Minggu, 29/05/2022 | 05:03 WIB
Gresik Satu

Nyi Ageng Pinatih, Perempuan Inspiratif Sebelum RA Kartini

Makam Nyai Ageng Pintaih di Jalan Kebungson Gresik / foto : sah

 GresikSatu | Peremuan inspiratif masa lalu Indonesia tidak hanya Raden Ajeng Kartini. Jauh sebelum masa penjajahan ada Nyi Gede Pinatih atau dikenal dengan Nyi Ageng Pinatih.

Ibunda Sunan Guri itu bukan hanya seorang muslimah yang aktif berdakwa, namun juga seorang saudagar hebat era Kerajaan Majapahit. 

Nyai Ageng Pinatih tidak lahir di Gresik. Ia baru dikirim ke tanah Gresik abad ke-15 Masehi. Dikirim dari Blambangan atau saat ini bernama Banyuwangi. Misinya keagamaan.

Mengawali misinya, Nyi Gede Pinatih menemui saudara perempuannya. Ia adalah permaisuri penguasa Majapahit kala itu, Raja Brawijaya.

Demi memuluskan misi kegamaan tersebut, Raja Brawijaya menghadiahkan sebidang lahan di tanah Gresik. Akhirnya 1412 Masehi, Nyi Gede Pinatih memutuskan untuk menetap dan menggarap atas tanah tersebut.

Baca Juga : Era Kejayaan Bupati Pusponegoro, Bangun Alun-alun Hingga Masjid Jami’ Gresik

Beliau menyadari bahwa untuk memaksimalkan hadiah itu, tidak hanya perlu bekal ilmu agama saja. Namun, juga perlu ilmu dagang atau ilmu ekonomi.

Untuk mendapatkan itu semua, Nyi Gede Pinatih nyantri ke beberapa ulama tersohor saat itu. Para ulama yang dijadikan guru agama adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmatullah alias Sunan Ampel di Surabaya. Untungnya, dua dari sembilan Wali Songo itu juga mahir tentang ilmu dagang. Sehingga, mendapat pelajaran dagang.

“Beliau Nyi Ageng Pinatih adalah perempuan yang hebat,” ujar KH Mukhtar Jamil, pengurus Yayasan Makam Nyi Ageng Pinatih, beberapa waktu lalu. 

Bangunan makam Nyai Ageng Pinatih di Jalan Kebungson / Foto : sah

Dari ilmu agama para gurunya, Nyi Gede Pinatih mampu menyebarkan Islam kepada warga di tanah Gresik. Hanya saja, beliau menyadari bahwa menyebarkan Islam tidak hanya ilmu agama saja.

Namun, perlu juga diimbangi dengan kekuatan ekonomi. Maka, beliau juga berdagang. Bahkan, juga memanfaatkan tanah Gresik yang memiliki banyak pesisir pantai. 

Karena itu, untuk dapat menjual hasil bumi tanah Gresik diperlukan kapal. Akhirnya, dengan kapal yang dimiliki mampu menjual hasil bumi ke wilayah lain, baik di wilayah Majapahit maupun Blambangan serta wilayah lain. Termasuk diantaranya saat balik membawa barang dagangan untuk dijual ditanah Gresik dan sekitarnya. 

“Nyi Ageng Pinatih itu tidak hanya pandai ilmu agama, tetapi juga pinter berdagang. Sampai-sampai beliau lebih dikenal saudagar dari seorang ulama,” bebe KH Mukhtar Jamil.

 Baca Juga : Klenteng Tertua di Pulau Jawa, Dibangun Sejak Abad ke 21 Ada di Gresik

Memang Nyi Gede Pinatih berhasil dalam berdagang dan sukses. Setidaknya hal itu ditandai dengan kepemilikan banyak kapal dagang. Dan, pada 1458, Kerajaan Majapahit mengangkatnya sebagai Syahbandar Pelabuhan Gresik. 

Tugas utama dia adalah memungut bea cukai dan mengawasi kapal-kapal dagang asing. Sejarawan menyebut, Nyai Ageng Pinatih adalah Syahbandar terkenal di zamannya dan perempuan pertama di Nusantara yang mengurusi bea cukai.

Sampai meninggal tahun 1478 Masehi, Nyi Gede Pinatih dikenal ulama perempuan yang juga menjadi kepala pelabuhan era Kerajaan Mejapahit. 

Kini, makamnya di Jalan KH Kholil daerah Kebungson, Kecamatan/Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Lokasinya, tidak jauh dari Makam Malik Ibrahim, sekitar 600 meter dan 2 kilometer dari Makam Sunan Giri, anak angkatnya. 

 Baca Juga : Kisah KH Syafi’i Tokoh Desa Pongangan yang Punya Kesaktian Ilmu Lipat Bumi

Meski tidak seramai Makam Sunan Giri maupun Sunan Malik Ibrahim, namun bagi sebagian peziarah luar kota maupun warga Gresik kurang lengkap bila tidak tawasul ke Makam Nyi Gede Pinatih. Selain perempuan Islam yang berjasa membesarkan Sunan Giri, juga Ny Gede Pinatih sangat dihormati oleh raja-raja saat itu. 

“Kurang afdol apabila kami ke makam Sunan Giri tanpa ke makam ibu angkatnya Nyi Ageng Pinatih. Apalagi, lokasi makamnya tidak jauh dari Makam Maulana Malik Ibrahim, terletak di Kelurahan Kebungson atau 300 meter sebelah utara alun-alun kota Gresik,” aku Subkan, 51, peziarah asal Lamongan.

Dalam setahun rata-rata peziarah yang datang ngalafbarokah di Makam Nyi Gede Pinatih sekitar 17.343 orang. Menariknya, mereka justru dari kalangan masyarakat Tionghoa dan masyarakat Hindu Bali. Bahkan pengunjung dari Negara Thailand juga banyak. **