Minggu, 29/05/2022 | 06:51 WIB
Gresik Satu

Harsono Sapuan dan Empat Kover

Sejak kuliah di Institut Seni Indonesia Surakarta tahun 2012, dua atau tiga bulan sekali setiap akhir pekan, saya pergi ke Yogyakarta. Kalau sudah keluar dari Stasiun Tugu, saya berjalan kaki melewati Jalan Malioboro menuju Shopping Center Yogyakarta untuk berburu buku bekas. Setelah hati puas, saya pergi berjalan kaki dari Shopping Center Yogyakarta menuju ke rumah tinggal Harsono Sapuan yang berada di belakang Terminal Ngabean.

Ya, tujuan utama saya pergi ke Yogyakarta cuma menginap semalam di rumah tinggal Harsono Sapuan (saya biasa memanggil Om Har). Kalau sudah sampai di rumah tinggalnya, Om Har selalu menyuruh saya makan sebelum memperlihatkan beberapa buku bekas yang terbeli. Kalau habis magrib, Om Har pasti mengajak saya keluar, entah ke tempat makan bakmi jawa atau mengunjungi temannya. Tidak jarang Om Har membagikan ilmunya kepada saya. Saya juga ingat bagaimana Om Har menasihati saya agar mulai belajar desain buku.

Om Har adalah pelukis kelahiran Gresik, 17 Mei 1967. Pada tahun 1996, Om Har menyelesaikan studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Beberapa pameran kelompok dan tunggal sering dilakukan Om Har, salah satunya pameran tunggal “Pesan Cinta Harsono Sapuan” di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta (2011).

Om Har menghadiahkan lukisannya kepada Aji
Gambar: Aji (2022)

Purwadmadi, novelis “Sinden” (2007), menulis dalam pameran lukisan “Rekiblik Bagong” di Hotel Duta Wisata – 1 (2013) bahwa Harsono Sapuan selalu menyuarakan gerak hatinya lewat karya yang simbolik-figuratif maupun simbolik-ornamentik; bersahaja dalam memasuki ruang simbolik figur yang ditampilkan dalam karyanya; dan menyerap energi gejala sosial ke dalam kemas-kemas pertanda figur yang diciptakannya.

Pengalaman tak terduga ketika Om Har mengajak saya untuk melukis bersama para pelukis Yogyakarta dalam acara Haul Saptohoedojo ke-88 di Makam Seniman Girisapto Imogiri (2013). Walau saya tidak bisa melukis, Om Har justru memberi semangat. Om Har malah tertawa setelah saya memperlihatkan hasil lukisan. Saya senang karena lukisan saya ikut dipamerkan di Jogja Gallery (2013) dan masuk katalog “Sapta Pelangi ‘88” (2013).

Katalog “Sapta Pelangi ‘88” dan lukisan “Cat” karya Aji
Gambar: Aji (2022)

Pada tahun 2016, Om Har meninggal dunia di Yogyakarta. Saya terpukul karena posisi saya berada di Gresik dan baru tahu kabar Om Har meninggal setelah ditelfon istrinya. Jenazah Om Har dimakamkan di Makam Seniman Girisapto Imogiri. Sejak itu, saya jarang pergi ke Yogyakarta. Sosok Om Har yang gampang tertawa, humoris, kebapakan, “ngemong”, dan sangar kalau diam selalu hidup dalam ingatan saya.

Kover

Om Har, selain akrab dengan seniman di bidangnya (pelukis), juga akrab dengan penyair (terutama asal Gresik). Tidak heran jika lukisannya menjadi kover untuk dua buku karya penyair asal Gresik (Lenon Machali dan Mardi Luhung). Kedekatan ini menciptakan aura positif karena Om Har, seniman yang telah tinggal di Yogyakarta, tetap menjaga silaturahmi dengan seniman (penyair) dari kota kelahirannya.

Saya mencatat ada empat lukisan Om Har yang menjadi kover, antara lain: “Malaikat Kecilku” (2010) untuk jurnal puisi Amper edisi 01 (2011); “Naik Hewan Impian” (2009) untuk buku puisi “Buwun” (2011) karya Mardi Luhung; “Smile and Beauty” (2008) untuk buku puisi “Biji Bunga Matahari” (2011) karya Ririe Rengganis; dan “Ikan-ikan” (2008) untuk buku puisi “Pesisir Sang Kekasih” (2012) karya Lenon Machali.

Saya pikir empat lukisan Om Har yang menyampuli tiga buku puisi dan satu jurnal puisi dapat menggugah pembaca sebelum memasuki berlembar halaman. Bukan lukisan yang dipaksakan ke naskah puisi karena saya merasa dua karya tersebut bisa saling menghidupi. Saya menilai lukisan Om Har, selain berfungsi memperindah perwajahan, menjadi tenaga tersendiri bagi jiwa puisi.

Dua lukisan Harsono Sapuan untuk jurnal puisi dan buku puisi
Gambar: Aji (2022)

“Malaikat Kecilku” mengalami olahan dengan hanya mengambil figur ganjil (bocah laki-laki bersayap dengan wajah lucu). Saya menilai figur ganjil di kover justru klop dengan pemberian judul “Di Bawah Gamelan Gatoloco Jalan ke Sumber”. Selain itu, figur ganjil seolah pernyataan semangat dari penggagas jurnal puisi Amper (para penyair muda Jawa Timur waktu itu), antara lain: Alek Subairi, A. Muttaqin, Dody Kristianto, hingga Umar Fauzi Ballah.

“Naik Hewan Impian” mengalami olahan dari warna lukisan warna mencolok berganti warna sepia. Figur seseorang menunggangi kuda terbang di atas perkampungan pesisir sesuai dengan puisi-puisi di “Buwun” yang mengulik Pulau Bawean. Saya membayangkan seseorang tersebut adalah tokoh yang hidup dalam puisi-puisi di “Buwun”.

Dua lukisan Harsono Sapuan untuk dua buku puisi
Gambar: Aji (2022)

Lain lagi “Smile and Beauty” yang hampir utuh terpasang di kover. Perancang kover menambahkan balok warna putih menutupi bagian dada figur wanita bertangan sepuluh. Saya mengamati tujuan balok warna putih demi menonjolkan judul “Biji Bunga Matahari”. Ririe Rengganis dalam “Catatan Kecil tentang Biji Bunga Matahari” di “Biji Bunga Matahari” mengucapkan terima kasih karena Harsono Sapuan mengizinkan “Smile and Beauty” untuk kover bukunya.

“Ikan-ikan” mengalami pemotongan dengan fokus menampilkan bentuk ikan. Warna biru nge-dop pada “Ikan-ikan” tidak perlu diolah lagi sehingga judul “Pesisir Sang Kekasih” warna putih tulang terlihat menonjol di kover. Kalau menghubungkan “kekasih”’ pada judul dengan bentuk ikan di kover seolah penawaran Lenon Machali tentang transendensi. Saya kira bisa dikaitkan pada tangkapan Suminto A. Sayuti di “Pesisir Sang Kekasih”: “Dalam menciptakan ‘negeri kata-kata’ menuju ‘puisi sunyi’, tampak bahwa Lenon selalu berupaya untuk masuk dalam proses transendensi.”

Bukan hal baru menjadikan lukisan sebagai kover buku, jurnal, atau majalah. Saya kira yang selalu baru adalah kesinambungan antara perupa (pelukis), perancang kover, dan penulis. Hubungan mereka membentuk ruang kreatif yang memiliki tujuan demi apresiasi yang lebih luas.**

 

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

 

Daftar Bacaan

Afrizal Malna dkk (2011), “Di Bawah Gamelan Gatoloco Kembali ke Sumber”, Surabaya: Jurnal Puisi Amper Edisi 01

Lenon Machali (2012), “Pesisir Sang Kekasih”, Yogyakarta: Kampong Pesisir

Mardi Luhung (2011), “Buwun”, Gresik: Buku Bianglala

Ririe Rengganis (2011), “Biji Bunga Matahari”, Surabaya: Amper Media

Poster Pameran Lukisan “Rekiblik Bagong”, 23 Februari s.d. 23 Maret 2013, Hotel Duta Wisata – 1

Katalog Pameran Lukisan “Sapta Pelangi ’88”, 7 s.d. 8 Juni 2013, Jogja Gallery