Minggu, 26/06/2022 | 02:19 WIB
Gresik Satu
Badokan Gresik

Kuliner Bongko Kopyor Idola Khas Masyarakat Gresik di Bulan Ramadhan 

Kiliner bongko kopyor khas Gresik laris manis di bulan ramadhan. (Gresiksatu.com)

GresikSatu | Momen ramadhan di Kabupaten Gresik tak lepas dengan sajian kuliner khas. Salah satunya adalah bongko kopyor. Kudapan ini, selalu menjadi idola masyarakat Gresik, menjadi pilihan berbuka puasa.

Jajanan ini mudah didapatkan di sepanjang jalan area perahan Gresik Kota Baru (GKB) GKB. Disamping karakternya yang khas, yakni jajanan dibungkus menggunakan daun pisang, rasanya yang manis dan harganya terjangkau membuat digandrungi pembeli.

Dari beberapa tempat jajakan bongko kopyor, tak lepas dengan keberadaan bongko kopyor legendaris di Desa Manyar Sidomukti, Kecamatan Manyar. Bongko kopyor milik ibu Fatonah ini hanya ada di Bulan Ramadhan saja. Bahkan produksinya sudah dari turun temurun hingga empat generasi. 

Penerus usaha bongko kopyor Rohmatul Agustina menyampaikan, bahan-bahan bongko kopyor sudah disiapkan. Mulai irisan nangka, roti, pisang, kelapa muda, dan air santan kelapa. Dari bahan-bahan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang. Lalu, dimasukkan ke dalam tungku untuk direbus.

Baca Juga : Berburu Takjil di Kampung Posoan Kelurahan Bedilan 

“Sampai bongko kopyor masak,” ucapnya saat ditemui di rumahnya di Jalan Kyai Sahlan, Desa Manyar Sidomukti, Jum’at (8/4/2022).

Perempuan usia 23 tahun itu menyebut, yang menjadi ciri khas bongko kopyor ada di buah nangka dan bungkus daun pisang. 

“Yang paling spesial dari bongko kopyor yakni, aroma nangka dan bungkus daun pisang. Itu salah satu trik daya tarik kepada masyarakat,” bebernya. 

Kendati ada beberapa kemasan bongko kopyor yang sudah kemasan plastik. Rohmatus sendiri masih tetap melestarikan kemasan alami dari daun pisang. “Ini kemasan daun pisang sejak nenek moyang,” imbuhnya.

Baca Juga : Pengendara Ugal-ugalan di Kedanyang Ternyata Bukan Anggota Interpol, Ngebut Karena Mau Ambil Penumpang

Diakuinya, omset hasil penjualan bongko kopyor pun dinilai sangat terbantu di bulan Ramadhan. Dari setiap hari produksi sekitar 100 bungkus lebih bongko kopyor. Para pembeli pun datang ke rumah pemilik usaha bongko kopyor, dan menjajakan kembali bongko di jalanan. 

“Omsetnya jutaan, setiap satu bungkus kami jual Rp 7 ribu,” jelasnya. 

Sekedar diketahui, selain bongko kopyor di rumah Agustin juga memproduksi menu takjil lainnya. Seperti, Tetel Bumbu, Bongko Iwak, Bongko Pudak, dan Srikoyo. (faiz/sah)

Full Day School