Minggu, 25/09/2022 | 14:39 WIB
Gresik Satu
Uncategorized

Jelang Operasi Bus Trans Jatim, Sopir Angkot Khawatir Penumpang Turun

angkuta kota gresik
Para sopir lyn saat mangkal di perbatasan Gresik - Surabaya (Foto : Faiz /Gresiksatu.com)

GresikSatu I Jelang beroperasinya moda angkutan umum Bus Trans Jatim (Surabaya – Gresik – Sidoarjo), membuat para sopir angkutan kota (Angkot) pesimis dengan nasibnya. kehadiran bus yang mampu menampung sebanyak 40 penumpang ditambah tarif yang murah di nilai akan menggerus penumpang lyn.

Sesuai rencana Bus Trans Jatim akan dilaunching secara simbolis, dan operasi tanggal 19 Agustus mendatang oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Salah satu Sopir angkot Yudhi mengaku getir dan khawatir, mendengar informasi akan beroperasi bus tran Jatim tersebut. Bahkan, sopir lyn rute Surabaya – Gresik itu memprediksi akan terjadi penurunan penumpang saat bus tersebut operasi.

“Tentu kami para sopir angkot menjadi khawatir, penghasilan dari penumpang otomatis turun. Soalnya tarifnya sangat murah, Rp 5 ribu, untuk umum dan Rp 2. 500 untuk pelajar, Selasa (9/8/2022).

Selama ini, lanjut pria berusia 48 tahun itu menyebut sejak menjamurnya kendaraan angkutan online atau ojek online (Ojol). Pendapatan para sopir lyn sudah mulai turun. Apalagi ketambahan Bus Trans Jatim ini.

Untuk sekali kemudi perhari, dua sampai tiga kali pulang pergi Surabaya – Gresik. Ia hanya bisa meraup rejeki Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. Berangkat pukul 07.30 WIB hingga siang pukul 14.00 WIB. Lalu pulang istirahat. Kalau ramai melanjutkan kemudi lagi, tapi jika sepi istirahat sampai sore.

“Pasti turun dengan perbandingan harga bus Trans Jatim ini. Kalau biasanya angkot Surabaya – Gresik Rp 8 ribu. Bus ini bisa leb-h murah. Nilai harga ini sangat timpang bagi kami. Otomatis lyn akan sepi bahkan nyaris tidak ada penumpang,” jelas Yudhi.

Hingga saat ini lanjut Yudhi, para sopir belum menerima sosialiasi dari Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim terkait penerapan bus Trans Jatim ini. Namun dari informasi yang didapat secara pribadi, ada perjanjian dimana pengambilan penumpang tidak boleh selain dari halte tunggu yang sudah disediakan.

“Perjanjiannya tidak boleh ambil penumpang selain dari halte, tapi mengenai berjalannya di lapangan, kami juga tidak tahu lagi. Itu juga istilahnya, bakal mematikan bus biru P8 (Damri) yang sama-sama milik pemerintah (BUMN) sebenarnya, tapi lihat saja nanti,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Angkutan Orang dan Angkutan Barang Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik Anom Kusumo Laksono, menjelaskan bahwa terkait program tersebut adalah wewenang dari provinsi. Sedangkan terkait teknis pengangkutan penumpang itu hanya di halte saja.

“Aturan pengangkutan penumpang Trans Jatim itu hanya berlokasi di titik halte saja. Kalau nanti mereka menaik turunkan penumpang sembarangan, kita beri tindakan mengevaluasi dan melaporkan ke Provinsi. Kita tidak mungkin diam saja. Bahkan sopir angkot Gresik juga berhak untuk protes ke Provinsi dan nanti kita kawal,” jelasnya.(Faiz/Tov)