Minggu, 29/05/2022 | 05:23 WIB
Gresik Satu

Kolam Masjid Tertua di Jawa Diyakini Bisa Sembuhkan Berbagai Penyakit

Teks Foto : Kolam masjid peninggalan Syech Maulana Malik Ibrahim yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit. (Faiz/Gresiksatu.com)

GresikSatu | Masjid peninggalan Syech Maulana Malik Ibrahim di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur menjadi masjid tertua di Pulau Jawa. Istimewanya, kolam masjid itu diyakini mampu mengobati berbagai penyakit.

Masjid yang dibangun 1389 masehi mudah dijangkau. Dari Alun-alun Gresik kisaran 8 kilometer arah Timur. Hanya 5 kilometer utaranya Kantor Bupati, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Dusun Singapadu, Desa Dahanrejo, Manyar, Gresik.

Setelah gapura masuk Desa Leran lurus kisaran 800 meter. Kanan jalan desa, ditandai dengan gapura. Bertuliskan Masjid Syech Maulana Malik Ibrahim dengan aksara Arab.

Masjid itu menempati lahan yang cukup luas. Bersebelahan dengan tambak milik warga. Sisa-sisa arsitektur bangunan menunjuk era peradaban Islam masa Kerajaan Majapahit.

Baca Juga : Legenda Sendang Sono Desa Suci, Pertama Ditemukan Seorang Putri yang Galau Ditolak Raja 

Di dalam masjid ada kolam berukuran 3×3 meterpersegi. Konon kolam itu dibuat khusus Syech Maulana Malik Ibrahim. Sampai saat ini kolam itu masih berfungsi.

Kolam itu memiliki rasa air yang berbeda dengan beberapa kolam lain di kiri maupun sisi kanan masjid. Air sumur baru yang dibuat warga rasanya asin, tetapi air kolam di masjid tawar.

Bahkan, penduduk setempat percaya bahwa kolam itu memiliki khasiat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Banyak warga yang menyakini, kalau warga yang sakit tidak sembuh-sembuh, dengan mandi di kolam maka sembuh.

“Ini yang sampai saat ini kami yakini masih kuat kasitanya untuk menyembuhkan berbagai penyakit,” ujar Muhammad Musholin, Ketua Takmir Masjid Pesucinan.

Teks Foto : Masjid peninggalan Syech Maulana Malik Ibrahim dibangun tahun 1389 (Faiz/Gresiksatu.com)

Dijelaskan, bila Masjid Syech Maulana Malik Ibrahim dulunya bernama Pesucinan. Nama itu dipilih karena pendirian masjid bertujuan untuk menyucikan masyarakat yang hendak masuk Islam. Cara menyucikan calon muslim membasuh wajah dengan air kolam di masjid.

“Masyarakat setempat awalnya beragama Hindu atau Budha. Berkat pendirian masjid tersebut, daerah itu kemudian diberi nama Dusun Pesucinan,” kata Musholin.

Bangunan masjid tersebut menjadi bukti masuknya peradaban Islam di Pulau Jawa. Maulana Malik Ibrahim masuk ke Desa Leran sekitar 1389 Masehi. Saat itu Leran masih bernama Desa Sembalo. Desa yang ditengarahi menjadi sandar kapal saudagar itu dikuasai Majapahit.

Sebagai wali tertua diantara para Wali Songo, penyebar Islam di Pulau Jawa, akhirnya memunculkan spekulasi umur masjid tersebut. Masyarakat Leran menyebut sebagai masjid tertua di Pulau Jawa.

Baca Juga : Nyi Ageng Pinatih, Perempuan Inspiratif Sebelum RA Kartini

“Belum ada literatur resmi. Tetapi kami menilai sebagai masjid tertua. Sebab, Siti Fatimah Binti Maimun yang ada makamnya di Leran, tidak ditemukan simbul peribadatan masjid,” ungkap Mushollin.

Simbul Islam yang saat ini masih terawat di Masjid Syech Maulana Malik Ibrahim, diantaranya; pucuk kubah masjid dan mimbar penceramah. Hanya saja diantaranya ada yang keropos.

“Konstruksi mimbar penceramah yang ada, bagi kami merasa seperti mimpi. Hanya, emang ada bagian tertentu yang ditambal karena keropos,” ujar Abdul Rouf, Takmir Masjid Syech Maulana Malik Ibrahim yang lain.

Teks Foto : Mimbar Masjid peninggalan Syech Maulana Malik Ibrahim yang tidak berubah sejak masjid diabngun (Faiz/Gresiksatu.com)

Selain itu, pucuk kubah peninggalan wali yang kerap dipanggil Sunan Gresik itu masih terpasang di atas masjid. Beberapa ornamen modern tampak dalam ukiran Arab di gapura masjid.

“Secara keseluruhan bangunan masjid telah mengalami perubahan. Renovasi terakhir kami lakukan 2005. Kini, Masjid Pesucinan tampak seperti masjid baru pada umumnya,” beber Abdul Rouf.

Sebab, lanjut dia, dulu lantai masjid terbuat dari kayu. Kini sudah berubah menjadi keramik dengan penutup karpet. Hanya saja, beberapa peninggalan sudah menjadi koleksi museum. Misalnya kayu-kayu yang dulu digunakan sebagai lantai masjid, kini berada di Musium Gresik.

Tim Arkeologi dan Purbakala dari Trowulan merupakan salah satu barang peninggalan masjid untuk kepentingan penelitian. Salah satunya barang yang dibawa dan dimusiumkan adalah Bedug Masjid.

Tim Arkeologi dan Purbakala dari Trowulan itu juga memberikan sertifikat tanah masjid sebagai peninggalan sejarah. Lokasi masjid diakui sebagai tempat bersejarah, meskipun bangunan masjid sebagian besar sudah dipugar.##