Sabtu, 20/08/2022 | 13:39 WIB
Gresik Satu
Gresik Seru

Menyusuri Kampung Penghasil Legen di Hendrosari Gresik

Gresiksatu.com
Minuman legen segar langsung dari bisa dinikmati dari jerigen hasil kembang pohon lontar (Foto : Faiz /Gresiksatu.com)
 Advertisement

GresikSatu | Tidak semua minuman legen dibuat dari hasil buah siwalan pohon lontar. Ada juga legen yang dihasilkan dari kembang pohon lontar. Misalnya di kampung Desa Hendrosari. Di desa yang mempunyai wisata Lontar Sewu ini, banyak petani bergelut usaha minuman legen.

Pantas saja masyarakat menyebut kampung Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik ini, sebagai kampung penghasil minuman legen.  Lokasinya pun relatif terjangkau. Karena posisi Desa berdekatan dengan Kota Surabaya dan Gresik Kota. Sekitar 1 km menuju kebun legen dari jalan Raya Hendrosari.

Setelah masuk jalan poros desa sudah banyak aneka minuman legen yang sudah siap minum untuk dibeli. Petani disana pun mempunyai istilah sendiri dalam pembuatan minuman asal kembang pohon lontar itu. 

“Kalau hasil legen dari buah siwalan itu pohon lontar perempuan. Kalau dari kembang itu pohon lontar laki-laki. Disini paling banyak dari kembang pohon lontar ini. Orang sini menyebut Wolo (istilah Jawa) kembang pohon lontar,” ucap salah satu petani Desa Hendrosari Abdul Manap, Rabu (13/7 /2022). 

Pria yang sudah bergelut di dunia produksi legen sejak 2005 ini, mengatakan, untuk menghasilkan legen dari kembang pohon lontar, prosesnya sangat panjang. Pohon kembang lontar lebih dulu harus dipotong untuk diambil getahnya. Setelah itu, kembang dipijat dengan alat yang tersedia, agar mudah mengeluarkan cairan getah. Dari cairan itu minuman legen bisa dinikmati.

Gresiksatu.com
menunjukkan proses pembungkusan kembang pohon lontar yang akan menghasilkan minuman legen (Foto : Faiz /Gresiksatu.com)

“Kembang yang dipilih pun harus panjang. Karena setiap pagi dan sore selalu diiris untuk mengeluarkan getah,” ujarnya. 

Kembang yang sudah dipotong jelas Abdul, dimasukkan botol berisi air tawar. Tujuannya untuk memancing getah pohon agar bisa keluar. Setelah dua hari didiamkan di atas pohon, air untuk memancing keluar getah di botol dibuang. Lalu kembang diiris lagi, dan barulah muncul getah yang menetes.

Untuk menghindari binatang serangga masuk, atau air hujan. Botol yang dimasukkan kembang pohon dilengkapi plastik. Sehingga air benar-benar murni dari getah pohon lontar. 

“Setiap pagi dan sore kita ambil. Dari beberapa pohon. Setelah itu disaring dan dimasukkan ke botol untuk dijual. Kalau dulu jual mulai harga Rp 7.500 sampai hari ini menjadi Rp 20.000 per botol isi 1.500 ml atau 1 liter setengah,” jelasnya. 

Dari satu tangkai kembang yang sudah dibungkus botol, biasanya menghasilkan 500 ml atau setengah botol hampir penuh air legen. Kalau satu pohon biasanya menghasilkan 5 liter atau satu jerigen kecil. Nantinya dimasukkan ke setiap botol untuk dijual. 

“Setiap hari kita panen. Pembeli bisa langsung minum ditempat. Atau bisa membawa pulang pada waktu panen pagi dan sore. Namun Pembeli tidak tentu. Kadang kadang ramai kadang sepi. Kalau ramai pembeli ada yang dari luar daerah. Seperti Tuban, Lamongan, Surabaya,” jelasnya.

“Kalau tidak ada pembeli kami masukkan ke freezer. Agar minuman tidak mengalami fermentasi. Kalau tiga sampai empat hari masih bertahan. Kalau tidak disimpan ke tempat pendingin satu jam hingga tiga jam, minuman langsung berubah jadi tuwak,” tambahnya.

Menurut Abdul, legen hasil dari desanya sangat istimewa. Ia mengeklaim hasilnya sangat segar, karena kualitas tanah pohon lontar disini sangat berbeda. Pria yang juga menjadi pengurus Takmir Masjid setempat itu memiliki 40 pohon lontar. Semuanya dihasilkan untuk minuman legen.

Pohon lontar milik Abdul sendiri memiliki ketinggian rata-rata 20 meter. Setiap hari, ia harus memanjat pohon dengan peralatan lengkap. Mulai dari, pisau, sabuk, serta cantolan untuk membawa hasil getah pohon lontar. Abdul sendiri merupakan generasi ketiga turun temurun dari keluarga. 

“Saat ini sudah mulai langkah. Bahkan saya pun tidak tau siapa yang akan meneruskan usaha pekerjaan ini. Karena banyak pemuda lebuh tertarik berkerja di pabrik. Ditambah lahan perkebunan pohon lontar penghasil legen juga banyak dijadikan penjualan kawasan tanah kavling,” katanya memungkasi. (faiz/aam)