Jumat, 27/05/2022 | 00:23 WIB
Gresik Satu

Klenteng Tertua di Pulau Jawa, Dibangun Sejak Abad ke 12 Ada di Gresik

Klenteng Kim Hin Kiong berada di Jalan Dr Setia Budi Pulopancikan Gresik / foto : sah

GresikSatu | Suasana perayaan tahun baru imlek juga terasa di Klenteng Kim Hin Kiong, Kabupaten Gresik. Lampion berwarna merah terpasang di setiap sudut jalan kampung pecinan, tempat klenteng berada. Tidak lupa, ornamen naga juga terpasang disamping lampion, menambah nuansa Tionghoa terlihat sangat kental.

Wajah baru kampung pecinan itu, tidak hanya mengundang para umat Konghucu saja. Masyarakat lain, yang juga ingin merasakan suasana imlek rela berdatangan. Mereka mengabadikan dirinya dalam kamera di ponsel.

Diketahui, Kim Hin Kiong merupakan kelenteng tertua di Pulau Jawa. Tempat itu diperkirakan sudah ada sejak abad ke 12, atau tepatnya pada tahun 1153 masehi. Keberadaan klenteng tua di Gresik tak mengherankan. Pasalnya, Gresik yang berada di pesisir utara, dulunya juga merupakan jalur perdagangan internasional.

Kedatangan etnis Tionghoa yang semula bertujuan berdagang, lambat laun memiliki tempat tersendiri. Tempat tersebut saat ini dikenal oleh masyarakat Gresik sebagai kampung pecinan. Kampung ini bersebelahan dengan kampung arab, tepatnya di Jalan Dr Setia Budi Pulopancikan.

Baca Juga : Kisah KH Syafi’i Tokoh Desa Pongangan yang Punya Kesaktian Ilmu Lipat Bumi

Sekretaris Klenteng Kim Hin Kiong Toni mengatakan, penyebutan klenteng tertua di Pulau Jawa memang membutuhkan kajian khusus. Namun pihaknya, memiliki bukti fisik yang menunjukan kalau klenteng tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

“Ada buktinya berupa lukisan yang kami temukan tak sengaja di area klenteng. Disitu tertulis dengan jelas tanggal 01 bulan Agustus tahun 1153,” katanya saat ditemui, Selasa (1/2/2022).

Umat Konghucu saat menunaikan sembayang di Klenteng Kim Hin Kiong, Kabupaten Gresik / foto : sah


Lukisan tua yang disebut Toni, menampakan gambar suasana pantai dan pesisir. Lalu dibawahnya tertulis tanggal dan tahun. Belum diketahui siapa pelukis aslinya. Namun lukisan itu tersimpan rapat di area klenteng, sampai akhirnya ditemukan pada tahun 2017 lalu.

“Rencana kami akan mengkaji lebih dalam lagi, sebab selama ini literasi terkait klenteng sangat minim sekali,” paparnya.

Baca Juga : Giri Kedaton, Pesantren yang Menjelma Menjadi Kerajaan

Disebutkan, luas klenteng Kim Hin Kiong dulunya sangat kecil. Hanya beberapa meter saja. Seiring waktu, area tersebut diperluas lagi, hingga ada ruangan khusus pemujaan untuk dewa, dan ruangan serba guna.

Klenteng Kim Hin Kiong sendiri memiliki 8 Dewa. Antara lain, Macho (Dewi Laut), Kwan Kong (Dewa Kejujuran), Thian Siang Sing Bo (Dewa laut), Kwan in (Dewi kasih sayang) dan Toa Pek Kong (Dewa bumi). Delapan Dewa itu sebelum perayaan imlek telah dibersihkan terdahulu dengan cara ritual khusus.

Tahun berdirinya klenteng Kim Hin Kiong terutuang di dinding / foto : sah

Sementara itu salah satu pengunjung Helen mengaku, perayaan imlek dibandingkan dengan tahun sebelum pandemi sangat jauh. Kendati masih dalam suasana bencana Covid-19, hal itu tak merubah kekhususannya dalam menjalankan ibadah pembuka tahun 2022.

Helan sendiri menuturkan, perayaan tahun baru imlek, biasanya merupakan ajang berkumpul bersama keluarga. Saat ini, karena kondisinya masih belum baik, acara kumpul bersama hanya dilakukan melalui telepon seluler.

“Karena biasanya, pas malam tahun baru imlek kami sekelurga kumpul di rumah, makan-makan lalu sembayang di rumah. Baru besoknya ke klenteng secara bersama-sama,” jelasnya.

“Iya harapannya, semoga selalu sehat, rezekinya lancar khususnya pandemi segera selesai agar semuanya segera pulih kembali,” tambahnya. **