Selasa, 04/10/2022 | 13:01 WIB
Gresik Satu
Sastra

Memori Pasar Bandeng & Pasar Rakyat

Saya membaca tulisan di spanduk yang terpasang di batas wilayah Jalan Samanhudi: “Selamat Datang Pasar Bandeng Kawak & Pasar Rakyat Tahun 2022”. Spanduk itu menandakan sedang berlangsung tradisi tahunan setiap akhir bulan Ramadan di Gresik. Dan sayamemandang orang-orang yang tampak sumringah meski sebagian besar memakai masker.

Bandeng yang dijual di Pasar Bandeng
Foto: Aji (2022)

Tradisi tahunan tersebut mengubah fungsi jalan raya untuk lapak pedagang. Karena itu, di Jalan Samanhudi, di depan Pasar Kota Kabupaten Gresik, digelar Pasar Bandeng yang berisi lapak-lapak pedagang ikan bandeng dan hasil tangkapan laut (misal, cumi-cumidan kepiting). Di sana, saya menengok salah satu keluarga sedang menawar harga ikan bandeng; beberapa remaja memandang takjub ukuran besar ikan bandeng di meja lapak; serta beberapa keluarga berjalan hilir mudik.

Masih di Jalan Samanhudi, saya yang berjalan ke timur (menuju Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Raden Santri), Pasar Bandeng berganti Pasar Rakyat. Di sepanjang Pasar Rakyat, saya menengoklapak-lapak pedagang yang menjual aneka barang, makanan, serta hiburan. Suasana Pasar Rakyat itu meletupkan memori saya padamasa kecil dan masa remaja. Memori yang bikin bibir sayatersenyum sendiri.

Suasana Pasar Rakyat di Jalan HOS Cokroaminoto
Foto: Aji (2022)

Masa Kecil

“Habis sahur kita ke Pasar Bandeng,” kira-kira begitu memori saya tentang ucapan orang tua kepada kami (saya dan dua saudara perempuan ketika masih kecil). Meski ucapan itu merujuk ke Pasar Bandeng, kami justru diajak oleh orang tua ke Pasar Rakyat. Di Pasar Rakyat, para pengunjung begitu ramai dari waktu malam hingga subuh. Jadi, kami diwanti oleh orang tua agar tidak terlepas dari genggaman tangannya ketika pengunjung mulai berdesakan.

Salah satu memori saya di Pasar Rakyat ketika masa kecil adalah membeli mainan. Entah mainan apa saja yang saya beli di setiap tradisi tahunan tersebut. Saya hanya mengingat mainan katana dari kayu, topeng robot, dan kapal otok-otok. Saya juga masih mengingat larangan orang tua kalau ingin membeli mainan yang membahayakan diri dan orang lain, misal mainan pistol berpeluru plastik dan laser.

Perihal mainan topeng, sebenarnya ada variasi bentuk selain robot, seperti singa atau kerbau. Seingat saya, bahan dasar topeng-topengitu adalah kertas. Untuk rambut singa, kalau tidak salah, berbahan tali rafia yang disisir sampai terurai. Sayangnya, sekarang (tahun 2022), belum menemukan pedagang topeng (jangan-jangan luput dari pandangan) ketika saya berjalan di Pasar Rakyat.

Kapak Otok-otok yang dijual di Pasar Rakyat
Foto: Aji (2022)

Saya justru masih menemukan mainan kapal otok-otok. Bentuknya juga tidak lagi kecil, malah ada yang besar dan memiliki layar. Saya selalu heran kalau memainkan kapal otok-otok karena pengoperasiannya menggunakan tenaga panas, yaitu: memasukkan air dahulu ke knalpot kapal otok-otok; membuat pengapian dari kapas berlumur minyak; dan memasukkan pengapian ke dalam ceruk kapal otok-otok.

Salah satu penjual gerabah di Pasar Rakyat, Jalan Samanhudi
Foto: Aji (2022)

Selain itu, memori saya meletupkan hobi saudara perempuan yang membeli mainan di Pasar Rakyat, yaitu: kakak perempuan membeli gerabah (kompor, ulekan, wajan, celengan, hingga kendi) berukuran kecil untuk bermain masak-masakan; dan adik perempuan membeli boneka ala Barbie. Kebetuan, ketika saya berjalan di Pasar Rakyat, dua mainan tersebut (gerabah dan boneka ala Barbie) masih ada pedagangnya.

Boneka ala Barbie dijual di Pasar Rakyat, Jalan Samanhudi
Foto: Aji (2022)

Saya kira dua mainan tersebut juga mengalami perkembangan. Sayabisa mengetahui dari sebagian besar gerabah telah bewarna. Hal ini dikarenakan, waktu itu, gerabah yang dibeli kakak perempuan belum bewarna atau masih polosan. Sedangkan, boneka ala Barbie, bisa saya ketahui dari bermacam desain pakaiannya. Ada juga boneka ala Barbie yang memiliki sayap serupa peri dari negeri dongeng.

Masa Remaja

Di masa remaja, dua atau tiga edisi di setiap tradisi tahunan tersebut, saya dan para sepupu ikut membantu paman untuk berdagang di Pasar Rakyat. Waktu itu, kami berdagang di lapak yang berada di Jalan Raden Santri. Saya dan para sepupu begitu antusias menjual dagangan paman, seperti pakaian olahraga (baju, jaket, celana, atau sepatu). Momen yang menyenangkan bagi saya adalah beberapa pengunjung mulai melirik dagangan.

Aktivitas jual beli di Pasar Rakyat
Foto: Aji (2022)

Saya senang jika beberapa pengunjung melirik, lalu tiba-tiba bertanya berapa harga salah satu barang yang kami jual. Kami bersyukur ketika ada pengunjung benar-benar membeli. Selain itu, kegiatan berdagang ternyata menguras tenaga saya, karena belum terbiasa begadang hingga pagi (kami mulai jualan waktu sore).Berkat itu juga, saya memiliki pengalaman baru tentang karakter seseorang yang menawar harga miring.

Dalam berdagang, saya menikmati bagaimana keluarga, sekelompok kawan, atau sepasang kekasih sedang jalan-jalan. Atau saya tiba-tiba kasihan mengetahui seorang ibu (pedagang pakaian perempuan)yang terpaksa tertidur di lapaknya. Ya, beragam kondisi tersebut ditangkap mata saya menjadi memori. Memori yang tak mungkin terlupakan.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.