikan dengan kebijakan pemerintahan pusat kerajaan. Mulai dari penataan kota hingga pengaplikasian hukum dan budaya.

Salah satu keluarga KT Pusponegoro Raden Ibrahim Garda Bravere Vaganza Maryono mengaku, tidak banyak literasi yang menjelaskan secara detail terkait kepemimpinan bupati pertama. Namun dari temuan batu prasasti yang ditulis menggunakan hurufnya aksara Pegon, menunjukan kejayaan Gresik dibawah kepempinan KT Pusponegoro.

“Ada juga peninggalan Pusponegoro yakni  bedug di Masjid Jamik yang dibuat penanda sholat seiring dengan pembangunan masjid,” katanya, saat diwawancarai wartawan Gresiksatu.com, Rabu (9/3/2022).

Bahkan, Pusponegoro tercatat pernah memindahkan Makam Maulana Malik Ibrahim. Dari yang sebelumnya berada di daerah pesisir Pelabuhan Gresik. Dipindahkan di tempat sekarang yang saat ini banyak didatangi para peziarah. Sayangnya, tidak dijelaskan secara pasti, penyebab makam harus pindahkan.

“Termasuk Alun-alun kota itu merupakan peninggalan Eyang Pusponegoro, tapi masih menjadi perdebatan,” paparnya.

Disebutkan, penataan kota Gresik hampir mirip dengan wilayah kota yang masih kekuasaan Kerajaan Mataram Islam. Dimana, Masjid Jami’ selalu berdekaatan dengan Alun-alun dan pusat pemeritahan. Di Gresik sendiri, dulunya pusat pemerintahan berada di utara Alun-alun yang saat ini digunakan sebagai kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Hal ini menandakan, jika kebijakan pemerintahan pusponegoro masih banyak dipengaruhi oleh Kesultanan Mataram Islam. “Ruang terbuka yang tanpa sekat baik pejabat dan masyarakat, bisa membuat acara maupun kumpul bersama,” jelasnya.

Raden Ibrahim Garda Bravere Vaganza Maryono atau ketap dipanggil Vigo menjelaskan, selain penataan kota dan pembangunan yang masif. Pusponegoro diketahui juga meninggalkan senjata Meriam. Dulunya senjata ini, diletakan di kantor bupati lama, sebelah utara Alun-alun.

Prestasi lainnya yang dilakukan KT Pusponegoro menggeliatkan budaya yang sudah dilakukan masyarakat sebelum Era nya. Baik wayang kulit dan kearifan lokal seperti pencak macan. Lalu pasar bandeng 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan.

Era Kejayaan Bupati Pusponegoro Bangun Alun-alun Hingga Masjid Jami' Gresik
Salah satu pintu masuk makam KT Poesponegoro di Komplek Makam Gapuro Sukolilo / foto : Faiz

“Yang sebelumnya sudah ada sejak zaman Sunan Giri oleh Pusponegoro dimeriahkan dan dirayakan lebih besar lagi,” tukasnya.

Pusponegoro sendiri meminggal pada tahun 1696. Praktis, sepeninggal Pusponegoro berkahirnya kepemimpinan dirinya menjadi bupati Gresik yang sudah menjabat selama 8 tahun. Kini, makam Pusponegoro yang berada di Jalan Pahlawan itu masih banyak dikunjungi para peziarah. Utamanya para pemimpin Gresik.

“Secara sosial Poesponegoro, dikenal masyarakat seorang sosok yang cerdik dan mampu bergaul dengan mudah bersama rakyatnya. Dan mahir di ilmu agama dan kanuragan,” pungkasnya. (faiz/sah)