Minggu, 29/05/2022 | 06:19 WIB
Gresik Satu

Legenda Sendang Sono Desa Suci, Pertama Ditemukan Seorang Putri yang Galau Ditolak Raja 

Sendang Sono Desa Suci, Manyar Gresik / foto : Faiz

GresikSatu | Bagi masyarakat Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, keberadaan telaga atau Sendang Sono memiliki peranan penting tersendiri. Di era dulu, telaga ini banyak dijadikan tempat bersuci hingga aktivitas spritual.

Dari cerita yang berkembang, kemunculan Sendang Sono tidak bisa lepas dari peranan Sunan Giri yang memerintahkan muridnya untuk membuka surau di sana. Namun jauh sebelum itu, Sendang Sono ternyata lebih dulu ditemukan seorang putri raja dari Kerajaan Aceh.

Konon ceritanya, putri itu tengah galau karena lamaran nya ditolak oleh Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Tanpa disengaja, saat perjalanan pulang, sang putri bersama ayahnya tengah beristirahat di Desa Suci, lalu menemukan sumber air. Belakangan diketahui, tempat itu dinamakan Sendang Sono.

Kebenaran cerita itu disampaikan oleh H R Moch Syahid. Tokoh masyarakat Desa Suci mengatakan, penemuan sendang bermula, dari Sultan Mahmud Sadad Alam dari Gedah Provinsi Aceh yang melakukan perjalanan ke Jawa. Kedatangan Raja bergelar Syah itu bermaksud melamarkan putirnya Dewi Retno Suwari atau lebih dikenal dengan Siti Fatimah Binti Maimun.

Baca Juga : Nyi Ageng Pinatih, Perempuan Inspiratif Sebelum RA Kartini

“Bermaksud melamarkan anaknya untuk diperistri Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit,” katanya, Munggu (20/3/2022).

“Kenapa Binti Maimun, tidak Mahmud karena masa kecil ayah Siti Fatimah dipanggil Maimun dan setelah menjadi Sultan menjadi Mahmud,” tambah Syahid.

Kedatangan Siti Fatimah Binti Maimun bersama ayahnya di Pulau Jawa tepatnya di Mojokerto itu, diperikirakan pada tahun 1391 silam. Saat berada di Pusat Ibu Kota Majapahit, rombongan dari kerajaan Aceh itu menguatarakan maksudnya. Namun jawaban dari sang Raja Jawa itu diluar duagaan. Lamaran sang putri itu ternyata ditolak.

Siti Fatimah bersama rombongannya kemudian kembali pulang. Saat dalam perjalanan itu lah, rombongan kerajaan Aceh itu melewati Cerme kemudian menuju ke ujung Selatan Timur Kampung Polaman yang sekarang bernama Desa Suci.

Baca Juga : Klenteng Tertua di Pulau Jawa, Dibangun Sejak Abad ke 21 Ada di Gresik

Sesampai di Desa Suci, rombongan itu kemudian berhenti untuk melaksanakan sholat. Setelah menuju utara kampung, mereka menemukan sumber air. Di sana, para rombongan mengambil air wudhu. Belakangan diketahui, sumber mata air tersebut dinamakan Telaga Sendang Sono. 

“Awalnya mereka tidak tau jika ada sumber air, hanya melihat air lalu wudhu. Ternyata itu ada sumber mata air. Air itu digunakan bersuci dan mensucikan makanya disebut Kampung Suci atau sekarang Desa Suci,” jelas Syahid.

Akhirnya Sang Sultan kembali ke Gedah, dan Putrinya meninggal disini tepatnya di Makam Panjang Desa Leran, Kecamatan Manyar.

Sedangkan penamaan Sendang Sono, karena ada tanaman Sono yang besar di telaga tersebut. Dulunya sendang ini berbentuk jublang dijadikan tempat pemandian oleh warga. Ada batas bebatuan di sekeliling telaga yang kini sudah dibangun tembok pembatas telaga.  (faiz/sah)