Kamis, 30/06/2022 | 02:03 WIB
Gresik Satu
Badokan Gresik

Nikmatnya Kerupuk Posot-posot Bawean yang Terbuat dari Ikan Tongkol

Teks foto : Hamsiyah saat melakukan proses pembungkus kerupuk posot-posot yang menjadi oleh-oleh khas Pulau Bawean (Faiz/gresiksatu.com)

GresikSatu | Kekayaan potensi laut di Bawean sudah tidak diragukan lagi. Menu makanan di Pulau Bawean hampir seluruhnya dari ikan. Bahkan dari hasil olahan ikan masyarakat banyak membuat jajanan dari ikan.

Salah satunya adalah kerupuk posot-posot khas Pulau Bawean. Kerupuk ini menjadi pilihan oleh-oleh bagi warga luar Bawean maupun wisatawan yang berkunjung di Bawean.  

Kerupuk posot-posot khas Bawean yang laris buatan Hamsiyah asal Desa Gunungteguh, Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean. Produksi kerupuk miliknya sudah berjalan sekitar 12 tahun. Bahkan dinilai legendaris di Pulau Bawean. 

Perempuan 56 tahun itu mengatakan, pembuatan kerupuk posot-posot tidak terlalu sulit. Karena bahan yang dibuat merupakan potensi di Pulau Bawean. Produksi kerupuknya dari bahan dasar ikan tongkol dan tenggiri.

Baca Juga : Berani Jadi Bos, Siswa KB-TK YIMI Belajar Keterampilan Membuat Telur Asin Sendiri

Proses awal ikan tongkol dan tenggiri diselep atau dihancurkan, lalu diberikan bumbu perasa, kemudian diulek diberikan tepung kanji. Lalu dialuskan dengan jari tangan (diposot istilah bawean), digunting menjadi kecil ukuran setengah centimeter dan langsung digoreng. 

“Kenapa ada ikan tenggiri. Karena itu untuk mengembang. Kalau hanya ikan tongkol sulit mengembang, juga susah bikinnya,” katanya, Minggu (5/6/2022).

“Cara pembuatannya juga lama kalau hanya ikan tongkol saja. Kalau tenggiri saja bisa, tapi kurang sedap kalau tidak campur ikan tongkol,” ucapnya. 

Maksiyeh panggilan akrab orang Bawean kepada Hamsiyah menjelaskan, selama proses pembuatan dirinya dibantu beberapa tetangganya. Dengan memperkerjakan pada bagian masing-masing. Ada yang bagian penghalusan (posot istilah bawean), ada yang bagian memotong dan bagian menggoreng. 

“Ada sekitar 5 sampai 10 tetangga yang membantu. Sehari biasanya memperoleh 100 bungkus kemasan besar dan 50 bungkus kemasan kecil. Dengan harga kemasan besar Rp 35 ribu, kecil Rp 18 ribu,” jelasnya.

Baca Juga : Manfaat Operasi Katarak Menggunakan Lensa Premium

Yang paling laris, menurut ibu anak lima ini kerupuk posot-posot ukuran besar. Berukuran bungkus plastik lebar 15 cm, panjang 35 cm. Karena satu ukuran dengan toples yang biasanya digunakan keluarga. Sehingga masyarakat yang membeli bisa menjadikan makanan ini sebagai cemilan tamu di rumah.  

“Dari penjualannya bisa laku per harinya, mulai 40 sampai 50 bungkus. Kalau ada event acara besar lebih dari itu sampai 300 bungkus per harinya. Beruntung ada banyak pembantu pekerja membuat ini,” paparnya. 

Dikatakan Hamsiyah, dirinya secara otodidak melakukan pekerjaan ini. Awalnya hanya coba-coba saja. Lalu banyak yang minat dan membeli. Perlahan, usaha kerupuknya yang berjarak 2 Km dari Alun-alun Bawean mulai banyak dijajakan di toko modern dan Pasar Bawean. 

“Sejak pandemi Covid-19 penjualan sementara masih di Gresik. Sebelum Covid-19 ada pesanan dari Luar negeri Singapura dan Malaysia. Wisatawan juga banyak datang kesini order,” ujarnya. (faiz/aam)

Full Day School