Minggu, 29/05/2022 | 06:25 WIB
Gresik Satu

Perayaan Cap Go Meh, Cermin Kerukunan Umat di Kabupaten Gresik

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah bersama tokoh lintas agama hadir di perayaan Cap Go Meh, Rabu (16/2/2022)./ Foto: TbK
Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah bersama tokoh lintas agama hadir di perayaan Cap Go Meh, Rabu (16/2/2022)./ Foto: TbK

GresikSatu I Perayaan Cap Go Meh 2573 atau bertepatan tahun 2022 di Gresik dilaksanakan dengan sederhana dan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, ini demi mencegah peningkatan resiko penularan Covid-19. Perayaan Cap Go Meh sebagai agenda rutin masyarakat tionghoa ini juga dihadiri Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah. Pelaksanannya bertempat di Klenteng Kim Hin Kiong, Gresik.

Kendati demikian, warga Tionghoa yang merayakan Cap Go Meh merasa bersyukur, beberapa tokoh lintas agama dan juga berbagai ormas hadir yakni Formagam, IPNU, IPPNU, Ansor, FKUB dan organisai masyarakat lainnya. Mereka warga tionghoa menilai bahwa ini adalah wujud solidaritas dan kerukunan antar umat yang beragama.

Wakil Bupati Gresik yang akraba disapa Bu Min menyampaikan bahwa pemerintah daerah mendukung perayaan Cap Go Meh. Bahkan tahun ini pihaknya ingin mengadakan pagelaran agar masyarakat juga ikut merasakan semaraknya Cap Go Meh. Namun karena situasi pandemi masih belum berakhir, dan tingkat resiko penularan Covid-19 juga masih tinggi, maka pemerintah memutuskan untuk meniadakan kegiatan tersebut.

“Karena pandemi Covid-19 jadi difokuskan pelaksanaan ritual saja, untuk terus mendoakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah, penyakit dan segala macam yang ada,” katanya, Rabu (16/2/2022).

Artinya lanjut Bu Min, kegiatan ini untuk mendoakan Kabupaten Gresik dari hal tersebut dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar ritual adatnya, walaupun dalam kondisi Covid-19 ini, sehingga tetap selalu patuh dengan protokol kesehatan.

Hadirnya sejumlah tokoh lintas agama serya organisasi kemasyarakatan di acara Cap Go Meh 2022 ini merupakan sebagai wujud solidaritas dan kerukunan umat tanpa memandang etnis, suku, ras dan budaya. Ia berharap suasana kerukunan ini dapat terus terbangun sehingga Kabupaten Gresik tetap aman dan juga kondusif. Tidak terjadi adanya konflik sosial yang mengatasnamakan etnis ataupun agama.

“Tentunya ini adalah bentuk kerukunan antar umat tanpa memandang etnis, suku, ras dan budaya. Alhamdulillah dengan suasana seperti saat ini mudah-mudahan Gresik selalu kondusif. Harapan kami sebagai pemerintah daerah, agar kedepannya semakin lebih baik lagi. Dengan adanya acara ini dimana kita bisa menunjukkan ciri khas kebudayaan Tionghoa,” kata Bu Min.**