Selasa, 04/10/2022 | 06:36 WIB
Gresik Satu
Berita Gres Kesehatan

Lima RS di Gresik Fasilitas Berobat dan Periksa Penderita TBC

program tbc
Pembukaan program coaching Tbc di RS Wates Husada Balongpanggang, Selasa (13/9/2022). / (Foto: TBK/gresikSatu.com)

GresikSatu – Bekerjasama dengan lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), fasilitas untuk penderita Tbc sekarang bisa dilakukan di empat rumah sakit yang ada di Gresik. yakni RS Wates Husada, RS Rahmi Dewi, RS Cahaya Giri dan RS Eka Husada.

Diketahui, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia jumlah kasus penderita Tuberkulosis dengan jumlah kasus 824 ribu pertahunnya dengan angka kematian 93 ribu pertahun. Di Gresik sendiri, dengan adanya program ini, fasilitas untuk penderita tuberkulosis (Tbc) tidak lagi terpusat di RSUD Ibnu Sina.

Berada di RS Wates Husada Balongpanggang, program coaching Tb mulai bisa digunakan oleh para penderita Tbc. Apalagi, program ini hanya diberlakukan didua tempat di Indonesia, yakni Jakarta dan Gresik.

“Ya, hari ini dibuka program coaching Tb, Gresik menjadi salah satu penerapan, satunya lagi di Jakarta,” ujar Direktur Utama RS Wates Husada dr. Titin Ekowati, Selasa (13/9/2022).

Menurut dr. Titin, RS Wates Husada menjadi satu diantara empat RS lain yang menjalin kerjasama untuk masalah penyakit Tb ini. Empat diantaranya yakni RS Eka Husada, RS Cahaya Giri, dan RS Rahmi Dewi.

Dalam program coaching Tb, mulai dari pemeriksaan dini, seperti pemeriksaan dahak dilakukan langsung oleh dokter spesialis langsung. Selain itu, ada konsultasi hingga pendampingan obat.

“Mengingat yang menjadi kendala penderita Tb selama ini adalah jauhnya pengambilan obat. Belum lagi, cukup berat saat meminum beragam obat. Karena itu, kami ada pendampingan minum obat untuk menghindari putus obat,” ucap lulusan S2 Unair ini.

Ia menambahkan, program coaching Tb ini diharapkan mampu membantu target eliminasi TB pada 2030. Karena lebih banyak fasilitas untuk penderita Tb, para pasien tidak lagi berat ketika mengambil obat.

Sedangkan pihak USAID membantu dalam hal pengadaan obat, tempat pemeriksaan hingga fasilitas lain. Support tersebut tetap melalui Dinas Kesehatan dan melalui sistem informasi tuberkolosis (SITB).

“Dengan begini, banyaknya fasilitas bagi penderita Tb, jarak pengambilan obat juga lebih dekat. Ini sudah empat kali pertemuan, alhamdulillah ketika diresmikan hari ini, coaching Tb sudah lengkap,” ungkap dr. Titin . (Tov)