Sabtu, 28/05/2022 | 04:28 WIB
Gresik Satu

“Rombeng” dan “Teriakan” Menjadi Duel

Pada ruang pameran, dua kertas berukuran A1 ditempel di dinding, isi dua kertas itu adalah pendapat pameran (bukan teks kuratorial) yang ditulis oleh seorang berinisial T.G.X dari Sidoarjo (2022). Pendapat itu diawali “copy paste” beberapa pesan dari seorang bernama Ariots. T.G.X berpendapat Ariots memiliki gagasan asli (tanpa interpretasi lain darinya) dalam menggelar pameran seni bersama Soceng.

T.G.X memberikan sudut pandang bahwa dia lebih suka menyebut konsep karya Ariots sebagai Estetika Rombeng. Sedang Soceng, memiliki karya, meski “ndlewer”, juga bewarna merah darah. T.G.X menambahkan pameran seni bertajuk “Berduel” dari Soceng (panantang) dan Ariots (penerima tantangan) perlu kita lihat saja. Apakah Ariots akan compang-camping? Atau Soceng memenangkan duel?

Poster pameran seni “Berduel”
Foto: Aji (2022)

Kita melihat pada dinding lain di ruang pameran. Kita menikmati enam karya tiga dimensi dari Ariots dan enam karya dua dimensi dari Soceng. Pameran seni yang menampilkan dua belas karya tersebut berada di Senja Jingga Art Space Gresik (5 s.d. 6 Februari 2022). Sangat singkat bagi kita untuk menikmati pameran seni dari dua perupa yang sama-sama masih menimba ilmu di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Rombeng

Ariots, lelaki asli Surabaya, memamerkan enam karya tiga dimensi yang dipajang di dinding. Dia menolak karyanya dianggap instalasi dan berpendirian bahwa karya tiga dimensinya adalah lukisan. Kita kagum atas pendiriannya. Kita teringat pada pandangan kritikus seni rupa Sanento Yuliman tentang lukis dalam pengertian sediakala di buku “Dua Seni Rupa” (2001):

“…paham melukis di masa dulu, yang dapat kita rumuskan dalam dua tahap, begini: (a) Melukis ialah melahirkan pikiran, gagasan, angan-angan ke dalam gubahan rupa yang indah atau yang memuaskan penglihatan; (b) gubahan itu dibuat dengan mencoretkan garis dan mengoleskan warna, atau dengan mengukir, dikerjakan dengan alat yang digenggam atau dijepit di antara jari.”

Empat karya Ariots
Foto: Aji (2022)

Pengertian di atas memberi kita pemahaman tentang pendirian Ariots. Selain itu, kita dapat menikmati bagaimana dia menciptakan karya dengan menghancurkan bahan-bahan sekitar. Barangkali penghancuran bahan-bahan sekitar dianggap oleh T.G.X sebagai Estetika Rombeng. Kita sedikit paham kenapa setiap karya Ariots terlihat pembakaran karpet babut; penggabungan bahan atap seng dan kain; atau pemaluan-penyatuan blek seng.

Vespa gembel
Sumber: http://www.hengkykik.com/

Sebagian dari kita (setelah melihat karya Ariots) tiba-tiba teringat pada vespa rombeng (gembel) yang biasa digunakan oleh anak punk. Ternyata, Ariots dalam sebuah pembicaraan di pameran seni “Berduel”, memberikan keterangan bahwa dirinya tidak asing dengan dunia tersebut. Barangkali sebagian dari kita, sebenarnya mengetahui bahan-bahan yang digunakan Ariots sering menjadi pernak-pernik vespa rombeng.

Teriakan

Soceng, lelaki kelahiran Sulawesi, menciptakan enam lukisan potret dalam figur berteriak, muram, atau sedih. Sebagian dari kita merasa takut melihat enam lukisan tersebut, seolah ngeri melihat kehadiran penampakan enam lukisan potretnya. Tapi sebagian dari kita yang lain justru teringat pada lukisan serial “The Scream” karya Edvard Munch (seniman asal Norwegia).

Empat karya Soceng
Foto: Aji (2022)

Kita perlu merujuk tulisan kritikus seni rupa Agus Dermawan T yang pernah membahas sekilas “The Scream” di buku “Sihir Rumah Ibu”: “…Lukisan ini diciptakan dalam bentuk serial, dan selama 100 tahun dinobatkan sebagai simbol utama psikologi rasa takut manusia. Dalam beberapa tahun belakangan, film-film Hollywood mengambil sosok dalam lukisan “Scream” sebagai inspirasi…”

Lukisan Edvard Munch, “The Scream,” 1893
Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Jeritan_(lukisan)

Latar belakang Edvard Munch juga memiliki kisah penuh darah, air mata, kesakitan, ketakutan, dan kematian. Ketika dia berumur 5 tahun, ibunya meninggal karena penyakit tuberkulosis (TBC). Kakaknya meninggal setelah baru menikah. Adik perempuan paling kecil menderita kelainan mental. Dia sendiri sejak kanak-kanak selalu sakit-sakitan.

Dalam sebuah pembicaraan di pameran seni “Berduel”, Soceng mengungkapkan semangat ketika melukis enam lukisan tersebut. Dia merasa hidupnya penuh pelarian dari segala masalah dan merasakan kenyataan dunia. Enam lukisan tersebut menjadi media untuk meluapkan segala ekspresinya.

Hasil Duel

T.G.X meminta kita untuk melihat duel antara Ariots dan Soceng. Kita tidak diwajibkan jadi juri untuk memilih siapa pemenangnya. Tapi rasanya kita datang ke pameran seni “Berduel” bukan melihat dua perupa saling mengalahkan satu sama lain. Toh, pendapat WS Rendra dalam Ignas Kleden: “…dalam ilmu surat tidak ada juara nomor satu.” Yang dapat kita sadur: “duel atau pertentangan dari dua seni (seni rupa) dalam satu waktu dan tempat tidak mungkin saling mengalahkan. Keduanya hadir dalam keunikan masing-masing, termasuk proses berikutnya.”**

 

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

 

 

Daftar Bacaan

Agus Dermawan T (2014), “Sihir Rumah Ibu”, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Sanento Yuliman (2001), “Dua Seni Rupa”, Jakarta: Kalam

Rendra, Ilmu Silat, Ilmu Surat karya Ignas Kleden (“Kompas”, 12 Agustus 2009) diakses di cabiklunik.blogspot.com