Minggu, 29/05/2022 | 06:54 WIB
Gresik Satu

Pameran “ARTea” dan Figur dari Siwi Andika

“Begitupun dalam dunia seni, sebuah karya menjadi sangat sesuatu bagi penciptanya, bentuk nyata dalam menerima diri sendiri, berani menunjukkan keberagaman yang dimiliki setiap penghayat, menerima diri sendiri dengan sangat sadar bahwa dirinya ikut andil dalam perbedaan dan menjadi indah dengan keautentikannya…”

Kutipan di atas diambil dari tulisan kuratorial Fakhita Madury untuk pameran bersama dengan tajuk “ARTea”. Dalamkuratorial Fakhita Madury, saya menemukan tiga konsep “wabi sabi” yang dikemukakan Richard Powell (penulis buku “Wabi Sabi Simple”), yaitu: tidak dapat bertahan, tidak selesai, dan tidak ada yang sempurna.

Beberapa karya yang dipamerkan pada pameran “ARTea” di Senja Jingga Art Space Gresik
Gambar: istimewa

Barangkali Fakhita Madury mengharapkan pameran “ARTea” bukanlah kerja seni yang selesai. Tapi terus bergerak hingga menghasilkan “sesuatu”. Sepertinya harapan Fakhita Madury diamini oleh penggelar pameran “ARTea”, yaitu Arek Terop. Di mana Arek Terop melakukan tour pameran bersama (dua kali di Surabaya dan satu kali di Pacet) sebelum di Gresik.

Arek Terop menggelar pameran “ARTea” di Senja Jingga Art Space Gresik (8 s.d. 10 April 2022). Arek Terop sendiri adalah komunias seni rupa dari Surabaya yang beranggotakanmahasiswa STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya.

Ada sekitar lima belas perupa dalam pameran “ARTea”. Mereka memamerkan karya seni rupa, baik dua dimensi atau tiga dimensi. Dari karya-karya mereka yang dipamerkan, karya perupa Siwi Andika mengelokkan pandangan saya. Siwi Andika, mahasiswa semester VI dari STKW Surabaya, memamerkan enam karya berbahan tinta cina di atas kertas dan satu karya berbahan akrilik di atas kanvas.

Suasana pameran “ARTea” di Senja Jingga Art Space Gresik
Foto: Aji (2022)

Siwi Andika

Enam karya berbahan tinta cina di atas kertas berada di dalam pigura yang dipajang pada dinding parket. Enam pigura disusuntiga baris (satu baris dua pigura) sehingga membentuk vertikal. Kita melihat lis pigura bewarna hitam. Kita juga melihat warna hitam pada latar enam pigura. Di latar enam pigura ada kertas berukuran A5. Kaca pun dipasang pada enam pigura untuk melindungi kertas yang sebenarnya bewarna putih.

Tapi kertas di latar enam pigura telah digambar oleh Siwi Andika. Gambar tentang figur tanpa kelamin dan wajah. Meski begitu, anatomi figur menyiratkan tubuh lelaki. Kita menikmati bagaimana Siwi Andika menggambar figur dengan memberigradasi di sekitar bidang kertas.

Kita merasa figur pada enam pigura sedang menggeliat karena sepasang tangan dan sepuluh jarinya memanjang. Figur seolah kesakitan dan tidak percaya terhadap keadaannya. Barangkali keadaan itu tiba-tiba dialami figur. Tapi judul gambar pada enam karya berbahan cina menyiratkan pergolakan jiwa manusia.

Tiga judul diberikan Siwi Andika pada susunan setiap baris, yaitu: “Terjaga” di baris atas; “Terjaga di 1/3 Vertigo” di baris tengah; dan “Hening” di baris bawah. Tiga judul menyiratkan pergolakan jiwa manusia untuk melawan diri dalam bentuksepasang tangan dan sepuluh jarinya semakin panjang.

Enam pigura dengan gambar figur yang bergejolak
Gambar: istimewa

Karena itu, figur yang dihadirkan Siwi Andika tidak dapat istirahat atau tidur. Tetap figur menggeliat hingga terserang vertigo. Akhirnya, figur merasakan keheningan dengan tubuh tak berbentuk. Kita hanya mengetahui tangan figur telahberbentuk siluet seolah kembali normal (walau jarinya sedikit panjang).

Entah kenapa, figur yang dihadirkan Siwi Andika dapat mengingatkan kita pada Pinokio, tokoh fiksi yang hidungnya semakin panjang andai berbohong. Barangkali figur telah melakukan sesuatu sehingga sepasang tangan dan sepuluh jarinya jadi panjang. Hubungan sebab dan akibat itu bolehlah jadi tafsir kita.

Kita dapat mengaitkan apa yang dialami figur dengan peribahasa perihal tangan, misal: “melempar batu, sembunyi tangan”; “bertepuk sebelah tangan”, “tangan panjang”; “kasihkan anak tangan-tangankan, kasihkan bini tinggal-tinggalkan”; hingga “kecil tapak tangan, nyiru ditadahkan”.

Karya Siwi Andika yang berjudul “Pusara”
Gambar: istimewa

Lain itu, di satu karyanya yang berbahan akrilik di atas kanvas ukuran 70 x 90 cm hampir serupa dengan enam karyanyaberbahan tinta cina. Siwi Andika memberi judul “Pusara” untuk tiga figur yang ada di dalam karya berbahan akrilik di atas kanvas. Kita jadi berandai, barangkali Siwi Andika memperlihatkan bagaimana mayat manusia yang tidak dapat melawan diri sendiri.

Kita mengamati latar kanvas itu hitam dan tiga figur menonjolkan perpaduan warna merah, kuning, dan biru. Kita juga melihat enam noktah warna putih untuk kuku. Warna merah, kuning, dan biru saling bercampur sehingga kita menemukan warna ungu dan jingga. Kita mengamati tangan dari tiga figur saling bersimpulan satu sama lain.

Kita mengira tangan dan jari dari tiga figur itu serupa siluet tangan pada gambar berbahan tinta cina yang berjudul “Hening”. Sayang, kita hanya bisa menafsir sekilas karena Siwi Andika memamerkan karya-karyanya di pameran bersama. Kita tinggal menunggu apakah figur-figur di atas akankah tetap tampil jika Siwi Andika menggelar pameran tunggal.

Semoga Gresik jadi bagian dari pameran tunggalnya nanti.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.