Kamis, 30/06/2022 | 01:56 WIB
Gresik Satu
Sastra

Pementasan Naskah Lakon “Sinawang”: Terbuang setelah Membandingkan

Saya menonton pementasan Teater Nusa (ekstrakurikuler SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik) yang membawakan naskah lakon “Sinawang” karya Khurun’in Rizki Az Zahra dengan sutradara Dicky Panca Aulia. Naskah lakon “Sinawang” berbentuk monolog dan berkisah tentang gadis remaja merawat ibu yang terpapar Covid-19. Meski berisiko, gadis remaja enggan berpisah dengan ibu. Beberapa konflik terjadi, seperti: hambatan gadis remaja mengerjakan tugas sekolah; serta penyesalan pada peristiwa ayah yang terpapar Covid-19.

Naskah lakon “Sinawang” meletupkan makna betapa manusia begitu rapuh, sekaligus mengingat kembali bagaimana Covid-19telah merenggut orang-orang tercinta. Akibatnya, sejak masa pandemi Covid-19, kita mengubah perilaku, seperti: memakaimasker; mencuci tangan; menjaga daya tahan tubuh; menjaga jarak; hingga mengonsumsi makanan dan minuman sehat.Perubahan perilaku menjadi protokoler kesehatan yang harus kita terapkan demi mencegah paparan Covid-19.

Pementasan Teater Nusa merupakan salah satu bagian dari kegiatan “Satu Dekade Stagecraft: Memandang Manusia dengan Seribu Mata” di Aula Idham Khalid, SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik, pada 21 Mei 2022. Selain Teater Nusa, grup teater yang dibentuk oleh peserta didik kelas X dan XI SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik ikut meramaikan kegiatan tersebut, antara lain: Teater Odyssey, Teater Paramadita, Teater Telusongo, Teater Everlasting Shine, Teater Merpati, serta Teater Baswara.

Satu Dekade Stagecraft: Memandang Manusia dengan Seribu Mata
Foto: Istimewa


Pementasan

Lampu panggung menyala. Awal pementasan, gadis remaja(diperankan Khurun’in Rizki Az Zahra) berteriak ke arah penonton. Setelah itu, saya mengamati properti di belakang gadis remaja. Properti berupa dinding yang memiliki tiga ruang, yaitu: ruang kanan tertutup pintu; ruang tengah tanpa penutup; dan ruang kiri tertutup kelambu. Properti lain adalah meja yang di atasnya ada tumpukan buku. Semua properti menandakan bahwa latar pementasan berada di dalam rumah (ruang tamu).

Gadis remaja menunjuk ruang kanan tertutup pintu
Foto: Zamroni Arief

Gadis remaja bercerita kepada penonton perihal dirinya merawatibu yang terpapar Covid-19. Saya akhirnya paham bahwamereka (gadis remaja dan ibu) sedang melakukan isolasi mandiri di rumah. Lalu, gadis remaja menunjuk ke pintu tertutup (ruang kanan) dan bercerita lagi: “Ini kamar Ibuku. Tempat Ibuku menjalani isolasi mandiri. Dalam merawat ibu, gadis remajamengaku tetap menjalankan protokol kesehatan dan menyemprotkan disinfektan. Meski begitu, gadis remaja sempat mengeluh karena isolasi mandiri memberi hambatan untuk menyelesaikan tugas sekolah.

Salah satu adegan gadis remaja
Foto: Zamroni Arief

Sejak ibu terpapar Covid-19, gadis remaja belum melapor RT. Barangkali, gadis remaja mengalami ketakutan jika nasib ibusama dengan ayah. Gadis remaja mengingat peristiwa ayah yang terpapar Covid-19. Waktu itu, gadis remaja dan ibu harus berpisah dengan ayah yang wajib melakukan isolasi mandiri di rumah. Pada akhirnya, gadis remaja menerima kenyataan pahitbahwa ayah (dalam kondisi sendirian) telah wafat akibat Covid-19. Peristiwa ayah yang terpapar Covid-19 jadi penyesalan gadis remaja.

Khurun’in Rizki Az Zahra berakting sebagai tetangga
Foto: Zamroni Arief

Pada adegan lain, tanpa sepengetahuan gadis remaja, tetanggamemasuki ruang tamu demi memberikan oleh-oleh. Beberapa kali tetangga memanggil gadis remaja dan ibu. Tapi, tetangga begitu kaget ketika mendengar teriakan ibu yang terbatuk-batuk dari dalam ruang kanan tertutup pintu: “Terima kasih. Lekas pergi. Nanti kamu bisa terpapar Covid-19. Aku ini terpapar Covid-19. Waspadalah!” Tetangga yang cemas langsung pergi dari ruang tamu untuk melaporkan kondisi kesehatan ibu kepada RT.

Laporan tetangga kepada RT menyebabkan akhir pementasan.Bu RT bersama ambulans mendatangi rumah gadis remaja untuk menjemput ibu. Gadis remaja tidak bisa melawan ketika Bu RT menjelaskan bahwa ibu harus segera ditangani para petugas medis. Bu RT khawatir kondisi kesehatan ibu semakin memprihatinkan. Di hadapan ruang kanan tertutup pintu, gadis remaja memanggil ibu. Beberapa kali panggilan gadis remaja tidak dijawab oleh ibu. Dalam adegan ini, saya menyadari ibu telah wafat. Gadis remaja menangis sembari menggedor pintu: “Bu RT, Ibuku meninggal dunia. Ibu, Ibu…”

Gadis remaja menangis setelah tahu ibu wafat
Foto: Zamroni Arief

Sinawang

Sepengetahun saya, kata “Sinawang” merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti terbuang, serta perilaku membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sutradara Dicky Panca Auliamengamini apa yang saya tahu itu. Lalu, Dicky Panca Auliamenjelaskan bahwa perilaku membandingkan diri sendiri dengan orang lain pada akhirnya terbuang. Saya mengingat ucapan gadis remaja di awal pementasan: “Mungkin, kalian belum pernah merasakan jadi aku saat ini. Namun di luar sana, masih ada yang lebih parah daripada aku…” Ucapan gadis remaja seolah menggampangkan kondisinya yang sedang melakukan isolasi mandiri.

Saya menelisik ada ketakutan dalam diri gadis remaja. Bukan ketakutan karena ibu terpapar Covid-19. Tapi gadis remaja merasa takut jika ibu akan sendiri andai tidak di sampingnya.Barangkali, ketakutan itu akibat penyesalan pada peristiwa ayah yang terpapar Covid-19. Saya mengingat lagi ucapan gadis remaja: “Sebetulnya, aku bingung harus melapor RT atau tidak. Jika lapor, aku yakin kejadian akan sama seperti Ayahku yang menjalani isolasi mandiri. Aku pasti disuruh meninggalkan rumah ini.” Sehingga, ketakutan itu menghasilkan keegoisandalam diri gadis remaja.

Bentuk keegosian yang dilakukan gadis remaja adalah belum melapor RT perihal kondisi kesehatan ibu. Artinya, gadis remaja lebih pilih merawat ibu dengan keterbatasan fasilitas di rumah. Barangkali, gadis remaja tidak mau, nasib ibu sama dengan ayah andai dibantu oleh orang di sekitar dan pihak medis. Meski begitu, gadis remaja mengalami hambatan dalam menyelesaikantugas sekolah ketika merawat ibu. Pada sebuah adegan, gadis remaja begitu marah setelah ditelepon temannya perihal tugas sekolah. Akibatnya, gadis remaja mengalami dilema, antara pilihmerawat ibu di rumah; atau menyelesaikan tugas sekolah.

Pilihan gadis remaja pun terjawab ketika ditelepon temannya: “Kan sudah aku bilang. Aku tidak bisa meninggalkan Ibuku sendirian di rumah. Aku juga tidak bisa meninggalkan rumah.” Gadis remaja tetap kukuh merawat ibunya. Jangan-jangan, gadis remaja membandingkan temannya andai berada di posisinya. Padahal, jika melaporkan RT, pihak medis menolong ibu, bisa jadi gadis remaja tidak mengalami kesusahan. Sayangnya, pilihan sikap gadis remaja menyebabkan dirinya terbuang:kehilangan ibu. Dan gadis remaja hanya bisa meratapi kepergian kedua orang tuanya.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

Full Day School