Selasa, 04/10/2022 | 06:42 WIB
Gresik Satu
Berita Gres Pemerintahan

Penanganan Terpadu, Prioritas Kabupaten Gresik Turunkan Angka Stunting

whatsapp image 2022 09 13 at 23.18.43
Ketua TP – PKK Kabupaten Gresik Nurul Haromaini Ali Ahmad Yani ( hijau) saat berkunjung ke rumah salah satu warga di Randuagung. / (Foto: TBK/GresikSatu.com)

GresikSatu – Penanganan stunting di Kabupaten Gresik masih menjadi prioritas utama program Pemkab. Tak terkecuali prioritas program TP – PKK Kabupaten Gresik, baik di bidang Pokja 1 sampai 4 melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) yang bersinergi dengan Dinas PMD dan berbagai lembaga terkait.

Hal ini disampaikan Ketua TP – PKK Kabupaten Gresik Nurul Haromaini Ali Ahmad Yani saat kegiatan Pelacakan Stunting di Desa Randuagung, Kecamatan Kebomas. Tak hanya Ketua TP – PKK Gresik, Ketua Persit, Ketua Bayangkari, jajaran Ibu-Ibu Forkopimda, Kepala Desa Randuagung, serta masyarakat sekitar turut serta sukseskan kegiatan kali ini.

Ning Nurul sapaan akrab Ketua TP – PKK Kabupaten Gresik, sampaikan dalam mewujudkan Gresik bebas stunting, perlu adanya kerjasama dari seluruh pihak terutama internal lingkungan. Beberapa hal yang perlu dijaga meliputi kesehatan hingga perekonomian.

Menurutnya, meskipun sudah ada gerakan preventif yang dilakukan melalui kelompok dasa wisma, posyandu, Sub. Peran Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), polindes, puskesmas dan lain-lainnya terkait penanggulangan stunting, tetap saja peran serta berbagai elemen dari desa tetap menjadi faktor paling penting.

“Keberhasilan keluarga sehat bebas stunting tercapai apabila melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya. Perlu adanya dukungan dan komitmen barbagai elemen di desa/kelurahan untuk mencapai keberhasilan” ucapnya, Rabu (14/9/2022).

Untuk wujudkan hal tersebut pelaksanaan kegiatan pelacakan semacam ini akan dapat menjembatani antara pemerintah dengan masyarakat sekitar. Maka kegiatan pelacakan kali ini berorientasi dalam mengidentifikasi, menilai dan mengolah serta menangani permasalahan permasalahan dan penyebab terjadinya stunting di masyarakat.

“Support stunting butuh komitmen bersama oleh semua pihak bukan hanya pemerintah namun pihak swasta dan masyarakat harus turun tangan dalam upaya memutuskan mata rantai akibat terjadinya stunting di desa/kelurahan” ucap Ning Nurul.

Selanjutnya, sesi diskusi dan monev diadakan antara Ning Nurul bersama jajaran Ibu-ibu Forkopimda dengan masyarakat sekitar. Dalam melakukan pelacakan, mereka mengambil sampel 4 balita stunting dari sana. Hasilnya di daerah heterogen seperti Randuagung permasalahan dengan pemetaan paling banyak berasal dari pola asuh dan banyak anak.

Menanggapi hal itu Ning Nurul berpesan untuk tingkatkan ikatan keluarga, dimana ikatan emosional antara orang tua dan anak yang kurang kuat kerap menjadi pemicu terjadinya stunting. (Tov)