Minggu, 03/07/2022 | 18:36 WIB
Gresik Satu
Sastra

Semboyan Warung Kopi

Dia menerima secangkir kopi-kasar dari pelayan. Setelah meletakkannya di meja, dia melihat ampas kopi menyembul di permukaan cangkir. Dia paham untuk menyeruput secangkir kopi-kasar perlu usaha dahulu, antara lain: mengaduk kopi-kasardi cangkir, membuang ampas kopi ke tempat sampah, menuang air kopi dari cangkir ke lepek, menunggu air kopi yang panasjadi hangat, lalu menyeruput air kopi dari lepek.

Secangkir kopi-kasar
Foto: Aji (2022)

Kalau badan capek, dia menambahkan telur ayam kampung setengah matang di lepek berisi air kopi. Setelah menyeruputnya, dia merasa capek di badan akan berkurang. Atau, dia menyeruput kopi-kasar sambil menyantap gorengan di meja. Gorengan yang dibuat oleh pemilik warung kopi pada pukul tertentu. Atau, dia hanya menyeruput kopi-kasar sambil menonton pertandingan sepak bola di televisi.

Dia juga menikmati suasana warung kopi. Biasanya dia melihatbeberapa orang sedang berkumpul, berbincang, bermain, sertabersantai. Baginya, begitu hangat suasana warung kopi dengan aneka aktivitas tersebut. Dia menganggap bahwa warung kopi adalah ruang pertemuan bagi siapa saja. Ruang pertemuan yang begitu akrab dan rekat. Meski, dia datang sendiri dan tak mengenal orang-orang di warung kopi.

***

Di Gresik, kita menemukan beragam bentuk warung kopi.Seperti, warung kopi bersambung dengan rumah tinggal pemiliknya; warung kopi dengan beragam fasilitas (wifi, koran, televisi, radio, olahraga, panggung, dan sebagainya); atau warung kopi dengan penyajian secangkir kopi yang khas.Masing-masing warung kopi memiliki kisah sendiri. Dan kitadapat mengenal setiap nama warung kopi pada spanduk yang dipajang di interior atau eksterior.

Terkadang kita membaca semboyan selain nama warung kopipada spanduk. Semboyan perihal datang ke warung kopi; kenikmatan menyeruput secangkir kopi; atau makna secangkir kopi. Untuk terakhir yang tersebut (makna secangkir kopi), sayamenengok semboyan dari Kopi Saring Cak Shodi: “Sejuta Inspirasi dalam Secangkir Kopi”; serta semboyan dari Warkop Semar Kang Ambon: “Ngopi Ngolek Inspirasi” (baca: menyeruput secangkir kopi mencari inspirasi).

Kopi Saring Cak Shodi (kanan) dan Warkop Semar Kang Ambon (kiri)
Foto: Aji (2022)

Saya menelisik dua semboyan itu sama-sama menggunakan kata “inspirasi”. Kita membayangkan bahwa Kopi Saring Cak Shodi menyajikan secangkir kopi yang mengandung inspirasi; sedangkan kita dapat memburu inspirasi ketika menyeruput secangkir kopi dari Warkop Semar Kang Ambon. Jadi, secangkir kopi seolah sumur. Lalu, kita menimba air dari dalam sumur untuk menyirami kuncup inspirasi.

Kita juga membaca beragam semboyan lain. Sering pula kita membaca semboyan yang persuasif. Saya menengoknya pada dua warung kopi, yaitu: Bowo Warkop dan Warung Giras Joyo 99. Dua warung kopi tersebut sama-sama menggunakan semboyan “Cangkruk’an Sik Ben Ora Edan” (baca: duduk dulu biar tidak gila). Semboyan “Cangkruk’an Sik Ben Ora Edan”menyiratkan bahwa warung kopi tidak hanya sajian secangkirkopi belaka.

Bowo Warkop (kanan) dan Warung Giras Joyo 99 (kiri)
Foto: Aji (2022)

Sempat disinggung di paragraf ketiga, bahwa warung kopiadalah ruang pertemuan bagi siapa saja. Artinya, kita bisa datang ke warung kopi untuk keperluan apa saja, sepertirekreasi. Kita dapat melakukan rekreasi dengan cara tongkrong.Karena itu, semboyan “Cangkruk’an Sik Ben Ora Edan” memberi pesan kepada kita, yaitu: Tongkrong sejenak ketika stres mulai mengolengkan badan dan pikiran.

Tidak heran kita pernah mendengar pertanyaan berbahasa Jawa dari kawan karib, “wes ngopi durung?” (baca: sudah menyeruput secangkir kopi, belum?). Pertanyaan itu bisa kita anggap sebagai ajakan tongkrong ke warung kopi. Ketika tongkrong, kita menciptakan peristiwa lewat celoteh, gosip, sanjung, cengkerama, hingga diskusi. Suara-suara dalam peristiwa itu begitu egaliter karena tidak terikat pada ketegangan dan formalitas.

Barangkali kita tidak dapat memisahkan secangkir kopi dan tongkrong. Kehadirannya menjadi jeda kita untuk menepi sebelum kembali pada kegiatan yang memeras tenaga dan pikiran. Perihal jeda, saya menengok semboyan dari Warkop Ndeprok’s 99 Cak Bogie: “Ojok Sampek Kerjomu Nganggu Ngopimu” (baca: jangan sampai kerjamu ganggu menyeruput secangkir kopimu); serta semboyan dari Warkop Pak Breng: “Ojok Sampek Sibukmu Ganggu Ngopimu” (baca: jangan sampai kesibukanmu ganggu menyeruput secangkir kopimu).

Warkop Ndeprok’s 99 Cak Bogie (kanan) dan Warkop Pak Breng (kiri) Foto: Aji (2022)

Dua semboyan itu sama-sama menyatakan jangan lupa menyeruput secangkir kopi. Dua semboyan itu jugamemunculkan nasihat, bahwa kegiatan yang kita lakukan (pekerjaan atau kesibukan) jangan sampai menyita waktu. Sehingga, secara tidak langsung, dua semboyan itu menjadi pengingat kita agar seimbang menjalankan kehidupan. Misal, keseimbangan antara pekerjaan atau kesibukan denganistirahat.**

Catatan: Kolom Sastra GresikSatu diasuh oleh penyair dan penikmat seni rupa Aji Saiful Ramadhan yang tinggal di Gresik.

Full Day School