Senin, 03/10/2022 | 15:02 WIB
Gresik Satu
Ekonomi

Petrokimia Gresik Beberkan Punya Cara Jitu Hadapi Ancaman Krisis Pangan Dunia

Gresiksatu.com
Dua petani tengah menggarap sawah sebagai solusi ancaman krisis pangan. (Foto : Humas Petrokimia Gresik)

GresikSatu | Di tengah kondisi krisis ekonomi serta perang yang tak kunjung usai, membuat banyak negara mengkhawatirkan terjadinya krisis pangan. Kekhawatiran itu juga terjadi di Indonesia.

Kendati demikian, Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, mengaku memiliki cara jitu menghadapi krisis pangan.

Hal itu seperti disampaikan Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL), saat keduanya menjadi narasumber dalam program Indonesia Business Forum (IBF), di salah satu stasiun tv.

Menurut Dwi, banyak cara agar Indonesha terhindar dari krisis pangan dunia. Diantaranya, Petrokimia Gresik akan memastikan produksi dan distribusi pupuk hingga petani berjalan dengan lancar. Kemudian menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Sebagian bahan baku pupuk saat ini masih kita peroleh dari impor. Bahan baku yang sempat mengalami permasalahan adalah KCl untuk produksi pupuk NPK di awal perang kawasan Eropa,” katanya Jum’at (16/9/2022).

“Pada kondisi normal, jumlah KCl yang diekspor adalah 41,6 juta ton setahun. Dari total tersebut 47 persen berasal dari Belarusia dan Rusia. Bisa dibayangkan jika supply dari Belarusia dan Rusia ini terganggu?” tandasnya.

Untuk itu, tambah Dwi Satriyo demi menjaga ketahanan pangan nasional, Petrokimia Gresik menambah supply untuk pengadaan KCl dari Kanada, tentu dengan harga yang reasonable.

Kedua, Petrokimia Gresik berupaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui program Agro Solution. Program ini berupaya menciptakan ekosistem pertanian secara komprehensif, baik on farmmaupun off farm. Mulai dari penyediaan dana atau modal usaha yang bersinergi dengan lembaga perbankan, kemudian jaminan asuransi, ketersediaan pupuk, kawalan pengendalian hama, hingga offtaker.

“Dalam program ini Petrokimia Gresik mengedukasi penggunaan pupuk nonsubsidi. Dengan pengawalan yang baik, mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani,” ternag Dwi Satriyo.

Petrokimia Gresik juga melakukan transformasi digital untuk memastikan perbaikan kinerja agar kebutuhan petani bisa tercukupi dengan baik. Serta pengembangan SDM pertanian dengan menggandeng sejumlah penyelenggara pendidikan sektor pertanian.

“Petrokimia Gresik menciptakan SDM unggul pertanian dengan membuka program magang bagi mahasiswa pertanian, bekerja sama dengan tujuh Politeknik Pertanian di Indonesia untuk mendorong regenerasi di sektor pertanian agar tak terhadi krisis pangan,” tandas Dwi Satriyo. (aam)