Senin, 03/10/2022 | 14:48 WIB
Gresik Satu
Badokan Gresik

Mencicipi Sate Laler Khas Gresik Utara Bikin Lidah Bergoyang 

Andre saat menyajikan sate laler di lapak dagangannya di Alun-alun Sidayu, Gresik / Foto : Sah

GresikSatu | Selain terkenal sebagai wisata religi, Kabupaten Gresik ternyata menyimpan banyak makanan khas. Salah satunya adalah sate laler. Sate dari kambing muda ini bisa menjadi rujukan kuliner malam atau setelah berbuka puasa.m ramadhan.

Perlu diketahui, pengistilahan sate laler atau lalat, diambil karena penyajiannya dengan porsi kecil. Namun tenang saja, daging yang disajikan merupakan dari kambing muda, bukan hewan kecil yang biasa hinggap di jajanan pasar. 

Salah satu pedagang sate laler Andre mengatakan kuliner ini mulai ada di Kabupaten Gresik sejak tahun 1996. Sate laler ini sudah menyebar di beberapa titik, khususnya di wilayah Gresik utara, meliputi Kecamatan Sidayu dan Dukun. 

Peminat sate ini sangat beragam, dari warga biasa hingga pejabat tingkat kabupaten, seperti bupati. Tidak heran jika Andre mengaku bisa menghabiskan satu ekor kambing muda dalam semalam. 

“Bukannya pukul 19.00 WIB hingga 02.00 dini hari. Satu malam satu ekor kambing, itu pun kalau membludak tidak membutuhkan waktu lama sudah habis,” kata Andre saat ditemui di lapak dagangannya, di Alun-alun Sidayu, Rabu (15/12/2021).

Untuk pembeli pemula yang ingin mencicipi sate lalar, bisa mengenali dengan ciri-ciri penjualannya. Sate ini punya ciri khas dari penampilan depan. Yakni sate dijual dengan cara lesehan dan ditempatkan di rombong pikul dari bambu. Lonjoran bambu dibiarkan sebagai tempat menggantung kambing yang sudah dipotong. 

Sate laler khas Gresik Utara / Foto : Sah

Selain itu ciri khas lain, warung sate ini bersuasana remang-remang. Tidak ada lampu terang yang menerangi tempat ini. Penjual hanya memasang cahaya lampu teplok berkekuatan 2,5 watt atau lampu obor dari api yang dipasang di depan.

“Dari dulu begini. Menjualnya dengan cara lesehan dan boranan. Karakter ini sudah dikenali banyak orang, jadi tidak mungkin berubah penampilan,” jelas warga Desa Lowayu, Kecamatan Dukun itu. 

Lebih lanjut, Andre menjelaskan, untuk menikmati sate ini pembeli tidak akan mengeluarkan banyak uang. Satu porsi sate dan nasi dihargai Rp 25 ribu. Dijamin dengan mengunjungi tempat sate ini, penikmat kuliner akan ketagihan. 

Karena selain penyajian sate yang unik, yakni dipotong-potong dengan porsi kecil, warung sate laler ini juga memiliki cita rasa kuat di bumbunya. Apalagi ditambah dengan sajian minuman jeruk membuat suasana makan malam menjadi hangat. 

“Pemilik aslinya Cak Nur, tapi rata-rata yang menjual sate dengan konsep begini masih keluarga besar. Jadi tenang saja, kalau ingin membeli di tempat lain cita rasanya masih sama,” tuturnya. (sah)

Tinggalkan Komentar