Sabtu, 20/08/2022 | 11:43 WIB
Gresik Satu
Uncategorized

Monitoring Populasi Rusa Bawean, BKSDA Jatim Pasang 12 Camera Trap

bksda jatim di bawean
Petugas BKSDA saat memasang camera trap disertai titik koordinat google maps di Gunung Kapal-kapal blok Gunung Besar di Desa Pudakitbarat, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Minggu (31/7/2022). / (Faiz/Gresiksatu.com)
 Advertisement

GresikSatu | Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menurunkan Tim monitoring populasi Rusa Bawean (Axis kuhlii), Resort Konservasi Wilayah (RKW) Bawean dan SKW III Surabaya. Mereka melakukan pemasangan camera trap di beberapa titik di Kawasan Cagar Alam dan Suka Margasatwa Pulau Bawean.

Kegiatan ini sebagai langkah BKSDA Jatim memantau populasi Rusa Bawean (Axis kuhlii) yang hampir punah. Para petugas BKSDA menyusuri gunung Kapal-kapal blok Gunung Besar di Desa Pudakitbarat. Petugas mendapati jejak bekas kaki dan kotoran rusa. Hal tersebut semakin jelas menunjukan keberadaan rusa di hutan Bawean masih terjaga. Bahkan ada tanaman rumput di sekitar lokasi hasil dimakan rusa, dan terdapat tanaman bekas dari garukan tanduk rusa.

Selain itu, petugas juga menyusuri area sumber mata air Lampeji yang menjadi tempat rusa dan babi kutil untuk minum air. Dengan pemasangan camera trap ini dinilai sangat efektif untuk memantau keberadaan Rusa. Karena Rusa Bawean sangat sensitif dengan pergerakan manusia.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) SKW III Surabaya, BBKSDA Jatim Agus Ariyanto mengatakan, total ada 12 camera trap yang terpasang di beberapa Kawasan Cagar Alam dan Suaka Marga Satwa di Pulau Bawean.

“Titik camera trap dibagi di beberapa gunung di Desa Kumalasa, Suwari, Patarselamat, Teluk Jatidawang, Blok Kastoba, Desa Paromaahan, Blok Payung Payung Desa Kepuh Teluk, dan Desa Pudakitbarat,” ucapnya, Senin (1/8/2022).

Menurutnya, dugaan awal, jumlah populasi rusa bawean mengalami peningkatan populasi. Pihaknya memperkirakan jumlah rusa bawean ada 300 lebih. Dari data BKSDA Jatim, jumlah populasi rusa liar bawean terbanyak pada tahun 1979 ada 400 ekor, tahun 2003 turun menjadi 316 ekor, tahun 2010 bertambah menjadi 325 ekor, 2014 ada 275 ekor, tahun 2016 ada 303 ekor, tahun 2017 ada 305 ekor, tahun 2018 ada 307 ekor, dan tahun 2019 ada 304 ekor rusa liar di Bawean.

“Saya optimis dalam dua tahun terkahir ini populasi rusa bisa bertambah. Mengingat hasil monitoring dari camera trap yang sudah terpasang sebelumnya, banyak rusa yang tercapture baik foto maupun video. Bahkan ada juga yang tertangkap rusa betina dengan anaknya, hal ini menandakan perkembangbiakan rusa di alam terjaga” jelasnya.

Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 11 BKSDA Pulau Bawean Nur Symasi mengatakan, rusa bawean terkadang turun masuk kawasan kaki gunung. Dekat dengan penangkaran rusa di Desa Pudakitbarat. Hal tersebut memang salah satu karakteristik rusa ketika berkumpul.

“Kadang ada di kawasan penangkaran rusa di Bawean. Namun saat melihat dan mendengar gerakan manusia pasti lari. Karena memang rusa bawean dikenal dengan gesit dan kecepatan dalam berlari dan meloncat saat kehadiran manusia,” ucapnya. (Faiz/Tov)