Senin, 03/10/2022 | 15:24 WIB
Gresik Satu
Gresik Seru

Rebo Wekasan, Tradisi Tahunan Desa Suci Gresik Warisan Sunan Giri

Legenda Sendang Sono Desa Suci, Pertama Ditemukan Seorang Putri yang Galau Ditolak Raja 
Sendang Sono Desa Suci, Manyar Gresik / foto : Faiz

GresikSatu | Satu diantara banyak tradisi yang masih dilestarikan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik adalah Rebo Wekasan. Tradisi ini dilakukan sejak era Sunan Giri masih ada. Biasanya masyarakat desa setempat merayakan dengan memanjaatkan do’a dan kirab tumpeng.

Rebo wekasan kali ini, bakal berlangsung meriah setelah dua tahun diadakan tanpa pasar rakyat. Kegiatan warisan budaya di Desa Suci rencananya akan berlangusung selama empat hari. Mulai hari Minggu hingga Rabu (18-21 September 2022).

Rangkaian kegiatan Rebo Wekasan diantaranya. Khotmil Qur’an, kirab tumpeng agung, selamaten rebo wekasan dan hari jadi Desa Suci 631. Selanjutnya, pameran fotografi, istighosah dan sholat nabi, pasar rakyat, dan Sholat Malam di Masjid Mambau Thoat.

Sejarah Rebo Wekasan

Diketahui historis rebo wekasan sendiri tak luput dari keberadaan Sendang Sono. Telaga yang pertama kali ditemukan Dewi Retno Suwari atau lebih dikenal dengan Siti Fatimah Binti Maimun saat beristirahat di desa setempat.

Ceritanya rombongan sang putri mencari sumber air karena hendak melakukan sholat. Setelah mencari akhirnya menemukan Sendang Sono. Disebut Sono karena banyak pohon namanya Sono.

12 tahun setelah sumber air ditemukan, seorang santri Sunan Giri bernama Syekh Jamaluddin Malik, berkunjung ke Desa Suci. Kunjungan santri itu secara khsuss diutus Sunan Giri untuk menyebarkan agama Islam. Di sana, sang santri mendirikan Masjid dan surau atau pondok  sebagai sarana pendidikan.

“Lambat laut, karena banyak yang nyantri di Syekh Jamaluddin Malik, air menjadi kebutuhan yang mendasar. Sebab tempat yang semula ditempati, airnya semakin sedikit,” kata Tokoh Masyarakat Desa Suci H R Moch Syahid, Senin (19/9/2022).

Di tengah kebingungan mencari air, Syekh Jamaluddin Malik kemudian berkonsultasi dengan Sunan Giri, yang tak lain adalah gurunya. Dari petunjuk Sunan Giri, Jamaluddin Malik diminta untuk pergi ke sebelah utara desa.

“Petunjuknya Sunan Giri adalah, jika ada pohon besar disitu pasti ada sumber.  Akhirnya santri itu menemukan sumber, yang kemudian dikenal bernama Sendang Sono,” paparnya.

“Setelah ketemu sumber itu,  Syekh Jamaluddin Malik memindahkan Masjid di Jalan Pandanarum Desa Suci. Masjid itu namanya Mambaut Thoat. Masjid ini pertamakali dibangundi desa ini,” tambah Syahid.

Setelah ditemukan sumber Sendang Sono, Sunan Giri pun memerintahkan santrinya Skekh Jamaluddin Malik untuk melakukan tasyakuran. Serta tabarrukan karena mengambil barokah dari air itu. Dengan cara sholat malam, mandi malam, dan kebetulan aktivitas itu pada hari Rabu terakhir bulan Syafar.

“Ritual itu kemudian mulai dilakukan dan menjadi tradisi tahunan. Setiap Rabu terakhir bulan Syafar banyak orang berkumpul di telaga itu, hingga ramai orang yang berjualan dan saat itu dinamakan tradisi Rebo Wekasan,” ujarnya.

Sendang Sono Kini Hanya Berisi Ikan Saja.

 

Dulunya Sendang Sono digunakan tempat pemandian. Ada lima tempat pemandian di telaga tersebut. Antara lain, Sendang wadon tempat Ibu-ibu atau perempuan. Kemudian Sendang Sumber Lanang untuk Laki-laki. Lalu Sendang Guyangan untuk memandikan ternak sapi, kuda hingga kerbau.

“Sendang Blumbang tempat mandi untuk keluarga, dan bersuci hendak sholat. Yang terakhir sendang yang mengaliri ke sawah masyarakat tempo dulu di tahun 1990 sampai 1999 masih ada,” kata Syahid.

Kini, kondisi Telaga sudah dijadikan satu tempat. Seiring waktu, Sendang Sono beralih fungsi. Dari tempat pemandian dan bersuci, kini hanya berisi ikan saja. Syahid berharap ada perhatian dari pemerintah, berupa pelestarian cagar budaya maupun lainnya. Apalahi Sendnag Sono merupakan peninggalan sejarah paling berharga.

Rebo Wekasan ini sinkronis dengan situs-situs sejarah, dan Rebo Wekasan mampu sebagai budaya daerah. Seharusnya Telaga Sendang Sono  dilestarikan menjadi cagar alam, atau aset Desa agar tidak terbengkalai seperti saat ini,” harapnya. (faiz/aam)