Minggu, 25/09/2022 | 18:15 WIB
Gresik Satu
Lifestyle

Kolektor Sidorukun Gresik ini Miliki Keris Era Majapahit Hingga Mataram Kuno

yudhi kolektor keris
Sidiq Setiawan ketika memperlihatkan salah satu koleksi kerisnya dengan nama Nogo Siluman pada era Kerajaan Majapahit yang kini diperkirakan berusia 600 tahun. (Foto : Faiz /Gresiksatu.com)

GresikSatu I Keris terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia oleh Unesco pada tahun 2008. Keris yaitu sebuah belati asimetris berasal dari negara Indonesia. Baik senjata ataupun benda spiritual, keris dianggap memiliki kekuatan magis.

Keunikan serta daya magis dari benda yang identik dengan suku Jawa ini membuat seorang kolektor keris bernama Sidiq Setiawan warga Jalan Sulawesi No. 1 Perumahan Sidorukun Indah, Gresik mengoleksi ratusan keris yang sudah langkah era kerajaan di tanah Jawa.

Selain dikenal sebagai kolektor keris yang berusia ratusan tahun, ia juga pecinta barang-barang antik. Namun, koleksi kerisnya yang ratusan itu kini tinggal puluhan, sebagian besar koleksi kerisnya sudah terjual dengan nilai puluhan hingga ratusan juta.

Saat ditemui di rumahnya, pria berusia 50 tahun itu sedang menjejer barang-barang kuno berupa guci, piring dan benda antik lainnya yang berusia puluhan hingga ratusan tahun di lemari. Sementara untuk keris dari era kerajaan Jawa yang memiliki keunikan serta berumur ratusan tahun di simpan di tempat khusus yang ada di rumahnya.

“Ada banyak keris dari jaman kerajaan di tanah jawa. Seperti keris Pulang Geni, Nogo Siluman, Tangguh Bali di era Majapahit. Keris ini dibuat sekitar 600 tahun lalu. Ada keris era Mataram kuno peninggalan eyang buyut saya bernama Kilang Sari, ada pula Kudi Naga dari era Pajajaran di abad ke-13,” ucapnya, Selasa (9/8/2022).

Wawan menjelaskan, dulu memiliki koleksi 150 keris, namun sekarang hanya menyisakan 20 keris yang dianggap memiliki keunikan dsan kelangkaan dari sisi seni, usia dan sejarah. Meski begitu, jika ada orang atau kolektor yang tertarik ingin membeli rela melepaskannya.

“Seperti keris Singosari Blarak Jinereh yang laku terjual 150 juta pada tahun 2020 lalu. Saat itu, saya dihubungi rekan dari Solo, katanya ada yang tertarik untuk membeli dan akhirnya terjual setelah cocok harganya,” ujarnya.

Bapak satu anak ini menceritakan, awal menyukai keris sejak usia kecil yang sering mengintip eyangnya membersihkan keris dari balik tirai kamar, kemudian membantu untuk membersihkan keris dan akhirnya tertarik untuk belajar tentang keris hingga menginjak usia remaja. Dari situ, perlahan mengetahui keunikan, motif keris dan berapa usia keris.

Kemudian pada tahun 1998 bekerja di Solo, dari kota Bengawan itulah mulai benar-benar menekuni pusaka keris dan koleksi benda kuno lainnya. Sekutar tahun 1999 mulai mengoleksi keris-keris tua, hingga mencari sampai pelosok pedesaan Jawa tengah dan kadang juga ke seluruh tanah Jawa untuk mencari keris untuk di koleksi.

“Mengenal dan belajar keunikan keris dari eyang saya sejak kecil, setelah dewasa dan bekerja di Solo, saya baru benar-benar mendalami tentang keris, identitas suku Jawa yang diakui Unesco sebagai warisan budaya. Dari koleksi keris saya, keris Nogo Siluman yang istimewa dengan motif tubuh naga, namun kepalanya tidak terlihat. Disitulah dinamakan Nogo Siluman. Saya dulu mendapatkannya di lereng Gunung Lawu,” imbuhnya. (Faiz/Tov)