Sabtu, 20/08/2022 | 12:57 WIB
Gresik Satu
Wong Gresik

Jadi Kebanggaan, Anak Tukang Sapu di Gresik Masuk Akademi AL 

Gresiksatu.com
Rodiyah saat menunjukkan foto anak pertamanya yang masuk ALL di tempat kerjanya Pom Mini Jalan Raya Domas Menganti, Gresik (Faiz /Gresiksatu.com)
 Advertisement

GresikSatu | Tangis bahagia dirasakan pasangan suami istri (Pasutri) Purwono dan Lilik Rodiyah, ketika anak pertamanya berhasil lolos masuk Akademi Angkatan Laut (AAL). Pasutri yang berdomisili di Desa Boteng, Kecamatan Menganti itu pun turut bangga atas keberhasilan anaknya masuk ALL. 

Sang ibu Lilik Rodiyah menceritakan, dari segi ekonomi suami hanya sebagai kerja tukang sapu taman di salah satu perumahan Surabaya. Sedangkan dirinya bekerja sebagai penjaga Pom Mini di Jalan Domas Menganti, Gresik. Dari kondisi itu pun dirinya hanya ingin anaknya menjadi pegawai negeri. Agar bisa hidup lebih mapan darinya.

Seiring berjalannya waktu, tahun 2020 anak pertama dari dua saudara itu pun akhirnya menjawab harapan Lilik. Anak pertama M Naufal Alfaris diterima Akademi Militer AL. 

“Selama enam bulan menjalani pendidikan Militer di Magelang, lalu ke Surabaya di ALL sampai sekarang,” Jum’at (22/7/2022). 

Diakuinya, sejak kecil Faris memang punya mimpi menjadi Tentara Negara Indonesia (TNI). Bahkan anak sulungnya itu sering curhat kepadanya untuk masa depannya. Itu dilakukan sejak Faris masih di bangku SMP Surabaya.

“Sejak itu sudah tanya dan membandingkan kuliah atau masuk sekolah dinas. Kalau nanti kakak kuliah gimana? Keadaan ibu seperti ini,” ucap Rodiyah kepada anak pertamanya saat itu. Lalu sang anak meyakinkan Rodiyah akan masuk sekolah kedinasan angkatan laut. “Percayalah pada kakak,” kata Rodiyah menirukan perkataan pesan anak saat itu kepadanya. 

Rodiyah pun tidak yakin bisa masuk sekolah militer seperti apa yang didiamkan anaknya. Namun dirinya tetap mendukung sepenuh kemampuan keluarganya. Seperti membelikan sepatu sport untuk melatih fisik, dan membelikan sepatu untuk latihan basket. Meskipun harganya terbilang murah dan bekas. 

“Kita orang biasa, bukan keluarga militer. Namun namanya orang tua harus memberikan yang terbaik kepada anaknya,” ujar ibu berusia 44 tahun itu. 

“Saya sendiri juga takut anak cemas (down Red), ibu tidak tau apapun. Wis nurut kakak (sudah ikut kakak saja). Kakak akhirnya pada tahun itu (2020) daftar sendiri  sekolah militer, dan tidak ada beban biaya yang tinggi. Hanya biaya fotocopy,  tes kesehatan dan lainnya,” tambahnya.

Dikatakan, sebelum anaknya diterima Akmil, Faris lebih dulu diterima kuliah di Institut Teknologi Surabaya (ITS) jurusan teknik mesin perkapalan. Melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Nah, setelah satu hari pengumuman, sang anak juga mendapatkan informasi lolos Akmil. Dirinya pun meminta saran keluarga. Akhirnya anak kelahiran Kediri itu memilih Akmil AL di bagian teknik mesin AL. 

“Karena dari kecil, Farid senang utek-utek mesin. Sejalan dengan kebiasaannya,” imbuhnya. 

Menurutnya, Faris memiliki sifat pendiam dan penurut. Apa yang dikatakan orang tua selalu dilakukan. Hasil nilai di sekolah juga bagus. Dari Pendidikan terakhir masuk 10 besar siswa teranik di SMA 5 Surabaya. Ia juga rajin sholat jamaah dan suka bergaul. 

“Alhamdulillah setelah masuk akademi angkatan laut (ALL). Sudah tidak pernah minta kepada orang tua,” katanya dengan rasa syukur.

Rodiyah sendiri bekerja sebagai penjaga Pom Mini di Jalan Raya Domas. Terkadang dirinya pun bekerja tambahan sebagai pembantu makanan catering dan membuat sinom.

Sedangkan Purwono sang bapak kerja pabrik lalu kena PHK, banting setir kerja jualan sayur dan sekarang kerja tukang sapu taman di salah satu perumahan. Sang anak biasanya pulang ke rumah pada hari libur Sabtu atau Minggu. (faiz/aam)