Senin, 03/10/2022 | 17:54 WIB
Gresik Satu
Sastra

Perihal Majalah Gerawasi

Seseorang memberikan sebuah majalah kepada saya. Ukurannya A5. Gambar kovernya memperlihatkan dermaga dengan kapal; rumah penduduk yang berkabut; dan masjid berkubah model bawang. Saya baru mengetahui majalah itu bernama Gerawasi dengan semboyan: “Gresik dalam Warta Seni”. Saya baru mengetahui lagi bahwa Gerawasi diterbitkan oleh Biro Sastra Dewan Kesenian Gresik tahun 2013.

Redaksi Gerawasi adalah Abizar Purnama (Pemimpin Redaksi), Rakai Lukman (Sekretaris), dan Bambang Soeryanto (Bendahara). Redaksi tersebut memiliki tiga penasihat: Budi Palopo (Ketua Umum Dewan Kesenian Gresik), Syamsul Arif (Ketua II Dewan Kesenian Gresik), dan Bagus Sasmita Edi Wahono (Sekretaris Umum Dewan Kesenian Gresik).

Redaksi Gerawasi volume I tahun ke-1/2013 (dari kiri ke kanan): Abizar Purnama, Rakai Lukman, dan Bambang Soeryanto
Sumber: Istimewa

Pada pengantar “Dari Redaksi”, pemberian nama Gerawasi sebagai majalah berhubungan dengan nama lain Gresik yang terkenal hingga tahun 1720. J.A.B Wisselius mengatakan Gerawasi adalah nama sebelum Gresik. Tujuan Gerawasi begitu mulia, kalau boleh saya rumuskan pada pengantarnya, kira-kira begini: mengenalkan dan mengakrabkan masyarakat Gresik dengan dunia seni dan budaya lewat majalah.

Kover dan Halaman Redaksi Gerawasi volume I tahun ke-1/2013
Sumber: Istimewa

Isi Halaman

Dimensi Gerawasi sangat tipis, cuma 12 halaman (tanpa dihitung kover). Meski tipis, rubriknya ternyata banyak, seperi Sejarah, Artikel, Komunitas, Agenda, Puisi, dan Cerpen. Dari segi desain, Gerawasi sudah bagus. Barangkali kekurangan desainnya ada pada ukuran font yang berubah-ubah. Gerawasi terkesan wajib mentok 12 halaman sehingga penata letak isi halaman harus memperkecil ukuran font untuk tulisan yang terlalu panjang.

Tulisan Abizar Purnama di rubrik Sejarah menjadi pembuka Gerawasi dengan judul “Kwee Tek Hoay: Penulis Drama Indonesia Periode Awal”. Menurut saya, tulisan Abizar Purnama menarik karena memperkenalkan sastra Melayu-Tionghoa di masa Hindia Belanda kepada masyarakat Gresik. Abizar Purnama runut membahas sejarah, sosial, budaya, dan ketokohan Kwee Tek Hoay.

Rubrik Sejarah dan Artikel Gerawasi volume I tahun ke-1/2013
Sumber: Istimewa

Tulisan kedua berjudul “Bunga Roos dari Cikembang Karya Kwee Tek Hoay” di rubrik Artikel. Saya tidak mengetahui siapa penulisnya (barangkali ditulis oleh Abizar Purnama atau redaksi secara kolektif). Meski porsi pembahasan banyak ke novel “Bunga Roos dari Cikembang”, tulisan kedua juga menyinggung sastra tionghoa peranakan dengan menukil buku “Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia”.

Gerawasi hanya memuat dua tulisan tentang Kwek Tek Hoay tanpa menuliskan tulisan lain, misal penyair tionghoa peranakan asal Gresik, Suwandhi Indrakusuma (Tjia Swan Djioe). Gerawasi jadi menarik andai membahas Suwandhi Indrakusuma yang menulis novel atau sajak serta tulisannya telah menghiasi majalah Penghidoepan (Surabaya), Tjermin (Surabaya), Asia dan Matahari (Malang), hingga Star Magazine (Batavia).

Pada tulisan di halaman berikut, saya membaca dua profil komunitas (Fiksimini Gresik dan Gresik Movie) di rubrik Komunitas dan tiga ulasan (dua pementasan teater dan satu pengenalan kartun Sang Gresik) di rubrik Agenda. Barangkali semua penulisnya adalah redaksi secara kolektif. Selanjutnya, di halaman belakang majalah, saya menemukan puisi-puisi karya saya dan RH Suhud, cerpen karya Rakai Lukman, dan beberapa foto.

Khusus puisi-puisi karya saya, kok rasanya aneh, karena saya tidak pernah mengirim ke Gerawasi. Saya justru baru mengetahui keberadaan Gerawasi pada tahun 2022. Tapi saya harus mengesampingkan soal itu, toh redaksi menulis sumber darimana puisi-puisi karya saya lebih dulu termuat: Antologi Puisi 12 Penyair Gresik “Burung Gagak dan Kupu-kupu.”

Rubrik Komunitas, Agenda, Puisi, dan Cerpen Gerawasi volume I tahun ke-1/2013
Sumber: Istimewa

Harapan

Gerawasi yang diberikan seseorang kepada saya adalah volume I tahun ke-1/2013. Ketika saya mengkonfirmasi kepada Abizar Purnama, ternyata Gerawasi menjadi terbitan pertama dan terakhir. Saya menyayangkan pemberhentian Gerawasi setelah penerbitan pertama. Meski begitu, saya mengapresiasi karena Biro Sastra Dewan Kesenian Gresik tahun 2013 melahirkan sebuah produk. Abizar Purnama menambahkan Gerawasi telah memiliki ISSN sendiri yang bisa diurus lagi andai ingin menghidupkannya kembali.

Pada 21 Januari 2022, portal Gresiksatu.com mereportase para seniman yang bergabung di Dewan Kesenian Gresik sedang melakukan audiensi dengan Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik. Chidir Amirullah, selaku Ketua Pramusyawarah Daerah Dewan Kesenian Gresik, dalam audiensi menuturkan hasil diskusi bersama dengan sesepuh, tokoh kesenian dan budayawan Gresik, rata-rata mereka satu suara, yaitu harapan besar untuk iklim kesenian dan budaya di Gresik.

Semoga apa yang dilakukan para seniman yang bergabung di Dewan Kesenian Gresik ke depan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Selain itu, Biro Sastra Dewan Kesenian Gresik ke depan dapat menghidupkan kembali Gerawasi atau membuat majalah sejenisnya. Saya kira Gerawasi atau majalah sejenisnya bisa jadi prioritas karena berhubungan dengan informasi seputar pelbagai bidang seni. Redaksi juga bisa memberikan ruang menulis untuk guru, ruang apresiasi untuk pelajar, ruang seni rupa dan media rekam, serta informasi jadwal kegiatan seni di Gresik.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

Daftar Bacaan

Dukut Iman Widodo dkk (2004), “Grissee Tempo Doeloe”, Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik.

Gerawasi, volume I tahun ke-1/2013

https://gresiksatu.com/jelang-musda-para-seniman-gresik-audiensi-dengan-disparekrafbudpora/ (Akses 23 Februari 2022)