Kamis, 26/05/2022 | 23:52 WIB
Gresik Satu

Gelandangan dan Pengemis di Gresik, Bakal Dikenai Sanksi Denda Hingga Pidana

Petugas dari Satpol PP saat mengamankan gepeng di Perlimaan Petro (Dokumen GresikSatu)

GresikSatu | DPRD Gresik bakal menyiapkan penegakan hukum bagi keberadaan gelandangan dan pengemis di jalanan. Mereka yang kedapatan melakukan aktivitas di wilayah Kabupaten Gresik bakal diberi sanksi tegas. Yakni berupa, sanksi denda hingga pidana kurungan.

Aturan itu masuk dalam, rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Ketentraman dan Ketertiban Umum serta Perlindungan Masyarakat. Kabarnya, sebentar lagi aturan itu bakal digedok oleh kalangan legislatif.

Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Gresik Khoirul Huda mengatakan, regulasi tersebut akan menggantikan dan melengkapi Perda nomor 15 tahun 2013 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum.

“Fenomena gepeng tidak bisa dianggap sepele. Jika diperhatiakan, aktifitas mereka kian marak menjelang Ramadhan. Baik kawasan persimpangan jalan, rumah makan, warung kopi dan tempat umum lainnya,” katanya, Minggu (20/3/2022).

Baca Juga : ASN yang Maju Sebagai Cakades, Tak Bisa Menikmati Gaji Dobel

Keberadaan gepeng di jalanan ini sebenarnya sudah banyak yang ditertibakan. Utamanya tindakan tegas dari Satpol PP. Namun, setelah dirazia mereka kembali beraktifitas. Untuk itu, menurut Huda, perlunya regulasi yang lebih tegas dalam mengatur keberadaan gepeng dan pengemis.

“Dalam Rapeda itu bahkan, memberikan sanksi yang tidak main-main bagi yang nekat beroperasi. Mulai dari pidana kurungan paling lama tiga bulan hingga denda maksimal Rp 50 juta,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Gresik Mochammad mengakui, selama ini belum ada penindakan yang tepat sasaran. Utamanya, aturan terkait memutus mata rantai para gepeng tersebut.

“Perlu dicari tahu asal usulnya, jika dari daerah luar ya harus dikembalikan ke daerah asalnya,” ungkapnya,

Sebaliknya, lanjut Mochammad, jika memang berasal dari wilayah Gresik, maka wajib untuk dilakukan pembinaan dengan pembekalan padat karya.

“Jika dibiarkan tentu akan mengganggu, harapannya Raperda tersebut bisa menjadi solusi agar peredaran gepeng tidak menjadi masalah sosial di wilayah Gresik,” paparnya. **