Selasa, 04/10/2022 | 13:15 WIB
Gresik Satu
Sastra

Latihan Musik di Tengah Malam Ramadan

Beberapa organisasi dari Tlogopojok saling berkolaborasi untuk membentuk kelompok musik di bulan Ramadan 1443 H. Kelompok musik itu belum bernama, tapi mereka berasal dari organisasi Orang Indonesia (OI) Raya, GP Ansor ranting Tlogopojok, dan Remaja Langgar Maslakhul Hikmah. Selain itu, tiga seniman musik asal Gresik ikut terlibat dan membimbing mereka, antara lain: Jalil, Waras, dan Wanto (aktif di kelompok musik Limbah Cager)

Mereka berlatih di pelataran pasar swalayan (setelah jam tutup). Latihan mereka begitu serius dan intens. Hal ini dikarenakan mereka akan tampil dalam kegiatan santunan anak yatim yang digelar oleh OI Raya berkolaborasi dengan GP Ansor ranting Tlogopojok di Tlogopojok, Gresik (24 April 2022). Kita jadi mafhum, mereka berlatih untuk mempersiapkan diri, berniat memberikan pertunjukan yang menarik di hadapan penonton.

Posisi pertunjukan dalam latihan
Foto: Aji (2022)

Sebelum itu, seorang kawan bernama Azza Zaman, warga Tlogopojok, memberitahu kepada saya perihal kelompok musik itu. Azza Zaman merasa bersukacita karena ada ruang bagi remaja Tlogopojok untuk berproses kesenian di bulan Ramadan 1443 H. Saya menangkap rasa bersukacita dari Azza Zaman telah menciptakan harap bahwa latihan mereka jangan berhenti setelah pentas.

Tangkapan saya tersebut, adalah pemaknaan saya untuk merasakan lebih lanjut gairah remaja Tlogopojok dalam mengembangkan kreativitas. Bukankah jadi menarik jika nanti kelompok musik itu telah bernama dan menjadi ruang-proses-kesenian bagi remaja Tlogopojok? Ya, proses seni tidak pernah mati ketika daya cipta selalu hadir di diri pribadi yang kreatif. Saya jadi mengingat sebuah kata mutiara: “seni meluweskan perasaan”.

Logo OI Raya dan GP Ansor di sebuah songkok untuk kegiatan santunan anak yatim yang digelar oleh OI Raya berkolaborasi dengan GP Ansor ranting Tlogopojok, Gresik
Foto: Ahmad Rahman Budiman (2022)

Remaja Tlogopojok

Di tengah malam, saya datang ke latihan mereka di pelataran pasar swalayan. Saya melihat banyak di antara mereka masih remaja. Mereka berlatih mementaskan lagu religius serta memusikalisasikan satu puisi Lenon Machali. Alat musik yang mereka mainkan adalah rebana, jimbe, seruling, gitar akustik, dan gitar listrik.

Dalam latihan itu, mereka membentuk empat saf sebagai posisi pertunjukan. Saya mengamati dari saf depan ke belakang, antara lain: para pemain vokal pertama (saf pertama); para pemain rebana (saf kedua); para pemain vokal kedua (saf ketiga); serta pemain jimbe plus seruling, gitar akustik, dan gitar listrik (saf keempat).

Suasana latihan kelompok musik (kebanyakan beranggota remaja Tlogopojok) di depan pelataran pasar swalayan
Foto: Aji (2022)

Saya mendengar tiupan seruling, petikan gitar akustik, dan petikan gitar listrik. Kemudian seruling berganti jadi jimbe terus disambut suara vokal. Pada tempo tertentu, pukulan rebana  ikut masuk ke suara vokal. Tapi suara vokal tiba-tiba berganti suara solo dari pukulan rebana, seolah daya kejut. Dalam hitungan sekitar delapan detik, pukulan rebana mengiringi suara vokal.

Begitulah, saya melihat dan mendengar bagaimana mereka berlatih. Saya menikmati bunyi yang mereka ciptakan ternyata menghasilkan harmoni. Dan keterbatasan tempat latihan mereka (pelataran pasar swalayan) justru memberi saya imaji ketika koreografi dari sepasang tangan para vokal membentuk bayangan di lantai. Imaji perihal orang-orang yang ingin terlepas dari tali yang mengikat sepasang tangan.

Salah satu bagian pertunjukan dalam latihan
Foto: Aji (2022)

Apa tali yang mengikat sepasang tangan itu? Kita bisa menjawab dengan tafsir. Dan tafsir saya hanyalah kegairahan remaja Tlogopojok untuk berekspresi dalam bidang seni. Tepat kiranya bila Jalil, Waras, dan Wanto membimbing remaja Tlogopojok. Tiga seniman musik asal Gresik itu memiliki pengalaman panjang di bidang seni musik. Apalagi Jalil pernah memiliki pengalaman secara internasional, di mana dia bersama Bengkel Muda Surabaya sekitar tahun 2001, melakukan pentas musik di tiga negara: Singapura, Malaysia, dan Thailand.**

 

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.