Rabu, 26/01/2022 | 13:00 WIB
Gresik Satu

Mengenal Mbah Ajek, Petugas Pemungut Pajak Wilayah Gresik Era Majapahit

Situs kuno makam di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Gresik, Jawa Timur / Foto : istimewa

GresikSatu | Meski sudah berusia 13 abad lalu, peninggalan dari sisa-sisa kebesaran kerajaan Majapahit masih dinikamati hingga kini. Salah satunya adalah situs kuno makam di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Gresik, Jawa Timur.

Situs tersebut, disebut-sebut dulunya sebagai kantor pengelolaan pajak di era Majapahit. Meliputi Kadipaten Sidayu dan pantai utara.

Peninggalan kerajaan terbesar di zamannya itu semakin meyakinkan, karena di sana terdapat makam Mbah Ajek. Dia merupakan pejabat Majapahit yang ditugaskan langsung memungut pajak.

Juru Kunci Situs Lasem, Muhammad Mukhid mengatakan, situs kuno era Majapahit hingga kini masih menjadi daya tarik pengunjung. Banyak nilai-nilai sejarah yang bisa dipetik.

Misalnya, dalam situs tersebut terdapat relief pada dinding struktur yang berupa guratan gambar menyerupai tokoh pewayangan Jawa. Relief ini bercerita tentang kehidupan pada masa itu.

“Tokoh utama dalam situs ini memberikan pelajaran bahwa seseorang harus memiliki sikap Ajeg (Kontinyu atau Istiqomah), dalam menjalankan sesuatu,” katanya.

Baca Juga : Kisah KH Syafi’i Tokoh Desa Pongangan yang Punya Kesaktian Ilmu Lipat Bumi

Mbah Ajek sendiri, menurut Mukhid  merupakan petugas yang memungut pajak di area Kadipaten Sedayu, termasuk Gresik dan Lamongan bagian utara. Semua wilayah tidak lepas dari kekuasaannya.

Kendati demikian, Mbah Ajek oleh masyarakat Desa Lasem dianggap pejabat paling berjasa. Sebab di eranya, masyarakat yang tinggal di sekitarnya tidak terbebani membayar pajak.

“Beliau berjasa besar bagi masyarakat daerah sini. Bahkan Mbah Ajek malah membebaskan pajak kepada warga yang tinggal di Desa Lasem. Hal itu yang membuat beliau sangat disegani hingga sekarang,” terangnya.

Sementara itu Kepala Desa Lasem Khoiri menambahkan, keberadaan situs ini sudah diakui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto. Merupakan bagian situs yang harus dilestarikan keasliannya.

Untuk itu pemerintahnya punya kewajiban melindungi situs kuno agar tidak ada pengrusakan ataupun lainnya.

Baca Juga : Asal Usul Dua Nama Desa Banjarsari, dari Pangeran Sargi yang Menantang Sunan Giri

“Sebenarnya pernah ditemukan prasasti bertuliskan aksara Jawa Kuno. Namun sayang, pada waktu penemuan sekitar tahun 70-an prasasti tersebut dibawa ke Jakarta, untuk keperluan penelitian, dan pembacaan oleh ahli Sejarah,” tukasnya.

Dijelaskan Khoiri, di situs ini bangunan aslinya masih tampak. Batu kuno masih tertata rapi. Selain kompleks kantor pajak, di sini juga ada bekas Musala serta Sumur yang masih dipertahankan keasliannya.

Agar tetap dilestarikan, pemerintah desa membangun fasilitas di area tersebut. Ada pula area kolam renang wisata serta akses jalan yang bersih dan bagus. Upaya ini, kata dia agar para masyarakat serta anak muda tahu dan tak lupa sejarah bahwa di Desa Lasem pernah menjadi tempat yang istimewa di zaman dahulu.

“Tapi tepat di bangunan aslinya tetap kita pertahankan, tak pernah kami rubah. Hanya dibagian luar kami bangun akses jalan agar jika ada tamu bisa nyaman,” ujarnya. **

Tinggalkan Komentar