Sabtu, 26/11/2022 | 20:48 WIB
Gresik Satu
Gresik Seru

Haul KH Syaf’i Pongangan Gresik ke 57 dan Kisah Karomah Melipat Bumi

Gresiksatu.com
Pelaksanaan ngaji nggureng di area makam KH Syafi'i(Foto : Chofifah/gresiksatu.com)

GresikSatu | Bagi masyarakat Desa Pongangan Kabupaten Gresik KH Syafi’i adalah panutan hidup. Sosok kewaliannya hingga kini masih dirasakan. Tak heran setiap tahun gelaran haulnya banyak didatangi ribuan masyarakat setempat hingga luar daerah yang ingin mencari keberkahan.

KH Syafi’i sendiri adalah ulama’ besar yang namanya diabadikan sebagai nama jalan dari daerah Sukomulyo hingga Bunder. Disamping sebagai seorang Kiai, ia juga dikenal menjadi tuan tanah dermawan yang mewakafkan tanah miliknya demi kepentingan sosial. Seperti tempat ibadah, hingga lembaga pendidikan.

Pada peringatan haul KH Syafi’i ke 57 beberapa rangkaian kegiatan turut digelar. Seperti, ziarah makam, khotmil qur’an, pengajian, ishari, Ngaji Nggureng dan puncak acara adalah arak-arakan tumpeng.

Istilah Nggureng atau Nggereng berasal dari kata “Nggermemeng” yang berarti berbicara dengan suara lembut dan hanya sanggup diperdengarkan sendiri.

“Ngaji Nggureng merupakan tradisi kecintaan terhadap wali Allah dengan memanjatkan sholawat dan bacaan manaqib pada jam 12.00 tengah malam menggunakan nada suara lemah,” kata Ahmad Junaidi Mujaddid, cucu dari KH Syafi’i, Selasa (22/11/2022).

Kisah Karomah KH Syafi’i Melipat Bumi

Menurut Gus Najib cicit generasi ke-4 KH Syafi’i, jika mbahnya merupakan sosok ulama yang banyak menjadi rujukan di masa hidupnya. Bahkan namanya melambung di pelosok Gresik dan Surabaya.

Konon, salah satu kesaktiannya adalah mampu menguasai ilmu lipat bumi. Yakni perjalanan lintas kota ditempuh dalam waktu singkat. Seperti dikisahkan, ketika itu KH Ahmad Dahlan Jogja dikabarkan telah meninggal dunia.

Kemudian, Kyai Zubair Karim yang juga ulama Gresik, sowan ke Mbah Idris Leran berniat takziyah. Lalu Zubair yang kini namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Gresik, diarahkan untuk sowan ke KH Syafi’i.

Karena mendesak hendak takziyah ke Jogja, dua ulama besar itu menaiki kereta kuda atau dokar. Dengan ilmu kesaktian yang dimilik KH Syafi’i, kereta kuda yang menjadi trasportasi populer di masanya, itu begitu cepat melaju. Sampai akhirnya menjumpai proses pemakaman KH Ahmad Dahlan yang berada di Jogja.

“Kelebihan kanuragan yang dimiliki salah satunya adalah ilmu Lempit Bumi, perjalanan lintas kota atau daerah hanya dapat ditempuh dalam waktu yang cukup singkat,” katanya, Jum’at (7/1/2022).

Keturunan Sunan Giri

Julukan kecilnya adalah Saeng. Setelah menunaikan ibadah haji namanya berubah menjadi KH Mohammad Syafi’i. Dia anak ke-3 dari 10 orang bersaudara. Syafi’i dilahirkan oleh sepasang suami istri yang bernama Raden Singousul dan Raden Ajeng Samiani.

Jika diurutkan dari garis silsilah, KH Syafi’i merupakan keturnan dari Kanjeng Sunan Giri ke – 11. Sedangkan Gus Najib cicit KH Syafi’i keturunan ke 15 atau yang terakhir dari Sunan Giri.

Untuk jalur pendidikannya, ia dahulu pernah ngaji kepada Mbah Idris Leran, kemudian mondok di Ponpes Qomaruddin menjadi santri dari Mbah Sholeh Sanin.

“Selain itu, beliau juga pernah belajar kedikdayaan atau ilmu kanuragan kepada keponakan sekaligus menantunya Mbah Sholeh, yang bernama Mbah Abdur Rohman,” terangnya.

Selain menjadi seorang kyai sakti mandraguna, KH Syafi’i dahulunya juga pernah menjabat Kepala Desa Pongangan periode ke tiga. Dahulu Pongangan masih desa baru, yang sebelumnya masuk dalam peta Kawedanan Suci.

Sebelum ada istilah kecamatan, masih ada kawedanan yakni, di daerah Suci. Dibuktikan dengan pemakaman sebelah Mbah Syafi’i, ada makam dari wedana (camat) Suci.

Untuk menghormati perjuangan, namanya kini menjadi nama jalan dari Bunder hingga Tenger. Banyak masyarakat memperingati haulnya setiap 28 robiul akhir, ba’da maulud sesudahnya Rabu wekasan. Tradisi tersebut selalu disambut meriah.

Seperti  tiga tumpeng raksasa setinggi 2 meter, di kirab sepanjang jalan raya Pongangan menuju Makam KH Safi’i. Usai di doakan, ratusan warga langsung berdesak-desakan merebut tiga tumpeng raksasa yang terbuat dari nasi kuning dan buah-buahan. 

“Masyarakat percaya jika memakan tumpeng akan mendapat berkah dari doa bersama. Selain bertujuan sebagai wujud syukur atas melimpahnya hasil bumi, arak-arakan tumpeng raksasa dilakukan untuk penolakan bala’ dan pengharapan yang lebih baik di tahun mendatang,” pungkasnya. (ovi/aam)

Baznas Gresik