Jumat, 27/05/2022 | 01:03 WIB
Gresik Satu

Imbas PMK, Produksi Sapi Perah di Gresik Menurun 

Teks foto : Salah satu sapi perah yang terinfeksi virus PMK lemas tak berdaya di Desa Randupadangan, Kecamatan Menganti (Faiz /gresiksatu.com).

GresikSatu | Imbas wabah penyakit mulut kuku (PMK) di Gresik, berpengaruh produksi sapi perah. Hal tersebut dirasakan oleh salah satu peternak sapi perah di Desa Randupadangan, Kecamatan Menganti Samsul Arif.

Sejak wabah PMK ini menyebar ke Gresik, produksi susu dari hewa sapi ternak sudah tidak produksi. Samsul menyebut, wabah PMK ini sangat merugikan karena produksi susu tidak keluar. Semua sapi indukan dan anakan terinfeksi. 

“Kalau normal biasanya per ekor sapi perah bisa produksi 10 sampai 15 liter,” ucapnya di kandang sapinya, Jum’at (13/5/2022). 

“Sejak pasca Hari Raya Idul Fitri semua sapi perah sudah tidak produksi. Sudah 6 ekor anakan sapi yang meninggal, dan indukan 4 ekor. Yang mulanya terinfeksi dari anakan,” tambahnya. 

Pria yang juga punya usaha mikro kecil menengah (UMKM) susu murni Mitra Wijaya ini, saat ini di kandangnya hanya tersisa 10 sapi. 5 indukan, 5 anakan. Ada yang sehat dan ada yang sakit.

Baca Juga : Gresik United Resmi Gandeng Sackie Teah Doe, Mantan Pemain Persik Kediri

Pria berusia 32 tahun menceritakan selama wabah PMK menyebar. Sapi miliknya sudah banyak yang berbusa di mulutnya. Area kaki memerah, lalu bernanah. 

“Sekitar tiga hari kuku sapi lepas. Kalau tidak segera ditangani, sama saja menunggu mati,” keluhnya. 

Dirinya berharap kepada Pemerintah Dinas Pertanian untuk pemantauan sapi perah juga terus dilakukan pemantauan. Karena tidak semua sapi disini disuntik, karena kehabisan stok. 

“Ciri-ciri mau sembuh bisa berdiri. Kaki sudah kuat. Kalau tidak bisa sudah lemas, dan mati,” tandasnya. 

Diakuinya, kendati sapi miliknya sudah diasuransikan. Namun, kondisi tersebut belum bisa menutupi kebutuhan selama merawatnya. “Kalau induk sapi meninggal asuransinya cuma Rp 10 juta sementara dipotong paksa Rp 5 juta,” ucapnya. (faiz/aam)