Kamis, 30/06/2022 | 01:37 WIB
Gresik Satu
Viral

Ratusan Tambak di Pulau Mengare Jebol, Warga Mengare Tuding Akibat Reklamasi JIIPE 

Tambak di Pulau Mengare Jebol Warga Tuding Akibat Reklamasi JIIPE 
Teks foto : Warga Mengare Komplek saat gelar audiensi dengan pihak JIPPE (Faiz /gresiksatu.com)

GresikSatu | Ratusan warga Mengare Komplek yang terdiri dari Desa Watuagung, Kramat dan Tajung Widoro, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik gelar audiensi bersama pihak Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). 

Dalam audiensi itu, pada Senin (13/6/2022), warga menuding, ratusan tambak yang jebol Imbas banjir rob akibat reklamasi di JIIPE. Untuk itu warga menuntut pihak perusahaan Internasional itu tanggung jawab atas kejadian itu. 

Salah satu warga Mengare Komplek Mastain mengatakan, dampak reklamasi itu, air laut di wilayahnya mengalami pendangkalan. Hingga imbasnya air laut mudah masuk dan tambak pun jebol. Bahkan kini, pendapatan nelayan melaut berkurang akibat reklamasi itu. 

“Jika ada gelombang, yang semula ke arah wilayah JIIPE berbalik arah Tambak warga,” kata Mastain yang juga Kepala Desa Tajung Widoro.

Baca Juga : Petani Tambak Mengare Meradang, Banjir Rob Akibatkan Ikan Lepas ke Laut

Warga lain  Abdul Amin mengatakan hal yang sama. Kendati baniir rob sudah ada beberapa tahun. Tidak separah saat pembangunan reklamasi di JIIPE sampai ratusan tambak jebol. 

“Mulai reklamasi di Pelabuhan itu, ratusan tambak jebol. Bahkan terlihat seperti lautan,” ucapnya. 

Pihaknya ingin JIIPE tanggung jawab dengan menormalisasi perbaikan tanggul yang jebol. “Jika tidak, akan banyak lagi tambak yang tenggelam. Petani tambak pun merugi di ratusan hektar lahan mata pencahariannya,” jelasnya. 

Sementara itu, perwakikan JIIPE Mifti Haris menanggapi beberapa tuntutan warga. Pihaknya akan menyampaikan aspirasi warga kepada pimpinan. “Ketiga tuntutan menjadi atensi kami,” ucapnya.

Baca Juga : Banjir Rob di Gresik Semakin Meluas, Dua Kecamatan Kena Dampak 

Dikatakan, untuk tanggul yang jebol dan harus dilakukan normalisasi pihaknya meminta warga untuk melakukan pemetaan wilayah atau tambak yang jebol. 

“Dari pemetaan, nantinya kami bersama masyarakat tau mana lokasi tambak yang harus dikerjakan normalisasi,” ucap Mifti. 

Kendati demikian, pihaknya menolak jika penyebab banjir rob disebabkan oleh aktivias di perusahaanya. Menurutnya, penyebab jebolnya Tambak di Wilayah Mengare bukan dari reklamasi. Namun faktor alam. Hal itu juga terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

“Seperti yang terjadi di pesisir pantai utara, di Surabaya, Semarang dan daerah lain juga mengalami banjir akibat air laut naik atau banjir rob. Jadi murni karena faktor alam,” jelasnya. (faiz/aam)

Full Day School