Jumat, 27/05/2022 | 23:05 WIB
Gresik Satu

Kunjungi Banjir Bawa Sembako Bukan Solusi, Pejabat Pemkab Disindir Ketua DPRD Gresik

Jalan utama Desa Morowudi penghubung dua Kecamatan di Gresik bagian selatan yang terendam air luapan Kali Lamong beberapa waktu lalu./ Foto: TBK
Jalan utama Desa Morowudi penghubung dua Kecamatan di Gresik bagian selatan yang terendam air luapan Kali Lamong beberapa waktu lalu./ Foto: TBK

GresikSatu I Pejabat Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Gresik yang datang lihat atau mengunjungi desa atau wilayah terdampak banjir dari luapan air Kali Lamong di tiga kecamatan dengan membawa sembako mendapat sindiran yang serius dari Ketu DPRD Gresik Abdul Qodir.

Politikus partai PKB itu menilai harusnya yang dibawa itu sebuah solusi agar banjir bisa dikendalikan, karena banjir berdampak pada kerugian ekonomi masyarakat di tiga Kecamatan di Gresik bagian selatan.

“Kami berharap para pejabat tidak lagi turun melihat banjir, tidak hanya sekedar bawa mie, beras dan sejenisnya. Namun bawa solusi segera yang di butuhkan untuk mengendalikan banjir, sehingga tidak datang lagi,”ujar Qodir, Selasa (15/2/2022).

Aksi pejabat turun membawa bantuan ke korban banjir seolah menjadi trend, yang sudah dilakukan turun temurun puluhan tahun yang lalu. Padahal yang di butuhkan masyarakat itu solusi agar bagaimana banjir tidak datang lagi ketika musim hujan.

“Pemkab punya andil yang cukup besar dalam mengendalikan banjir, minimal mengurangi dampak yang di timbulkan. Jika segera bisa, banjir tahunan akibat luapan kali lamong ini segera di atasi, sebab dampak yang di rasa masyarakat sudah sangat prihatin,” ungkapnya.

Perlu duduk bersama antara Pemkab dengan Pemdes setempat. Mencari solusi untuk mengurangi dampak banjir, dan syukur masalah banjir segera teratasi.

Sebab dampak akibat banjir yang datang tiap tahun ketika musim penghujan membuat masyarakat sudah menderita kerugian cukup besar bahkan nyawa juga.

Kemudian lanjut Abdul Qodir, bahwa adanya kolaborasi kebersamaan semua pihak sangat di butuhkan guna meredam banjir luapan kali lamong yang sewaktu-waktu datang tanpa terduga.

“Butuh diskusi untuk mengetahui titik mana saja yang harus dinormalisasi, karena terjadi pendangkalan dan itu harus segera dilaksanakan, juga cari lahan untuk embung sebagai penampungan air,” katanya.**