Sabtu, 20/08/2022 | 12:04 WIB
Gresik Satu
Gresik Seru

Menyusuri Pesanggrahan Bawean, Benteng Belanda yang Dirawat Turun Temurun

gresiksatu.com
Pewaris penjaga Pesanggrahan Bawean Kadafi saat menunjukkan kamar penjara yang dibuat tempat warga Bawean kerja rodi kepada Belanda (Foto : Faiz/gresiksatu.com)
 Advertisement

GresikSatu | Pesanggrahan Bawean yang berada di Desa Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik menjadi saksi bisu kekejaman penjajahan Belanda kepada warga sekitar. Gedung ini merupakan benteng yang dibangun hasil kerja rodi warga pribumi Bawean.

Gedung ini secara turun temurun dirawat oleh keluarga Raden Ali Abdul Aziz. Orang yang menjadi mandor saat proses pembangunan gedung itu. Keluarga itu mewariskan untuk generasi berikutnya menjaga dan merawat gedung tersebut.

Generasi ketiga Raden Abdul Aziz Muhammad Kadafi menyampaikan, pasca tahun 2016 gedung ini mulai dikosongkan. Dirinya bersama keluarga pindah ke rumah asal. Jauh sebelum tahun itu, dirinya bersama keluarganya yang menempati gedung cagar budaya itu.

“Tahun 1987 saya lahir di Pesanggrahan bersama orang tua menempati gedung ini. Hingga usia dewasa gedung ini ditempati keluarga saya. Karena sudah warisan turun temurun keluarga untuk merawat bangunan ini,” katanya, Senin (4/6/2022).

Dijelaskan, dari dulu pesanggrahan ini merupakan tempat tinggal bagi keluarganya hingga turun temurun. Tidak menampik kemungkinan, karena tempat strategis dari pelabuhan Bawean. Tempat ini juga dulunya sering digunakan untuk tempat persinggahan warga luar pulau Bawean. Apalagi saat itu, masih belum banyak hotel dan penginapan di Bawean.

“Sejak lahir sampai menempati tidak ada hal mistis. Bahkan jika ada yang ingin menginap disini tidak bayar. Mistis tidak lepas dari persaingan hotel sekitar,” bebernya.

Tata Letak Pesanggarahan

Di Pesanggrahan ada 14 kamar, setiap kamarnya dilengkapi spring bad, dan kamar mandi. Mulai dari depan, ruang pertama ada dua kamar, dulunya sebagai kamar Kolonel dan ajudan kolonel beserta tempat diskusi.

Pada bagian tengah ada empat kamar, tempat bawahannya ajudan dan tempat makan. Kini, masih tersisa meja, piring, jam dinding dan lemari bekas Belanda yang masih tersimpan.

Ada empat lemari dan satu meja yang tersisa dari peninggalan Belanda. Tertulis piring dibuat tahun 1949. Total ada 26 buah piring. Ke ruang belakang, ada tempat santai seperti halaman.

Sisi kiri bagian belakang gedung terdapat kamar tahanan. Namun tempat itu bukan untuk memenjarakan orang. Hanya dibuat tempat pekerja rodi warga Bawean

“Dulu ada lima kamar, kini satu dibuat gudang menjadi empat kamar. Kamar paling belakang tempat penyimpanan senjata. Dulu ada bekas peluru meriam. Ada sekitar 16 peluru. Semuanya hilang entah kemana,” jelasnya.

Pada bagian belakang sisi kanan tempat penyimpanan garam. Pernah dibuat penyimpanan mesin PLN saat pertama kalinya listrik di Bawean. Sekarang PLN punya kantor sendiri dan dibuat kamar.

Sedangkan samping kiri gedung, atau sebelah barat merupakan bekas gudang penyimpanan beras Belanda dan sumur. Bekas gudang itu kini dijadikan gedung pramuka yang sebelumnya kantor Upt Dinas Pendidikan Bawean.

“Sumur itu tidak akan pernah habis, meski musim kemarau masih tetap banyak airnya. Semua air di Pesanggrahan diambil dari sini. Sekarang ada tambahan satu sumur yang dibantu pemerintah,” jelasnya.

Pada bagian depan ada halaman atau teras gedung. Bagian depan Pesanggrahan ada bangunan tugu menyerupai peluru. Tugu itu merupakan simbol bahwa Belanda pernah menduduki atau menjajah Pulau Bawean.

Bagian depan sisi kanan diri ada dua bekas bangunan yang merupakan pos pengamanan. Kini hanya tinggal satu bangunan pps yang tersisa. Karena satu bangunan hancur. “Sekarang banyak buat hunting foto bangunan bekas pos pengamanan itu,” imbuhnya.

Dibangun Sebelum Kemerdekaan

Setahu apa yang diingat Kadafi. Bangunan pesanggrahan sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. “Sebelum merdeka, orang tua saya masih digendong ayah kabur untuk menyelamatkan bom dari gedung ini,” ujarnya.

Langit sudah mulai gelap, dan matahari pun hampir terbenam kala itu. Saat pencarian tahun berapa gedung itu dibangun, pencarian Kadafi bersama wartawan GresikSatu.com belum membuahkan hasil. Kadafi pun tidak tau persis tahunnya.

Namun dirinya mengetahui ada tanda tulisan tahun di bagian atas esbes bangunan. Atau bagian pondasi yang berada di sisi kiri gedung. Karena tidak bisa dijangkau dan belum ada alat tangga untuk menaiki, pencarian tahun gedung dibangun belum bisa terpecahkan.

gresiksatu.com
Kadafi saat menunjukkan piring peninggalan Belanda (Foto : Faiz/gresiksatu.com)

Menurutnya, gedung pesanggrahan ini sebagian yang sudah direnovasi. Termasuk bagian esbes yang terbuat dari kayu juga dilakukan perbaikan semasa Bupati Sambari Halim Radianto. Namun tidak menghilangkan nilai kelestarian cagar budaya ini.

“Semua terawat dengan baik. Hanya saja kurang perhatian pemerintah. Kalau ada kerusakan besar baru pemerintah bisa menangani,” tambahnya.

Diketahui, di Pesanggrahan ini ada dua penjaga yang diangkat Pemkab Gresik sebagai pekerja tenaga harian lepas. Termasuk Kadafi.

“Saya berharap kelestarian dan perawatan Pesanggrahan terus ada dari Pemerintah. Agar tidak rusak dan Bawean punya sejarah dan budaya di tempat ini,” pungkasnya. (faiz/aam)