Jumat, 30/09/2022 | 20:01 WIB
Gresik Satu
Ekonomi Industri

Lahan Pertanian Menyusut, Kebutuhan Beras Nasional Meningkat, Begini Cara Petrokimia Gresik Cegah Krisis Pangan

Gresiksatu.com
Petrokimia Gresik ajak generasi muda untuk terjun dan mengoptimalkan produktivitas pertanian. (Foto : Humas Petro)

GresikSatu | Saat ini krisis pangan telah mengancam dunia. Bagaimana tidak, pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia  diikuti kebutuhan pangan yang terus meningkatkan. Mirisnya, peningkatan jumlah penduduk tidak dibarengi dengan luas lahan yang tersedia.

Dari data Kementerian Pertanian kebutuhan tahun 2020 dengan proyeksi Indonesia Emas di tahun 2045, terjadi peningkatan kebutuhan beras nasional sekitar 5,44 juta ton, dari 29,86 juta ton menjadi 35,3 juta ton.

Sedangkan berdasarkan data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) lahan pertanian justru semakin berkurang. Sebagai perbandingan, luas lahan pertanian Indonesia di tahun 2012 mencapai 8,13 juta Hektare dan di tahun 2019 berkurang menjadi 7,46 juta Hektare.

Kendati demikian, Petrokimia Gresik punya cara sendiri dalam mengentaskan ancaman krisis pangan ke depan. Salah satunya dengan mengajak generasi muda untuk terjun dan mengoptimalkan produktivitas pertanian. Disamping itu juga, sejumlah program dari Petrokimia, turut bisa mengantasi ancaman tersebut.

“Adapun upaya-upaya yang telah dilakukan Petrokimia Gresik dapat dilihat dari kepeloporannya dalam menciptakan teknologi pemupukan melalui produk-produk inovasi,” kata Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik, Digna Jatiningsih saat menjadi narasumber dalam talkshow Petro AgriTalk, Jum’at (12/8/2022).

Seperti, lanjut Digna, menyediakan pupuk subsidi dan non subsidi berkualitas, melakukan pengawalan budidaya pertanian melalui program MAKMUR yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. “Serta aktif mendorong regenerasi petani sebagai upaya mengamankan masa depan pertanian dan ketahanan pangan Indonesia.

Upaya dalam mendorong regenerasi petani sendiri, lanjut Digna, telah dilakukan sejak tahun 2014 dengan menggandeng Pelatihan Anak Remaja Tani (PATRA) dan kemudian di tahun 2017 menyelenggarakan Jambore Petani Muda (JPM) yang rutin dilaksanakan tiap tahun hingga saat ini. Program ini telah menghasilkan banyak petani muda sukses, seperti Kampung Strawberry di Bali, dan Kampung Buah Naga di Banyuwangi.

“Saat ini sudah cukup banyak sosok petani muda yang sukses di bidang pertanian, ini harus diiringi dengan inovasi teknologi pertanian modern agar semakin banyak generasi muda yang tertarik terjun ke sektor ini,” jelasnya.

“Jadi dari generasi muda, oleh generasi muda, untuk generasi mendatang, dan kita sebagai industri siap mendukung dalam mengatasi krisis pangan,” terang Digna. (aam)