Jumat, 27/05/2022 | 00:01 WIB
Gresik Satu

Kemewahan Karya Rupa: “Pembangunan Hari Depan”

Pembangunan Hari depan di Jalan Veteran Foto: Aji (2022)

Beberapa tahun belakangan ini, kita yang tinggal di Gresik dapat menikmati karya-karya rupa di ruang publik. Karya-karya rupa itu boleh kita anggap memiliki makna dan menjadi ciri khas Gresik, sebut saja: “Gardu Suling”, “Gajah Mungkur”, “Tugu Lontar”, “Kris Kanjeng Sepuh”, dan “Gapura Naga Giri”. Kita patut bangga karena ruang publik di Gresik memiliki kemewahan karya rupa dalam hal estetika.

Sebenarnya, ada satu kemewahan karya rupa lagi yang bisa jadi jarang kita sadari. Kemewahan ini berada di Jalan Veteran depan kawasan Semen Indonesia (dulu Semen Gresik), yaitu patung “Pembangunan Hari Depan”. Barangkali sebagian dari kita ada yang belum tahu bahwa patung “Pembangunan Hari Depan” adalah karya G. Sidharta (1932-2006).

G. Sidharta
Sumber: Jim Supangkat (1995), “Lukisan, Patung dan Grafis G. Sidharta”, Bandung: Rekamedia Multiprakarsa

Sekilas G. Sidharta

G. Sidharta yang bernama lengkap Gregorius Sidharta Soegijo lahir di Yogyakarta tahun 1932. G. Sidharta adalah perupa terkemuka Indonesia. Latar belakang pendidikannya bisa kita telisik pada tulisan Oei Hong Djien, kolektor seni rupa terkemuka Indonesia, pada buku “Seni dan Mengoleksi Seni” (2012: 75):

“Tahun 1947, dia sudah masuk sanggar Pelukis Rakyat dan belajar melukis dari Hendra Gunawan dan Trubus. Ketika Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta didirikan tahun 1950, dia termasuk mahasiswa angkatan pertama bersama Widayat, Abas Alibasjah, dan Edhi Sunarso. Kemudian dia belajar di Jan van Eyck Kunst Academie di Maastricht, Belanda, tahun 1953 dan lulus tahun 1956.”

Oei Hong Djien menerangkan bahwa G. Sidharta setelah kembali ke Yogyakarta kurang diterima karena karyanya dianggap kebarat-baratan. Penyair WS Rendra, waktu itu aktif menulis kritik seni rupa, melancarkan kritik pedas. Bagi Oei Hong Djien, G. Sidharta mendahului zamannya.

Pada tahun 1965, G. Sidharta hijrah ke Bandung dan dicalonkan sebagai staf pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Setelah pensiun mengajar, G. Sidharta kembali ke Yogyakarta dan tetap berkarya. Pameran tunggal di Hotel Santrian Bali menjadi pameran terakhir G. Sidharta sebelum wafat tahun 2006.

Pembangunan Hari Depan (1963)
Sumber: Digital Archive of Indonesian Contemporary Art

Pembangunan Hari Depan

Patung “Pembangunan Hari Depan” (1963) memiliki bentuk dua sosok berdampingan. Kita mengamati dua sosok memiliki otot kekar dan berbadan tegap. Masing-masing salah satu tangan dua sosok sama-sama mengangkat ke atas dan menyatu satu sama lain. Tangan lain dua sosok sedikit berbeda. Tangan lain sosok pertama terlihat ingin menyentuh perut sosok kedua; sedang tangan lain sosok kedua terlihat ingin merangkul penuh punggung sosok pertama.

Meski salah satu tangan dua sosok saling menyatu, kita sadar tubuh mereka tidak bersatu. Akibatnya dua sosok membentuk celah akibat tubuh mereka yang berdampingan. Barangkali celah tersebut sengaja dirancang G. Sidharta agar dua sosok tak terkesan berat dan sesuai tema dari pemesan. Jika membahas temanya, kita bisa menelisik tulisan kritikus seni rupa Jim Supangkat dalam buku “Lukisan, Patung dan Grafis G. Sidharta” (1995: 45):

“Patung ‘Pembangunan Hari Depan’ memperlihatkan hubungan tema dan pengolahan gagasan rupa. Patung yang dipesan pabrik semen Gresik ini – untuk ditempatkan di halaman muka Gedung Pertemuan – mengambil tema ‘pembangunan hari depan’. Bentuk patung ini tidak klise seperti banyak patung pesanan lain pada saat itu. Di sini Dharta merenungkan tema pembangunan hari depan dan menemukan gagasan rupa: dua sosok yang menunjukkan kekuatan tarik menarik.”

Lewat tulisan Jim Supangkat di atas, kita menyadari bahwa G. Sidharta tidak asal bikin patung. Walau patung pesanan, G. Sidharta tetap merenungkan tema pembangunan hari depan. Hasilnya sebuah patung yang bergerak dalam filosofi pembangunan. Tulisan Jim Supangkat (1995: 45) berlanjut:

“Pada patung ‘Pembangunan Hari Depan’ ditafsirkan sebagai dua sosok yang berdiri terpisah, namun menempel pada bagian tangan. Rinci patung ini, yang terutama terlihat pada pengolahan bentuk anatomi, mengesankan adanya kekuatan yang mendesak memisahkan kedua sosok. Namun bagian tangan yang menempel menampilkan tegangan tarik-menarik. Inilah metafora pembangunan yang mencerminkan keinginan maju: Gerak yang memisahkan masa lalu dan masa depan, dan tegangan yang menandakan adanya kontinuitas.”

Pembangunan Hari Depan di Jalan Veteran
Foto: Aji (2022)

Dua sosok yang menampilkan tegangan tarik-menarik pada masing-masing sepasang tangan tetap kita lihat belum terputus. Semoga tak pernah terputus. Hal ini bisa kita tafsir bahwa masa lalu dan masa depan dapat melangkah berdampingan meski terkadang berbenturan. Kita jadi teringat konsep Yin dan Yang tentang perbedaan yang melahirkan keharmonisan. Dan tanda kontinuitas kalau diresapi masih berlangsung pada segi kehidupan kita.

Sejak patung “Pembangunan Hari Depan” ada, kita membayangkan bagaimana perkembangan di Gresik: dari warung jadi kafe; dari pasar luring jadi pasar daring; hingga dari bekerja di kantor jadi bekerja di “rumahan”. Kita menilai untuk bergegas ke arah lebih modern tapi jangan pernah meluputkan tradisi. **

Catatan : Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

 

Daftar Bacaan

Jim Supangkat (1995), “Lukisan, Patung dan Grafis G. Sidharta”, Bandung: Rekamedia Multiprakarsa

Oei Hong Djien (2012) “Seni dan Mengoleksi Seni”, Jakarta: KPG