GresikSatu | Tradisi Ambengan menjadi salah satu budaya syukuran yang masih lestari di tengah masyarakat Desa Ambeng-ambeng Watangrejo, Duduksampeyan Gresik setiap usai Salat Idul Fitri.
Di tengah gegap gempita perayaan Lebaran, warga tetap menjaga kearifan lokal ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas berkah dan kekuatan menjalani ibadah puasa Ramadan.
Ambengan sendiri berasal dari kata “ambeng” yang berarti sego lengser atau nasi lengkap yang disusun bersama lauk-pauk ikan bandeng dalam satu wadah besar.
Setiap keluarga membawa ambeng ke masjid, musala, atau balai desa, untuk kemudian disantap bersama warga lainnya dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Ciri khas Ambengan terletak pada isiannya. Selain nasi putih, lauk pauk seperti ayam, telur, dan ikan bandeng menjadi pelengkap utama.

Salah satu menu yang paling sering hadir adalah ikan bandeng, yang dianggap sebagai simbol kelimpahan dan keberkahan.
Olahan bandeng yang disajikan pun beragam, mulai dari digoreng, dibakar, hingga dimasak presto, sesuai dengan kebiasaan keluarga masing-masing.
Amik (25), salah satu warga yang rutin mengikuti tradisi ini, mengungkapkan bahwa Ambengan bukan sekadar makan bersama, tapi sarat dengan nilai-nilai religius dan sosial.
“Tradisi ini merupakan wujud syukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan,” ujarnya, Senin (31/3/2025).
Selain makanan, tradisi ini juga dilengkapi dengan sedekah atau yang dikenal sebagai uang selawat. Uang ini diletakkan di atas ambeng sebagai bentuk amal jariyah, lalu dikumpulkan dan dikelola secara gotong royong untuk keperluan sosial di lingkungan setempat.
“Sisa ambeng bisa dibawa pulang untuk keluarga,” imbuh Amik.
Tradisi Ambengan tak hanya menjadi penanda hari kemenangan, tetapi juga mempererat hubungan antar tetangga dan menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan lintas generasi.