Jumat, 27/05/2022 | 01:04 WIB
Gresik Satu

Selamat Datang Kurikulum Merdeka

Oleh : Priyandono 

Tak terasa kebijakan merdeka belajar telah memasuki episode 15. Episode ini ditandai dengan peluncuran kurikulum merdeka dan platform merdeka mengajar oleh Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, Jumat (11/2).

Awalnya kurikulum ini namanya Kurikulum Paradigma Baru. Kemudian berubah menjadi Kurikulum Prototipe, lalu menjelma menjadi Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini sekarang sedang diujicobakan di 2.500 sekolah Penggerak di Indonesia.

Di Kabupaten Gresik pada tahun pelajaran 2021-2022 setidaknya ada 8 SMA yang sudah menggunakan Kurikulum Merdeka. Kedelapan sekolah tersebut antara lain; SMAN Balongpanggang, SMAN Dukun, SMAN Sidayu, SMAN Menganti, SMAN 1 Gresik, SMAS NU 1 Gresik, SMAS Muhammadiyah 1 Gresik, dan SMAS Assaadah Bungah. Pada sekolah tersebut sudah tidak ada lagi jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Dengan menerapkan Kurikulum Merdeka, murid bisa bebas memlih mata pelajaran yang diminatinya di dua tahun terakhir saat SMA

Setidaknya ada beberapa hal penting dalam Kurikulum Merdeka. Pertama, Kurikulum Merdeka dirancang lebih fleksibel. Artinya, guru diberikan ruang untuk mengelola pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik (teach at the right level). Sejauh ini disinyalir anak belum mendapatkan cukup ruang untuk mengeksplorasi kemampuan mereka, kesiapan belajar mereka, minat mereka, dan profil belajar mereka. Oleh sebab itu sudah sepatutnya guru menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan murid.

Kedua, fokus pada substansi materi. Artinya, materi nyang diajarkan adalah materi yang essensial dan memiliki makna yang mendasar. Bukan keluasan materi yang diperlukan, akan tetapi kedalaman materi. Dengan cara ini guru dan murid memiliki cukup waktu mendalami persolan literasi dan numerasi. Materi yang banyak dan luas hanya akan menjadi beban guru. Salah satu indikator keberhasilan guru diukur dari berapa persen materi yang telah diajarkan.

Ketiga, mendorong pembelajaran berbasis proyek. Kegiatan ini tidak lagi berbasis mata pelajaran. Bertujuan untuk pengembangan keterampilan nonteknis (soft skills) dan karakter Profil Pelajar Pancasila yaitu keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, gotong royong, kebinekaan global, kemandirian, nalar kritis, dan kreativitas.

Penumbuhan dan penguatan mental-karakter ini sangat penting tersebab persoalan yang dihadapi negeri ini adalah persoalan mental karakter. Persoalan cara berpikir. Saya jadi ingat yang disampaikan Emha Ainun Nadjib. Cak Nun, sapaan akrabnya mengatakan korupsi itu persoalan mental-karakter. Bukan masalah moral. Kalau masalah moral semua sudah pada paham. Semua baik baik saja. Koruptor itu kan sopan. Mereka baik kepada tetangganya dan anak istrinya. Jadi takmir masjid juga sering memberikan bantuan untuk masjid. Artinya, secara moral mereka itu baik-baik saja, tetapi mentalnya yang kurang ditata.

Di samping tiga hal di atas, Kurikulum Merdeka menetapkan jumlah jam pelajaran per tahun, bukan per minggu seperti yang selama ini berlaku pada Kurikululum 2013. Hal ini dimaksudkan agar sekolah memiliki kemerdekaan dalam mengemas strategi pembelajarannya.

Pada Kurikulum Merdeka, guru diberikan keleluasaan menggunakan perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik murid. Selain itu penerapan Kurikulum Merdeka akan dilengkapi aplikasi yang berisi referensi-referensi yang sangat bermanfaat bagi guru untuk mengembangkan praktik baik dan berbagi praktik baik mengajar. **

Penulis adalah, Pengawas Pembina Dispendik Provinsi Jatim